Bab 28
Dengan keangkuhan aristokrat yang tak terbantahkan, pria itu berbalik menghadap pintu mobil yang terbuka. Ia sedikit membungkuk, lalu mengulurkan tangannya yang bersarung kulit ke dalam kabin yang gelap, menungguku.
Kerumunan wartawan seketika terdiam. Kamera-kamera seolah menahan napas. Semua orang tahu Adrian Vance adalah penderita fobia sentuhan ekstrem. Rumor tentang pernikahan paksa dan istri cacat mentalnya yang "disembunyikan" adalah rahasia umum. Tidak ada yang menduga ia akan membawa istrinya ke acara seperti ini.
Aku menatap uluran tangannya dari dalam kegelapan. Senyum miringku mengembang.
Dengan perlahan dan penuh keanggunan, aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya.
Langkah pertamaku menjejak karpet merah, diiringi oleh gaun sutra hitamku yang berdesir menyapu lantai. Begitu siluetku sepenuhnya keluar dari mobil dan tertimpa cahaya terang blitz kamera, keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh lobi luar hotel.
Wartawan, para tamu undangan di pintu masuk, bahkan para penjaga keamanan... semuanya membeku.
Ini bukan Erena Martin yang mereka gosipkan. Ini bukan gadis gila berwajah muram yang selalu menunduk ketakutan.
Wanita yang berdiri di samping Adrian Vance saat ini memancarkan aura kematian yang begitu indah. Daguku terangkat angkuh. Tatapan mataku yang dihiasi smokey eyes menyapu kerumunan dengan sorot dingin meremehkan, seolah mereka semua hanyalah serangga tak berharga di bawah sepatuku. Liontin rubi darah di dadaku memantulkan cahaya, menyilaukan mata siapa pun yang berani menatap terlalu lama.
Adrian tidak melepaskan tanganku. Alih-alih merangkulkan tanganku di sikunya seperti pasangan normal, pria itu justru menarik pinggangku posesif dengan lengannya yang kokoh, menempelkan sisi tubuhku ke dada bidangnya. Ia mengklaimku di hadapan dunia.
"Berjalanlah dengan anggun, Ratu-ku," bisik Adrian tepat di telingaku, suaranya hanya bisa didengar olehku di tengah jepretan kamera yang kembali meledak gila-gilaan. "Dunia sedang bersujud di bawah kakimu."
Kami berjalan menyusuri karpet merah. Tidak ada senyum palsu untuk kamera, tidak ada lambaian tangan. Hanya keangkuhan mutlak dari dua monster penguasa dunia gelap.
Begitu kami melangkah masuk ke dalam ballroom raksasa yang dihiasi lampu gantung kristal dan ornamen emas, alunan musik klasik yang sedang dimainkan oleh orkestra live terasa seperti lagu pengiring kematian. Ratusan tamu undangan elite dari kalangan atas kota ini berpaling menatap kami. Percakapan terhenti. Suara denting gelas sampanye membeku di udara.
Pandanganku menyapu seluruh ruangan bak radar yang mendeteksi target. Dan di sana... di dekat meja VIP utama, berdiri dua orang yang menjadi alasan mengapa tubuh ini hancur.
Richard Martin, ayah Erena. Pria paruh baya dengan perut sedikit membuncit dan senyum palsu yang memuakkan. Di sebelahnya berdiri Eleanor Martin, sang ibu tiri, mengenakan gaun berlebihan dengan perhiasan norak yang membebani lehernya.
Mata mereka berdua terbelalak lebar, nyaris melotot keluar dari rongganya saat melihatku berjalan masuk dalam pelukan Adrian. Gelas sampanye di tangan Eleanor tampak sedikit bergetar, menumpahkan sedikit cairan emasnya ke lantai. Mereka mengharapkan Adrian datang sendirian, atau paling buruk, membawa Erena yang akan memalukan keluarga Vance hingga menguntungkan posisi saham keluarga Martin.
Mereka sama sekali tidak siap menghadapi Ratu Iblis yang baru saja kembali dari neraka.
Aku merasakan lengan Adrian di pinggangku sedikit mengencang. Sengatan listrik gairahnya menyalurkan kekuatan murni ke dalam nadiku.
"Target terkunci, Tuan Vance," bisikku pelan, menyeringai sinis tanpa melepaskan pandanganku dari wajah pucat pasi Richard Martin.
"Maka hancurkan mereka, Hana," balas Adrian parau, menuntunku berjalan lurus menembus kerumunan yang terbelah seperti Laut Merah, menuju orang tua yang dulu membuang Erena layaknya sampah.
Pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai.