Bab 24
Undangan Tembaga dan Terapi di Atas Luka
Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai beludru kamarku terasa seperti sebuah ironi. Terlalu terang, terlalu hangat, sangat kontras dengan kegelapan yang baru saja kami sepakati semalam di ruang kerja beraroma wiski dan pinus itu.
Aku berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan hamparan taman belakang mansion Vance. Hujan badai semalam telah menyisakan embun di ujung dedaunan dan aroma tanah basah yang menyeruak masuk melalui celah ventilasi.
Dengan balutan gaun tidur sutra panjang yang membungkus tubuh ringkih ini, aku menyilangkan lengan di depan dada, menahan denyut nyeri dari tulang rusukku. Pikiranku melayang jauh, menyeberangi kota, menuju sebuah pemakaman elit di mana nisan bertuliskan Hana Rose Exric kini berdiri tegak.
Sebuah senyum getir yang menyayat hati terukir di bibirku.
‘Berapa lama ibuku akan menangis di sana hari ini? Berapa lama ayahku akan mengunci diri di ruang kerjanya karena gagal melindungi putri semata wayangnya?’
Kepedihan itu meremas paru-paruku. Di kehidupanku sebelumnya, aku adalah monster bagi musuh-musuhku, tapi bagi kedua orang tuaku, aku adalah semesta mereka. Dan Dmitri—bajingan pengkhianat itu—telah menghancurkan semesta mereka dengan menggunakan tangan ibuku sendiri.
Lalu, seolah kesedihanku sendiri belum cukup, sisa-sisa jiwa Erena di dalam tubuh ini ikut bereaksi. Setiap kali aku memikirkan tentang keluarga, tubuh ini tanpa sadar bergetar. Erena juga merindukan keluarga. Ia merindukan pelukan seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan, dan kasih sayang seorang ayah yang justru memberinya tamparan demi tamparan hingga otaknya nyaris hancur.
Dua jiwa yang meratapi kata 'keluarga', terjebak dalam satu cangkang rapuh yang sama. Sempurna.
Cklek.
Suara kenop pintu yang diputar membuyarkan lamunanku. Aku segera menghapus setitik air mata di sudut mataku dengan punggung tangan, menegakkan dagu, dan memasang kembali topeng pualamku yang tak tertembus. Aku memutar tubuhku perlahan.
Adrian Vance melangkah masuk.
Pria itu tampak seolah tidak pernah mengalami pergolakan batin yang nyaris menghancurkan kewarasannya semalam. Ia berdiri dengan keangkuhan seorang dewa Yunani dalam balutan setelan jas Bespoke berwarna arang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, rahangnya tegas tanpa cela, dan sepasang sarung tangan kulit hitam kesayangannya kembali membungkus jemarinya yang panjang.
Matanya yang segelap obsidian langsung mengunci pandanganku. Ia tidak mengatakan selamat pagi. Pria ini tidak mengenal basa-basi.
Adrian berjalan mendekat, langkah sepatu pantofelnya berketuk konstan di atas lantai marmer, sebelum akhirnya berhenti di samping ranjang. Dengan gerakan santai namun penuh perhitungan, ia melempar sebuah amplop hitam tebal berstempel tembaga menyala ke atas kasur putihku.
"Keluarga Martin," suara bariton Adrian memecah keheningan pagi, rendah dan sedingin baja. "Mereka mengadakan malam gala dinner amal akhir pekan ini untuk merayakan ekspansi perusahaan farmasi mereka. Secara kebetulan, aku—suami dari putri kesayangan mereka yang 'sakit'—adalah pemegang saham terbesar kedua."
Mendengar nama keluarga Martin disebut, sebuah sensasi dingin yang menyakitkan tiba-tiba menjalar dari pangkal leher hingga ke ujung kaki Erena. Ini bukan rasa takutku. Ini adalah respons trauma bawah sadar Erena. Jantungku seketika berdebar tak karuan, napasku memendek, dan lututku terasa lemas.
‘Tidak, jangan sekarang. Kendalikan tubuhmu, sialan!’ rutukku dalam hati, mencengkeram ambang jendela kuat-kuat untuk menahan tubuhku agar tidak limbung.
Adrian, dengan ketajamannya yang luar biasa, menyadari perubahan drastisku. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aroma maskulinnya yang khas menginvasi indra penciumanku, menenangkan sedikit kepanikan di dadaku.
"Tubuhmu bergetar, Hana," bisiknya tajam. Matanya memicing, menelusuri wajahku yang mendadak lebih pucat dari biasanya. "Kau adalah seorang ratu mafia. Tapi tubuh yang kau tempati ini masih memiliki memori tentang siksaan mereka. Kau takut?"
