Bab 30
Richard Martin tidak bisa berkata-kata. Bibirnya bergetar hebat. Matanya menatap kosong ke arah lantai yang dipenuhi pecahan kaca, menyadari bahwa kerajaan bisnis yang ia bangun di atas penderitaan Erena baru saja diratakan dengan tanah hanya dengan satu kalimat dari pria arogan ini.
"Dan satu hal lagi," tambahku, melangkah maju dengan tetap menggenggam tangan Adrian. Aku menatap Richard dan Eleanor bergantian, meneteskan racun terakhir dari bibir merah darahku. "Jika aku melihat wajah kalian berada dalam radius satu kilometer dari mansion Vance... aku sendiri yang akan memastikan kalian berakhir lebih buruk dari sekadar bangkrut. Nikmati malam kalian, Nyonya dan Tuan Martin."
Tanpa menunggu balasan dari dua manusia yang nyaris pingsan itu, aku memutar tubuhku. Adrian menarikku perlahan, membimbing langkahku melewati pecahan kaca dan kerumunan tamu yang masih membeku dalam kebisuan.
Kami berjalan meninggalkan ballroom yang pengap itu. Kemenangan pertama telah diraih, namun adrenalin di dalam darahku masih berpacu liar.
Begitu pintu ganda ballroom tertutup di belakang kami dan kami memasuki lorong hotel yang sepi, Adrian tiba-tiba melepaskan tautan tangan kami.
Sebelum aku sempat bertanya, pria itu menarik pinggangku dengan kasar, memutar tubuhku, dan mendorongku hingga punggungku menabrak dinding pualam lorong yang dingin.
Napas Adrian memburu. Sarung tangan kulitnya yang tadi ia genggam di tangan kirinya kini jatuh ke lantai. Kedua tangannya yang telanjang mencengkeram rahang dan leherku dengan kekuatan yang posesif, namun ibu jarinya mengusap kulitku dengan kelembutan yang memabukkan. Ia tidak lagi peduli pada rasa mual atau panik akibat penyakit fobianya. Obsesinya padaku telah menelan habis akal sehatnya.
"Adrian..." bisikku terengah, menatap matanya yang segelap obsidian dan kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa lapar.
"Kau memejamkan mata," geram Adrian, suaranya parau dan bergetar hebat. Hawa panas tubuhnya mengurungku, aroma wiski dan pinusnya menginvasi paru-paruku. "Saat bajingan itu mengangkat tangannya, kau memejamkan mata, Hana. Tubuhmu gemetar karena pria rendahan itu."
"Itu... itu refleks Erena," cicitku, nyaris kehilangan suaraku di bawah dominasi tatapannya.
"Aku tidak peduli itu refleks siapa!" desis Adrian, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung kami bersentuhan. "Aku benci melihatmu terlihat rapuh di depan orang lain. Aku benci melihat ketakutan di matamu. Mulai detik ini, satu-satunya alasan tubuhmu boleh bergetar... adalah karena aku."
Batas kewarasan itu akhirnya putus.
Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, bibir Adrian menabrak bibirku.
Ciuman itu bukan ciuman yang lembut atau romantis. Itu adalah ciuman yang brutal, lapar, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang gelap. Bibirnya yang panas melumat bibirku dengan kehausan seorang pria yang telah berpuasa dari sentuhan seumur hidupnya. Aku terkesiap, dan ia memanfaatkan celah itu untuk memperdalam ciumannya, mengklaim setiap jengkal ruang di dalam mulutku, memabukkanku dengan rasa wiski dan dominasi absolut.
Tiga tulang rusukku berdenyut ngilu saat dadanya menekan dadaku, namun rasa sakit itu lenyap ditelan gairah yang membakar seluruh sarafku. Tanganku tanpa sadar naik, menyelusup ke dalam rambut gelapnya yang tertata rapi, menghancurkan tatanan itu seraya membalas ciumannya dengan intensitas yang sama liarnya. Sisi liarku sebagai Hana Rose Exric menjawab panggilan iblis di dalam dirinya.
Di lorong hotel yang sunyi, di bawah pendar lampu kristal yang temaram, sang raja kegelapan akhirnya menyentuh ratunya. Ciuman itu menjadi segel akhir dari fobianya; bahwa penyakitnya mungkin masih ada, tapi demi wanita ini... Adrian Vance rela tersiksa hingga mati, asalkan ia bisa terus merengkuhnya di dalam cengkeramannya yang mematikan.