Bab 22
Ciuman yang Tertunda dan Sumpah di Atas Marmer
Udara di dalam ruang kerja itu seakan menguap tanpa sisa, digantikan oleh karbon dioksida yang beracun dan memabukkan.
Satu milimeter. Hanya itu jarak yang memisahkan bibirku dengan bibir Adrian Vance.
Embusan napas pria itu yang beraroma wiski dan pinus menerpa wajahku dengan ritme yang kasar dan memburu. Di bawah cahaya bulan yang pucat, aku bisa melihat setiap detail wajahnya yang luar biasa tampan; bulu matanya yang tebal, rahangnya yang mengeras kaku, dan sepasang mata obsidiannya yang kini sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang gelap.
Pernyataan mematikannya baru saja terucap. 'Tunjukkan siapa musuhmu, monster kecil. Dan biarkan suamimu yang arogan ini meratakan kerajaan mereka...'
Jantungku, yang tadinya berdenyut penuh amarah akibat pengkhianatan Dmitri, kini berpacu liar karena alasan yang sama sekali berbeda. Kalimat itu bukan sekadar bualan kosong. Adrian Vance memiliki kekuasaan, uang, dan kekejaman untuk mewujudkannya. Pria ini menawarkan dunia gelapnya untuk membalaskan dendamku.
Adrian memiringkan wajahnya, berniat menghapus sisa satu milimeter itu. Bibirnya sedikit terbuka, siap mengklaim bibirku, siap menyegel sumpah berdarah yang baru saja ia ikrarkan.
Namun, detik itu juga, realitas menyela dengan cara yang paling kejam.
Tubuh tegap Adrian mendadak tersentak keras. Tangannya yang mencengkeram bagian belakang kepalaku bergetar hebat. Aku bisa melihat butiran keringat dingin tiba-tiba membanjiri pelipis dan lehernya. Urat-urat di dahinya menonjol. Pria itu menahan napas dengan paksa, kelopak matanya terpejam erat seolah ia sedang menahan rasa sakit dari sebilah pisau yang ditusukkan tepat ke jantungnya.
Penyakit haphephobia-nya meronta beringas. Alam bawah sadarnya membunyikan alarm peringatan tingkat tinggi, menolak kedekatan fisik ini, menganggap sentuhan bibir yang akan terjadi sebagai sebuah ancaman mematikan yang menjijikkan.
"A-Adrian..." bisikku, suaraku pecah oleh rasa pedih yang mendadak menyayat dadaku.
Aku melihatnya tersiksa. Pria yang menguasai perekonomian kota ini, yang tak pernah tunduk pada siapa pun, kini tampak begitu rapuh dan hancur di bawah kutukan pikirannya sendiri. Ia menolak mundur, memaksakan tubuhnya untuk tetap di sana, mencoba melawan rasa mual luar biasa yang sedang mengocok perutnya demi bisa menciumku.
’Jangan bodoh,’ batinku menjerit, sebuah empati asing merobek cangkang mafiaku.
Sebelum bibirnya benar-benar menyentuh bibirku, aku menolehkan wajahku ke samping dengan cepat.
Cup.
Bibir Adrian yang panas dan gemetar tidak mendarat di bibirku, melainkan menyapu sudut rahangku.
Seketika itu juga, pria itu menarik napas rakus, terhuyung mundur satu langkah seolah baru saja terbebas dari jeratan tali gantung. Adrian melepaskan cengkeramannya dari rambutku. Ia mencengkeram ujung meja marmer di belakangku dengan kedua tangannya yang berbalut sarung tangan, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil terengah-engah mencari oksigen.
Hening yang menyakitkan menyelimuti kami berdua. Hanya terdengar suara deru napas kami yang sama-sama kacau.
Air mataku, yang sejak tadi kutahan, akhirnya menetes lagi. Kali ini bukan menangisi kematianku, melainkan meratapi tragedi di depan mataku. Betapa menyedihkannya kami berdua. Dua monster penguasa kegelapan yang sama-sama cacat; aku terjebak dalam tubuh lemah yang hancur, dan dia terjebak dalam sangkar pikiran yang menolak cinta.
"Kutukan sialan!" umpat Adrian tiba-tiba. Suaranya menggelegar parau, dipenuhi oleh rasa frustrasi dan kebencian yang teramat dalam pada dirinya sendiri.
Prang!
Dengan satu kibasan tangan yang kasar, Adrian menyapu gelas kristal berisi wiski di atas meja hingga hancur berkeping-keping menghantam lantai. Cairan amber itu memercik ke mana-mana.
Pria itu mendongak, menatapku dengan mata merah yang memancarkan keputusasaan yang begitu pekat.
"Kau melihatnya, bukan?" geramnya rendah, dadanya naik-turun dengan beringas. Ia menunjuk dirinya sendiri, tersenyum sinis dengan sorot mata hancur. "Ini wujud asliku, Erena. Pria cacat yang bahkan tidak sanggup mencium istrinya sendiri tanpa merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Inikah monster yang kau takuti? Menjijikkan."
Mendengar pria arogan itu merendahkan dirinya sendiri, sesuatu di dalam diriku—sisi Hana Rose yang dominan—bangkit menyingkirkan sisa-sisa isak tangisku. Aku membenci kelemahan, tapi aku lebih membenci seseorang yang menyerah pada kelemahannya.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, mengabaikan rasa ngilu dari tiga tulang rusukku yang patah, aku melangkah maju. Ujung telapak kakiku yang telanjang menginjak pecahan kristal, namun aku tidak memedulikannya.
Aku mengangkat kedua tanganku yang gemetar, lalu menempelkan telapak tanganku tepat di atas dada kirinya yang berbalut kemeja putih.
Tubuh Adrian seketika menegang keras seperti papan. Matanya membelalak kaget menerima sentuhanku yang tiba-tiba, meski terhalang oleh kain kemejanya.
"Diamlah, Adrian," desisku tajam, menatap lurus ke dalam manik obsidiannya yang goyah. Suaraku tidak lagi bergetar. Intimidasi sang Capo Bratva kembali mengaliri nadiku. "Kau bukan pria menjijikkan. Kau adalah orang bodoh yang terlalu memaksakan diri."
Aku menekan telapak tanganku lebih kuat di dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdebar sekeras palu godam di bawah sana.
"Dengar aku baik-baik," lanjutku, suaraku melunak namun penuh dengan ketegasan yang mutlak. "Aku adalah orang yang baru saja kehilangan kerajaanku. Aku kehilangan orang tuaku, identitasku, dan nyawaku. Aku terbangun di tubuh yang dianggap sampah oleh dunia. Jika kau pikir fobiamu ini membuatmu terlihat lemah di mataku... kau salah besar."
Adrian menelan ludah dengan susah payah. Matanya terpaku pada mataku, seolah ia sedang menemukan sebuah oasis di tengah gurun pasir yang membakarnya hidup-hidup. Tangan kanannya yang berbalut sarung tangan perlahan terangkat, menutupi punggung tanganku yang menempel di dadanya.