Aku mendongak, menatapnya dengan kilat mata yang berkobar meski tubuhku gemetar. "Aku tidak pernah takut," desisku menahan napas. "Tubuh ini... tubuh ini mengingat bagaimana ayah tirinya mencambuk punggungnya dengan ikat pinggang. Ia mengingat bagaimana ibu tirinya mengurungnya di ruang bawah tanah selama tiga hari tanpa air minum. Erena mungkin takut. Tapi aku tidak."
Penjelasan parau itu membuat rahang Adrian mengeras kaku. Kilat amarah yang luar biasa gelap meledak di dalam manik obsidiannya. Mendengar penderitaan fisik istrinya—meski ia tahu jiwa di dalamnya kini telah berbeda—memicu insting posesif dan kekejaman yang selama ini tertidur di dalam diri sang CEO berdarah dingin.
"Maka biarkan ini menjadi panggung pertamamu, Istriku," geram Adrian tertahan. Ia mengangkat amplop hitam itu dan menyodorkannya ke depan dadaku. "Gunakan aku. Gunakan kekuasaanku. Kita akan datang ke gala itu, dan kau akan menunjukkan pada keluarga berengsek itu bahwa boneka cacat yang mereka buang, kini kembali sebagai algojo mereka."
Aku menatap amplop hitam itu, lalu beralih menatap mata Adrian. Senyum miring yang perlahan terbentuk di bibirku adalah seringai murni milik seorang Capo Bratva. Insting pembunuhku kembali menyala, membakar habis rasa takut Erena. Aku mengambil amplop itu dari tangannya.
"Kau pria yang kejam, Tuan Vance. Kau tahu persis bagaimana cara menyenangkan hati seorang wanita," balasku dengan nada sarkas yang menggoda.
Adrian terkekeh pelan, tawa yang berat dan bergetar di udara, menyapu sisa-sisa ketegangan. Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Sorot matanya seketika berubah. Lebih gelap. Lebih lapar. Lebih menuntut.
"Aku sudah memberimu mangsa pertamamu," ucap Adrian serak, melangkah satu inci lebih dekat hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan ujung jari kakiku yang telanjang. "Sekarang, waktunya kau membayar bagian dari kesepakatan kita semalam. Terapi sentuhan."
Udara di sekeliling kami seolah tersedot habis. Mataku sedikit melebar. Aku tahu ia tidak main-main dengan janjinya untuk sembuh, tapi aku tidak menyangka ia akan menagihnya secepat ini.
"Sekarang?" bisikku, tanpa sadar menyandarkan punggungku ke kaca jendela yang dingin, karena hawa panas dari tubuhnya terasa membakar jarak di antara kami.
"Setiap detik yang terbuang adalah siksaan bagiku, Hana," jawab Adrian.
Tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari mataku, Adrian mengangkat tangan kanannya. Dengan perlahan, sengaja memperlambat gerakannya untuk membangun ketegangan yang menyiksa, jemari tangan kirinya menarik ujung sarung tangan kulit di tangan kanannya.
Srett...
Bunyi gesekan kulit itu terdengar sangat keras di telingaku. Ia melepaskan sarung tangannya dan membiarkannya jatuh begitu saja ke atas lantai marmer.
Tangan kanannya kini telanjang. Kulitnya sedikit pucat karena terlalu sering tertutup, namun urat-urat maskulinnya tercetak jelas, kuat, dan luar biasa kokoh. Napas pria itu mulai memberat. Dadanya naik-turun dengan cepat. Alam bawah sadarnya kembali membunyikan alarm peringatan, tapi kali ini ia menatap tangannya sendiri dengan tekad baja.
"Ulurkan tanganmu," titahnya parau.
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar sangat kencang, nyaris melompat dari rongga dadaku. Perlahan, aku mengulurkan tangan kananku—tangan yang telapaknya masih dihiasi bekas luka jahitan merah memanjang akibat pecahan vas tempo hari.
Melihat bekas luka yang belum sepenuhnya kering itu, sorot mata Adrian melembut, menyiratkan sebuah kepedihan yang tak terucap. Pria yang tak pernah mengasihani siapa pun ini, nyaris kehilangan kewarasannya melihat luka kecil di tanganku.
Dengan napas yang tertahan dan otot rahang yang berkedut menahan gejolak fobianya, Adrian perlahan mengarahkan tangannya yang telanjang ke tanganku. Gerakannya terputus-putus. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya.
"Adrian, kau tidak harus memaksakan diri..." bisikku cemas, melihat bagaimana seluruh tubuhnya menegang keras seperti papan.
"Diamlah," geramnya tertahan, matanya terpejam sejenak, melawan rasa mual yang mengocok perutnya. "Aku akan... melakukannya."
Satu milimeter. Dan kulit kami bersentuhan.
Deg.