Bab 26
Perlahan, jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit menyapu menyingkirkan rambut panjangku ke salah satu sisi bahu. Sentuhan ujung kulit sarung tangannya di tengkukku membuat seluruh bulu romaku berdiri. Adrian mengalungkan perhiasan dingin itu ke leherku.
Liontin merah rubi itu jatuh tepat di atas belahan dadaku, secara sempurna menutupi sisa memar kebiruan di tulang selangkaku yang sempat kucemaskan. Ia tidak hanya memberiku perhiasan, ia memberiku perisai untuk menutupi kelemahanku.
Saat ia mengunci pengait kalung itu di tengkukku, Adrian tidak segera menarik tangannya.
Ia menundukkan wajahnya. Melalui cermin, aku bisa melihat matanya yang terpejam rapat saat hidungnya menyusuri lekuk leherku dari belakang, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam seolah aku adalah candu yang mengobrak-abrik akal sehatnya. Embusan napas panasnya yang berderak menerpa kulit punggungku yang terbuka, mengirimkan sengatan listrik yang membuat perutku melilit hebat.
"Kau indah, Hana Rose," geramnya berbisik di telingaku, setiap suku katanya adalah janji yang mematikan. Suaranya serak oleh gairah yang tertahan keras. "Sangat indah hingga membuatku ingin membunuh siapa pun yang berani menatapmu lebih dari tiga detik malam ini."
Tubuhku gemetar, bukan karena trauma, melainkan karena getaran gairah yang menjawab dominasinya. Sisa jiwa Erena dan insting liar Hana melebur sepenuhnya, terbakar oleh api obsesi pria ini. Aku mendongakkan kepalaku sedikit, memberikan akses lebih pada leherku, menantang kendalinya.
"Maka pastikan kau tidak melepaskan pandanganmu dariku, Tuan Vance," desisku parau, menatap manik obsidiannya yang kini memerah melalui cermin. "Karena malam ini, boneka cacat ini akan memutus benang-benangnya, dan keluarga Martin akan menjadi panggung pertumpahan darah pertamaku."
Adrian menyeringai. Sebuah seringai iblis yang sangat kejam dan memesona. Pria itu menegakkan tubuhnya, merapikan lengan jasnya, lalu mengulurkan lengannya ke arahku.
"Mari kita mulai pertunjukannya, Ratu-ku."
Aku menyambut lengannya, mengaitkan tanganku pada lipatan sikunya. Dua monster dengan topeng pualam telah siap. Dan keluarga Martin, sama sekali tidak menyadari bahwa malam perayaan mereka akan menjadi malam di mana malaikat maut dengan gaun hitam datang mengetuk pintu.