Sebut saja namanya Sabrina. Gadis malang yang tidak menemukan rumah untuk bernaung. Dia lahir dalam rahim manusia. Tetapi pemilik rahim itu, enyah padanya. Sabrina memikirkan hal-hal kotor di dalam kepalanya. Dia sudah lelah.
Bahkan, jika untuk sekedar menangis. Rasanya dia sudah cukup melaksanakan itu hampir di sepanjang kehidupannya. Dia tidak tahu arahnya akan ke mana sekarang? Mentalnya rusak!
Sempat, dia pun tidak mempercayai Tuhan. Karena, lahir di dunia yang ramai ini. Dia merasa kosong, sunyi, asing, terbuang.
Jika pemimpin keluarga adalah cinta pertama. Itu berbeda dengannya. Sabrina, kerap mendapatkan cacian, makian, hinaan. Tidak ada warna yang diciptakan di dalam hidupnya!
Cemooh itu menghasilkan luka, luka yang terus menghantam dia menjadikan dia mati rasa. Kata dunia, kedua orang dewasa yang membawanya itu namanya orang tua. Kata orang dewasa, sebagaimana pun mereka, mereka tetap orang yang wajib dihormati.
Di mana kehormatan akan diletakkan, jika yang akan diberi itu, bahkan tidak memiliki sisi untuk dihormati? Naif!
Di depan batu nisan kini Sabrina melepaskan cengkraman tangannya dari sebuket bunga yang tadi dia bawa. Dia baru saja membelinya tadi. Untuk sekedar formalitas. Di depannya, telah berdiri sebuah makam baru. Sabrina menatap kosong ke arah makan itu. Tatapannya kosong, dia melamun.
"Sudah kubilang, untuk tidak melakukan hal itu!" katanya lirih.
Dia masih sangat ingat rasanya. Perihal teriakan terakhir dari seseorang yang kini ditimbun tepat di bawah gundukan tanah.
Dia tersenyum, mengingat bagaimana hujan darah membanjiri tubuhnya kala itu. Dia masih ingat, bagaimana sebilah pisau dia genggam begitu nikmat.
Dia masih ingat, bagaimana mata pisaunya saat itu mengarah, menusuk tepat ke arah jantung orang itu. Dia masih ingat, suara jantung yang dipaksa keluar dari dalam kulit seorang manusia.
Dia masih ingat suara detik detak jantungnya berdetak. Dia ingat, ketika tubuh manusia itu mulai kehilangan segenap kemampuannya untuk sekedar memapah dirinya sendiri.
"Ini salahmu!" kata Sabrina lagi, beberapa hari sebelumnya dia memantau orang itu.
Lelaki yang bodoh membiarkan anak perempuannya mati kelaparan. Lelaki yang menampar seorang anak perempuan, berusia sepuluh tahun.
Lelaki yang membuat anak berusia sepuluh tahun itu pada akhirnya berakhir tepat di ICU.
Saat itu, Sabrina menemukan sebuah kertas yang jatuh ketika tubuh anak kecil itu baru saja keluar dari dalam ambulance.
Kertas itu dia buka, dia melihat bagaimana coretan hasil dari seluruh perasaan yang ingin anak perempuan itu lakukan selama ini.
Anak itu mungkin pribadi pendiam, pribadi menerima, hingga tak mampu rasanya melakukan segala hal yang dia tulis di dalam kertas itu.
Sabrina memungutnya, dia tersenyum lalu mengepalkan kedua tangannya. Sabrina berkata,
"Tenang saja, akan aku buat dia menyesalinya! Aku dan Aletta akan berganti tubuh, dia akan memenuhi permintaanmu, nona kecil." kata Sabrina. Tekadnya sangat kuat hingga memanggil namanya Aletta. Dia adalah alter egonya Sabrina.
Pribadi ganda miliknya ini, adalah sisi psikonya. Sisi psikopat yang bakalan muncul tiap kali Sabrina terluka.
Sosok itu akan dipanggil berulang kali, untuk membunuhi jiwa-jiwa bangsat yang menghancurkan, kepingan hati anak-anak perempuan.