Bab 27
Hantu di Dalam Limosin dan Karpet Berdarah
Mesin Maybach hitam legam itu menderu halus, membelah jalanan malam kota yang diguyur rintik hujan sisa badai. Di dalam kabin penumpang yang kedap suara dan beraroma pinus serta kulit mewah, keheningan berkuasa mutlak.
Lampu jalanan yang berkelebat memantulkan cahaya keemasan ke dalam mobil, sesekali menerangi wajah Adrian yang duduk di sampingku. Pria itu menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, memancarkan aura predator yang sedang menuju medan perburuan.
Aku duduk bersandar pada jok kulit yang dingin. Secara fisik, aku tampak sempurna. Gaun hitamku jatuh memeluk lekuk tubuh, dan liontin rubi di dadaku berdenyut seolah memiliki detak jantungnya sendiri. Namun, di balik cangkang pualam ini, sebuah peperangan emosional sedang menghancurkan kewarasanku.
Semakin dekat jarak kami dengan hotel mewah tempat gala dinner itu diadakan, semakin beringas tubuh Erena ini memberontak.
Dadaku sesak luar biasa. Napasku memendek, dan jari-jemariku yang bertaut di atas pangkuan mulai bergetar hebat. Ini bukan sekadar rasa takut biasa; ini adalah trauma tingkat seluler. Memori-memori Erena yang selama ini terkunci perlahan merembes keluar, membanjiri kepalaku seperti kaset rusak yang diputar paksa.
‘Jangan menangis, anak cacat! Kau akan merusak riasan mahal ini!’
Suara lengkingan ibu tiri Erena, Eleanor Martin, bergema di kepalaku. Aku bisa merasakan—secara nyata—sensasi ngilu di lengan atasku, memori saat wanita iblis itu mencubit Erena diam-diam di dalam mobil setiap kali gadis malang itu gemetar ketakutan saat dibawa ke pesta. Aku bisa merasakan rasa pahit di pangkal lidahku, sisa ingatan dari obat penenang berdosis tinggi yang dicekokkan paksa ke mulut Erena agar ia terlihat "normal" dan patuh seperti anjing sirkus.
"Sial..." rintihku pelan, nyaris tak terdengar. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram kain gaunku hingga buku-buku jariku memutih.
Rasa sakit dan keputusasaan Erena yang tak pernah diselamatkan siapa pun meremas hatiku. Ia hanya seorang gadis kecil di dalam tubuh dewasa yang terus-menerus disiksa karena otaknya tidak bekerja seperti orang lain. Kepedihan ini begitu murni, begitu menyayat hati, membuat sisa-sisa air mata kembali mendesak di pelupuk mataku.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang kokoh menyelimuti punggung tanganku yang sedingin es.
Aku tersentak pelan dan membuka mata. Tangan besar Adrian, yang dibalut sarung tangan kulit hitam, telah menutupi tanganku yang bergetar.
Pria itu memutar tubuhnya sedikit untuk menghadapku. Di bawah temaram kabin mobil, mata obsidiannya tidak lagi memancarkan keangkuhan yang dingin, melainkan sebuah kilat kepedihan yang beresonansi dengan lukaku. Ia menyadari guncangan traumatis yang sedang kualami.
"Tubuh ini mengingat mereka," bisik Adrian rendah, suaranya mengalun seperti melodi selo yang menenangkan badai di kepalaku. Ibu jarinya yang terbalut kulit mengusap punggung tanganku dengan ritme lambat yang protektif.
"Dulu..." suaraku bergetar parau, mataku memerah menatapnya. Aku tidak lagi peduli pada ego mafiaku saat ini. Kepedihan Erena menuntut untuk disuarakan. "Setiap kali mereka membawanya ke acara seperti ini... mereka membiusnya. Mereka mengancam akan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama tikus jika ia berani meneteskan air mata. Erena sangat ketakutan, Adrian. Dia menangis dalam diam di kursi ini."
Rahang Adrian menegang seketika. Urat-urat di lehernya menonjol, dan kilat di matanya berubah menjadi amarah hitam yang luar biasa pekat. Ia membenci kenyataan bahwa ia baru mengetahui siksaan ini sekarang. Ia membenci dirinya sendiri karena dulu ia mengabaikan istrinya dan membiarkan wanita malang itu hancur perlahan.
Tanpa memedulikan batas fobianya yang masih sangat rentan, Adrian mengangkat tanganku yang bergetar. Ia menunduk, lalu menempelkan punggung tanganku ke dahinya yang panas.
"Gadis malang yang menangis di kursi ini sudah mati malam itu, Hana," geram Adrian dengan suara bariton yang bergetar menahan emosi. Napasnya yang hangat menerpa kulit jariku. "Dan wanita yang duduk di sampingku malam ini... adalah Ratu-ku. Ratu yang akan mencabut nyawa siapa pun yang pernah menyentuh sehelai saja rambutnya."
Adrian mengangkat kepalanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, mengikis jarak hingga wajah kami hanya terpisah beberapa inci.
"Tarik napasmu, monster kecil," bisik Adrian mematikan, tatapannya menyapu bibirku sebelum kembali mengunci mataku. "Gunakan amarahku. Pinjam kekuatanku. Jika kakimu gemetar, aku yang akan memeluk pinggangmu dan menyeretmu melewati mereka. Tapi jangan biarkan satu pun air mata keputusasaan jatuh untuk bajingan-bajingan itu. Kau mengerti?"
Kata-kata Adrian adalah sihir gelap yang menyedot habis seluruh ketakutan Erena.
Jantungku yang tadinya berdebar karena panik, kini berpacu liar karena gairah kelam yang pria ini ciptakan. Aku menarik napas panjang, menelan kembali memori pahit itu. Kepedihan di mataku membeku, digantikan oleh sorot mata tajam seorang Capo Bratva yang bersiap melakukan pembantaian.
"Aku mengerti," bisikku balik, menyeringai tipis. "Mereka tidak akan melihat air mata malam ini. Hanya akan ada darah."
Seringai mematikan terukir di wajah tampan Adrian. Ia melepaskan tanganku, namun tidak menjauhkan wajahnya. "Bagus."
Mobil perlahan berhenti. Pendar cahaya dari kilat kamera paparazzi menyambar-nyambar dari luar kaca jendela yang gelap. Kami telah tiba di depan pintu utama hotel Grand Luxe.
Supir pribadi Adrian membuka pintu di sisinya. Suara riuh reporter dan jeritan kamera langsung memenuhi udara. Adrian melangkah keluar lebih dulu. Sorakan para wartawan semakin menggila melihat kemunculan CEO Vance Corporation yang nyaris tak pernah menghadiri acara publik.
Namun, alih-alih langsung berjalan melewati karpet merah, Adrian berhenti.