Sejak pindah ke kontrakan baru, aku merasa ada yang aneh.
Setiap tanggal satu, semua penghuni sibuk bayar kontrakan.
Kecuali tetanggaku.
Seekor kucing oren.
Iya.
Kucing.
Namanya Oyen.
Yang lebih aneh lagi, ibu kos selalu berkata,
"Oyen udah bayar kemarin."
Aku cuma ketawa.
"Bu, itu kan kucing."
Ibu kos menatapku dengan serius.
"Makanya jangan suka menilai orang dari spesiesnya."
Aku mulai curiga.
Seminggu kemudian aku sengaja mengintip kamar Oyen.
Kosong.
Cuma ada kasur.
Mangkok makan.
Sama kipas angin.
"Ah... paling ibu kos lagi bercanda."
Malamnya jam dua.
Aku kebangun karena dengar suara motor.
Aku buka jendela.
Kulihat...
Oyen turun dari Honda Beat.
Masih pakai helm.
Helmnya dicopot.
Terus dia mengeluarkan dompet.
DOMPET.
Aku langsung cubit pipiku.
"Sial... mimpi."
Aku cubit lagi.
"Sakit."
Berarti bukan mimpi.
Besok paginya aku nekat mengikuti Oyen.
Dia masuk ke sebuah minimarket.
Aku mengintip dari balik rak mi instan.
Kasir bertanya,
"Mau bayar pakai QRIS atau tunai?"
Oyen mengeluarkan HP.
Nempel.
"Pembayaran berhasil."
Aku hampir pingsan.
Kucing.
Bayar pakai QRIS.
Indonesia sudah terlalu maju.
Aku memberanikan diri menghampiri.
"Permisi..."
Oyen menoleh.
"Miaw."
Aku membalas,
"...miaw?"
Dia menggeleng.
Lalu mengeluarkan HP lagi.
Mengetik sesuatu.
HP itu diarahkan ke wajahku.
Layarnya bertuliskan,
"Maaf, tenggorokan saya lagi serak."
Aku menatap langit.
Tuhan...
Aku sedang ngobrol sama kucing yang pakai fitur text-to-speech.
Kami akhirnya duduk di depan minimarket.
Aku bertanya,
"Sebenernya kamu kerja apa?"
Dia mengetik lagi.
"Debt Collector."
Aku ketawa.
"Hahaha."
"Lucu."
Dia memperlihatkan foto.
Seekor pitbull sedang menangis sambil menyerahkan tulang.
Aku berhenti ketawa.
"Anjir... serius?"
Oyen mengangguk bangga.
Lalu mengetik,
"Saya spesialis nagih utang ikan asin."
Aku tidak tahu pekerjaan itu ada.
Seminggu kemudian...
Aku telat bayar kontrakan.
Jam sembilan malam.
Terdengar ketukan di pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Kubuka.
Di depan pintu berdiri Oyen.
Masih pakai jaket hitam.
Membawa map.
Ia mengetik sesuatu.
"Selamat malam. Saya dari Divisi Penagihan."
Aku tertawa.
"Hahaha."
"Lucu."
Dia mengeluarkan mesin EDC.
Aku berhenti tertawa.
"Lah..."
Ia mengetik lagi.
"Bisa cicilan tiga kali."
Aku panik.
"Aku belum gajian."
Dia mengangguk.
Lalu mengetik lagi.
"Baik. Saya duduk di depan kamar sampai dibayar."
Tiga hari.
TIGA HARI.
Dia benar-benar duduk di depan kamarku.
Kalau aku keluar...
Dia mengikuti.
Kalau aku beli gorengan...
Dia mencatat.
Kalau aku ngopi...
Dia menghitung.
Aku akhirnya menyerah.
Kubayar kontrakan.
Dia langsung berdiri.
Membungkuk.
Lalu mengetik,
"Terima kasih atas kerja samanya."
Sebelum pergi, dia menoleh sebentar.
Lalu mengetik kalimat terakhir.
"Bulan depan jangan telat lagi."
"Saya sedang menabung buat beli NMAX."
Aku menatap punggungnya yang berjalan santai menuju parkiran.
Di sana...
Sudah terparkir Honda Beat miliknya.
Aku menghela napas.
Kadang...
Yang bikin hidup susah bukan inflasi.
Tapi ketika debt collector kontrakanmu...
Seekor kucing oren.
TAMAT 😹