Bab 25
[Tiga Hari Kemudian - Malam Gala Keluarga Martin]
Waktu bergulir membawa ketegangan yang semakin pekat. Selama tiga hari terakhir, mansion Vance sibuk bersiap. Adrian menepati janjinya. Ia memanjakanku dengan fasilitas setara ratu, namun di saat yang sama, ia memastikan aku menggunakan seluruh sumber daya itu untuk mengasah kembali taringku yang tumpul.
Malam ini adalah malam pembuktian.
Aku berdiri di depan cermin besar (standing mirror) berbingkai emas di tengah kamarku. Puluhan pelayan wanita dan penata rias profesional yang disewa khusus oleh Adrian baru saja menyelesaikan tugas mereka dan undur diri dari ruangan, menyisakan aku sendirian dengan pantulan diriku yang nyaris tak kukenali.
Boneka Erena yang pucat dan menyedihkan telah lenyap.
Di dalam cermin, berdiri seorang wanita yang memancarkan aura kematian sekaligus daya pikat yang mematikan. Aku mengenakan gaun malam haute couture berwarna hitam pekat (midnight black) yang dirancang khusus memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna. Gaun sutra itu memiliki belahan dada rendah berbentuk V yang tajam, sementara punggungnya terbuka sepenuhnya (backless), memamerkan kulit pualamku yang dingin.
Kecantikan klasik Erena yang biasanya terlihat rapuh, kini dipertajam dengan riasan bold. Mataku dirias dengan gaya smokey eyes yang tajam, mempertegas sorot mata mafiaku yang menusuk, sementara bibir mungilku dipoles dengan lipstik berwarna merah darah (blood red). Rambut hitam panjangku dibiarkan tergerai dengan gelombang besar yang elegan, menyembunyikan sebagian memar pudar di pelipisku.
Aku terlihat seperti mawar hitam berduri beracun. Indah, namun mematikan bagi siapa pun yang berani menyentuhnya.
Namun, ada satu hal yang mengganggu. Memar kebiruan di tulang selangka dan sedikit di bagian dadaku—sisa luka dari kejatuhanku—masih mengintip samar di balik belahan gaun ini, meski sudah ditutupi dengan concealer tebal.
Tepat saat aku menatap pantulan memar itu, pintu kamar terbuka.
Melalui cermin, mataku menangkap presensi Adrian Vance. Pria itu melangkah masuk dengan setelan tuksedo tiga potong hitam legam yang dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu. Sepasang sarung tangan kulit hitam andalannya membungkus jemarinya. Ia terlihat begitu berkuasa, angkuh, dan luar biasa tampan hingga mampu membuat wanita mana pun rela berlutut.
Namun, langkah panjang Adrian seketika terhenti di tengah ruangan.
Mata obsidiannya terpaku pada sosokku. Udara di sekelilingnya seolah membeku. Selama beberapa detik, sang CEO berdarah dingin itu kehilangan kata-katanya. Tatapannya menjelajahi setiap jengkal tubuhku—dari ujung gaun hitam yang menyapu lantai, lekuk pinggangku, hingga wajahku yang kini memancarkan aura dominasi seorang ratu Bratva.
Jakun Adrian bergerak naik-turun menelan ludah. Hawa gairah yang sangat kelam dan posesif seketika menguar darinya, membakar jarak di antara kami.
"Jika tujuanku malam ini adalah menghancurkan keluarga Martin..." suara bariton Adrian memecah keheningan, mengalun serak dan luar biasa berat, "...maka aku mungkin harus membatalkan niat itu. Karena melihatmu berdandan seperti ini, insting pertamaku adalah mengunci pintu kamar ini, merobek gaun mahal itu, dan menyembunyikanmu dari pandangan dunia luar."
Aku memutar tubuhku perlahan, menghadapnya secara langsung. Bibir merah darahku melengkung membentuk seringai miring yang menantang.
"Kau mulai terdengar posesif, Suamiku," godaku pelan, suaraku rendah dan menggoda. "Kupikir kau sudah tidak sabar melihatku memenggal kepala musuh-musuh kita?"
Adrian mendengus geli, tawa kelam yang menggetarkan dadanya. Pria itu kembali melangkah mendekat, auranya memancarkan bahaya yang memabukkan. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak beludru pipih berwarna hitam pekat.
Ia berhenti tepat satu langkah di hadapanku. Jarak kami begitu dekat, membiarkan aroma wiski dan pinusnya memeluk tubuhku.
"Keduanya tidak saling mengeksklusifkan, Istriku," bisiknya, matanya yang kelam menatap langsung ke dalam mataku. "Aku ingin melihatmu meratakan dunia mereka. Tapi aku juga ingin dunia tahu bahwa iblis yang akan menghancurkan mereka ini... adalah milikku."
Dengan gerakan elegan, Adrian membuka kotak beludru di tangannya.
Napas terkesiap tertahan di tenggorokanku. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah kalung berlian hitam murni bernilai jutaan dolar. Batu-batu berlian hitam itu dirangkai di atas emas putih, dengan satu liontin besar berbentuk tetesan air mata berwarna merah rubi di tengahnya—seperti setetes darah segar yang jatuh di atas malam yang gelap. Perhiasan itu berteriak akan kekuasaan absolut.
"Berbaliklah," titah Adrian rendah.
Tanpa membantah, aku memutar tubuhku, memunggunginya, menatap pantulan kami berdua di dalam cermin. Jantungku berdetak semakin cepat saat aku merasakan hawa panas tubuh Adrian mengurungku dari belakang.