Bab 24
Sensasi panas yang luar biasa menyengat seketika meledak di titik temu kami. Jari telunjuk dan jari tengah Adrian mendarat tepat di atas telapak tanganku, tepat di atas bekas luka jahitanku.
Napas Adrian tercekat hebat. Tubuhnya tersentak ke belakang, namun ia memaksa kakinya untuk tetap berpijak. Kepalanya tertunduk, matanya membelalak menatap penyatuan tangan kami seolah itu adalah mukjizat sekaligus kutukan. Ia terengah-engah rakus mencari udara.
Aku terpaku. Sentuhannya bergetar hebat, namun anehnya terasa sangat protektif. Pria ini tidak menyentuh punggung tanganku atau jari-jariku, ia secara spesifik menyentuh bagian yang paling hancur dariku—lukaku.
"S-sakit...?" tanya Adrian terbata, suaranya nyaris seperti rintihan. Fokusnya bukan pada rasa mual dan serangan paniknya, melainkan pada luka jahitanku. Ia takut sentuhan kasarnya menyakitiku.
Air mataku lolos begitu saja. Kepedihan dan kehangatan yang meluap-luap menghancurkan seluruh benteng egoku. Pria arogan yang menganggap dunia ini kotor, rela menahan serangan panik yang menyiksa otaknya demi mengusap lukaku.
"Tidak," bisikku parau, menangis dalam keheningan pagi. Tanpa ragu, aku memutar pergelangan tanganku dan membalas genggamannya. Aku menyelipkan jari-jariku di sela-sela jari telanjangnya, menautkan tangan kami erat-erat. Kulit bertemu kulit.
Adrian mengerang tertahan. Rasa mual akibat fobianya bertabrakan dengan euforia luar biasa karena gairah dan keintiman yang menyengat sarafnya. Ia meremas tanganku kuat-kuat, mengangkat tautan tangan kami, lalu menempelkannya di dada kirinya, tepat di atas jantungnya yang berdetak sebrutal badai.
Ia mendongak, menatapku dengan mata kelam yang memerah, basah oleh keringat perjuangan. Jarak kami begitu dekat. Aroma wiski dan napasnya yang berat menerpa wajahku.
"Lihat aku, Hana," bisiknya mematikan, suaranya menggetarkan kewarasanku. "Lihat bagaimana monster ini bertekuk lutut karena sisa kewarasannya telah direbut olehmu. Aku bertahan. Demi Tuhan, aku bisa merasakanmu."
"Kau pria yang gila, Adrian Vance," isakku pelan, sebuah senyum haru tersungging di bibirku yang gemetar.
"Ya. Dan kegilaanku ini... hanya untukmu," balasnya serak.
Ibu jari telanjangnya mengusap punggung tanganku dengan lembut. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Adrian Vance menahan sentuhan manusia selama lebih dari sepuluh detik tanpa melepaskannya. Itu adalah kemenangan kecil yang luar biasa emosional, sebuah langkah awal yang akan menyeret kami berdua semakin dalam ke pusaran obsesi kelam yang tak bisa lagi dihentikan.
Dan akhir pekan nanti, dunia akan melihat, bahwa sang CEO dingin tak tersentuh ini, telah menemukan ratu kegelapannya.
Runtuhnya Sang Dewa dan Gaun Hitam Sang Ratu
Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh.
Sepuluh detik yang terasa bagai keabadian. Sepuluh detik di mana alam semesta seolah berhenti berputar, hanya menyisakan tautan jemari kami yang saling mengunci erat di atas dada kiri Adrian. Kulitku yang dingin bertemu dengan kulitnya yang terbakar oleh kepanikan.
Namun, batas fisik manusia memiliki ambang toleransi yang tak bisa dilawan hanya dengan tekad semata.
Pada detik kesebelas, pertahanan tubuh Adrian hancur lebur.
Pria itu tersentak keras seolah baru saja tersambar petir. Genggamannya terlepas secara paksa. Ia terhuyung mundur dengan kasar, menabrak meja rias di belakangnya hingga beberapa botol parfum kristal jatuh berserakan menghantam lantai.
"Ukh... haah..."
Adrian mencengkeram ujung meja marmer dengan tangannya yang telanjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Napasnya terdengar sangat mengerikan—kasar, putus-putus, dan bergetar hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya, menetes membasahi kerah kemejanya. Otot punggungnya yang tebal di balik jas arang itu menegang kaku sekeras baja. Ia sedang berjuang mati-matian menahan rasa mual yang luar biasa, memejamkan matanya rapat-rapat seolah sedang mengusir halusinasi ribuan serangga yang menggerogoti saraf di bawah kulitnya.
Ini adalah sisi paling gelap dari penyakit haphephobia. Sebuah siksaan mental yang bermanifestasi menjadi rasa sakit fisik yang nyata.
Melihat penguasa dunia bisnis yang selalu tampil sempurna itu kini nyaris pingsan hanya karena menyentuh tanganku, hatiku hancur. Bukan karena kasihan, melainkan sebuah kepedihan murni yang merobek cangkang mafiaku.
Aku tidak peduli pada tulang rusukku yang berdenyut ngilu. Mengabaikan pecahan botol parfum di lantai, aku melangkah cepat menghampirinya. Aku tahu aku tidak boleh menyentuhnya sekarang, fobianya sedang berada di puncak. Sebagai gantinya, aku meraih sapu tangan sutra dari dalam laci meja riasku.
"Adrian... bernapaslah bersamaku," bisikku dengan suara yang luar biasa lembut, suara yang tidak pernah kugunakan bahkan di kehidupan lamaku.
Aku berdiri di sampingnya, menggunakan sapu tangan sutra itu sebagai pembatas untuk menyeka keringat dingin di dahi dan pelipisnya. Gerakanku sangat perlahan, berhati-hati agar tidak ada sedikit pun kulitku yang tak sengaja menyapu kulitnya.
Pria itu mendongak. Matanya yang biasanya setajam elang pemangsa kini memerah dan dipenuhi urat-urat kelelahan. Namun, di balik lautan keputusasaan itu, ia menatapku dengan sebuah pendar kemenangan yang menyayat hati.
"Sepuluh... detik..." napasnya tersengal, suaranya parau dan nyaris hilang ditiup angin. Bibirnya yang pucat memaksakan sebuah lengkungan tipis. "Aku berhasil menahanmu... selama sepuluh detik, Hana."
Pertahananku runtuh. Air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya jatuh berderai membasahi pipiku. Pria bodoh. Pria arogan yang luar biasa bodoh. Ia nyaris kehilangan kewarasannya, paru-parunya seakan menolak oksigen, tapi yang ia pedulikan hanyalah fakta bahwa ia berhasil menyentuh lukaku.
"Kau berhasil. Kau luar biasa, Adrian," isakku pelan, tanganku yang memegang sapu tangan gemetar saat mengusap rahangnya. "Tapi kumohon... cukup untuk hari ini. Jangan siksa dirimu lagi. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."
Mendengar kalimat penenangku, sisa-sisa ketegangan di tubuh Adrian perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah, membiarkan dahinya bersandar lemas pada bahuku—memastikan jas tebalnya menjadi penghalang di antara kami.
Di dalam kamar yang diterangi sinar matahari pagi itu, aku memeluk kepala sang penguasa yang sedang rapuh, membiarkan tubuh Erena yang lemah ini menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi iblis yang paling ditakuti di kota ini.
Dua jiwa yang hancur. Saling merawat luka dalam keheningan yang memekakkan telinga.