Bab 23
"Kau menyelamatkanku dari serangan panikku dengan menolak ciuman itu," bisiknya parau, menyadari alasanku memalingkan wajah tadi.
"Aku menyelamatkanmu karena aku butuh rekan kerja yang waras, bukan rekan kerja yang pingsan di ruang kerjanya sendiri," jawabku dengan senyum miring yang sinis, mencoba mencairkan ketegangan yang menyesakkan ini melalui sarkasme. "Lagi pula, bibir seorang pemimpin mafia tidak bisa didapatkan dengan semudah itu, Tuan Vance."
Sebuah dengusan geli yang sangat pelan—sebuah tawa langka—lolos dari bibir Adrian. Ketegangan fisik yang menyiksanya berangsur-angsur mereda, digantikan oleh gairah gelap yang kembali menyala, namun kali ini lebih terkendali.
"Pemimpin mafia, hm?" gumamnya, menarik tubuhku selangkah lebih dekat dengan lembut. "Jadi, tebakanku benar. Kau bukan hanya sekadar wanita yang penuh rahasia. Kau adalah ratu dari dunia bawah tanah."
Aku menatapnya dengan dagu terangkat. "Hana Rose Exric. Itu namaku sebelum aku terjebak di tubuh istrimu."
Mata Adrian sedikit melebar saat mendengar nama itu. Tentu saja dia tahu. Keluarga Exric adalah salah satu raksasa bisnis, dan rumor tentang afiliasi mereka dengan Bratva bukanlah hal baru di telinga penguasa dunia hitam sekelas Adrian Vance. Kematian mendadak putri tunggal Exric minggu lalu adalah berita utama di seluruh negara.
"Luar biasa," bisik Adrian dengan nada penuh kekaguman yang berbahaya. Seringai kejam terukir di wajah tampannya. "Dunia terang menangisi kematian seorang putri yang manis, tanpa tahu bahwa yang mati adalah seorang iblis yang sedang beristirahat. Pantas saja kau bisa mematahkan pergelangan tangan Martha tanpa berkedip."
Adrian mencondongkan wajahnya ke depan, hingga dahinya bersandar pelan pada dahiku. Kedekatan ini jauh lebih bisa ditoleransi oleh fobianya, dan keintiman yang tercipta terasa begitu menyesakkan dada.
"Dmitri," ucapku pelan, menyebutkan nama pengkhianat itu dengan nada sedingin es di kutub utara. "Tangan kananku. Dia yang meracuniku dan merebut posisiku. Dan ada keluarga Martin... yang membuang tubuh ini seolah ia bukan manusia."
"Dmitri dan Martin," ulang Adrian layaknya sebuah mantra mematikan. Ibu jarinya yang terbalut kulit mengusap pelan punggung tanganku yang masih berada di dadanya. "Dua target. Dua kerajaan yang akan kita runtuhkan."
"Kau benar-benar akan membantuku?" tanyaku, masih mencari setitik keraguan di matanya. "Mereka bukan lawan yang ringan. Bratva bisa menghancurkan bisnis legalmu."
"Aku sudah bosan menjadi CEO yang taat hukum, Hana," bisik Adrian. Untuk pertama kalinya, ia memanggil nama asliku. Dan mendengar namaku meluncur dari bibirnya dengan suara bariton yang serak itu, mengirimkan desiran panas hingga ke ujung jari kakiku.
"Mulai malam ini," Adrian melanjutkan, tatapannya menyapu bibirku sekali lagi dengan rasa lapar yang tak terbendung, "ruang kerjaku, informanku, dan uangku adalah milikmu. Balaskan dendammu pada Bratva. Dan sebagai gantinya..."
"Sebagai gantinya?" potongku, menaikkan sebelah alis.
Senyum Adrian melebar, gelap dan penuh dengan janji dosa. "Sebagai gantinya, bantu aku menghancurkan tembok sialan di kepalaku ini. Biarkan aku menyentuhmu. Latih tubuhku. Karena demi Tuhan, Istriku... pada hari aku sembuh dari kutukan ini, hal pertama yang akan kulakukan adalah merobek gaun sutramu dan membuktikan bahwa ciuman yang tertunda malam ini adalah kesalahan terbesarmu."
Tubuhku meremang. Jantungku berdetak brutal menanggapi deklarasi posesif nan mesum itu. Wajahku memanas, memicu rona merah yang sangat kontras dengan kulit pucat Erena.
Aku menyeringai, membalas tatapan buasnya dengan keangkuhan seorang ratu.
"Tantangan diterima, Tuan Vance. Kita lihat, siapa yang akan memohon lebih dulu di antara kita."
Di bawah sinar rembulan dan di atas pecahan kaca kristal, sebuah sumpah kelam telah terikat. Pernikahan palsu ini baru saja bertransformasi menjadi aliansi paling mematikan yang pernah diciptakan oleh takdir. Dua jiwa pendosa yang siap membakar dunia, sembari terbakar dalam api gairah mereka sendiri.