Bab 21
Lorong mansion terasa membekukan tulang, namun amarah di dadaku terlalu panas untuk bisa dipadamkan. Aku tiba di depan pintu ganda kayu ek berukir rumit. Di sebelah kenop pintu, terdapat panel sandi digital yang menyala merah.
Aku menatap panel itu. 'Kata sandinya adalah tanggal pernikahan kita,' bisikan Adrian terngiang di kepalaku.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku menekan angka-angka itu. 0-8-1-1-2-5.
Klik. Lampu panel berubah hijau, dan pintu terbuka nyaris tanpa suara.
Aku melangkah masuk. Ruang kerja Adrian Vance adalah representasi sempurna dari sang pemilik: gelap, mengintimidasi, mahal, dan penuh rahasia. Dindingnya dilapisi panel kayu walnut gelap. Rak buku raksasa berjejer rapi, sementara di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja dari batu marmer hitam. Aroma ruangannya memabukkan—perpaduan antara kertas tua, tembakau mahal, wiski, dan pinus yang menjadi ciri khas Adrian.
Aku berjalan mendekati meja kerjanya. Aku butuh mengalihkan pikiranku dari Bratva. Aku butuh target yang lebih mudah dijangkau untuk melampiaskan insting pembunuhku, dan keluarga Martin adalah mangsa yang tepat.
Baru saja jemariku menyentuh permukaan meja marmer yang dingin untuk membuka laci dokumen, sebuah suara bariton yang berat, serak, dan mengalun sangat pelan memecah keheningan ruangan.
"Aku mulai berpikir kau mengidap insomnia yang akut, Istriku."
Tubuhku membeku seketika. Jantungku yang tadi berdenyut pelan akibat sisa tangisan, kini berpacu liar.
Aku menoleh perlahan ke arah sudut ruangan yang paling gelap. Di sana, di atas sebuah kursi sayap (wingback chair) berbahan kulit asli, duduklah Adrian Vance. Cahaya bulan dari jendela di belakangnya hanya menyoroti siluet bahunya yang lebar dan kakinya yang menyilang angkuh. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung asal, dengan kerah kemeja yang terbuka lebar. Sebuah gelas kristal berisi cairan amber berada di tangannya, sementara sarung tangan kulit hitamnya tak pernah absen dari jemarinya.
Pria itu ada di sana sejak awal. Mengawasiku dalam kegelapan bak predator puncak yang sabar menunggu mangsanya masuk ke dalam perangkap.
"Kau bersembunyi dalam kegelapan seperti pengecut, Tuan Vance," balasku datar, memaksakan suaraku agar tidak bergetar. Aku menegakkan tubuhku, menolak terlihat gentar.
Adrian terkekeh pelan. Suara tawanya yang rendah menggema, menggetarkan lantai kayu di bawah kakiku. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja kecil, lalu bangkit berdiri secara perlahan.
"Aku tidak bersembunyi. Ruangan ini adalah milikku. Kau yang menyusup masuk ke wilayahku di tengah malam dengan pakaian tidur tipis dan mata yang... bengkak," ucap Adrian, langkahnya panjang dan teratur saat ia mendekatiku, membelah kegelapan hingga wajah tampannya akhirnya tertimpa cahaya bulan.
Langkah Adrian terhenti tepat di seberang meja kerjanya. Ia menumpukan kedua tangannya di atas permukaan marmer hitam, mencondongkan tubuhnya ke arahku. Mata obsidiannya menyipit tajam, langsung mengunci pupil mataku.
Topeng ketenangannya sedikit retak saat melihat mataku yang merah dan sembap.
"Siapa yang kau tangisi kali ini, Erena?" suaranya tiba-tiba merendah, kehilangan nada arogansinya, digantikan oleh geraman posesif yang menyesakkan dada. "Buku harian siapa yang kau baca hingga membuat matamu sembap seperti itu?"
Aku membuang muka, tak sanggup menatap intensitas manik matanya. "Bukan urusanmu. Aku hanya datang untuk memeriksa dokumen keluarga Martin."
"Pembohong," desis Adrian pelan.
Dengan gerakan tiba-tiba yang luar biasa cepat, Adrian berjalan memutari meja. Aku refleks mundur, namun pinggangku langsung membentur ujung meja marmer. Pria itu mengurungku, meletakkan kedua lengannya di sisi kanan dan kiri pinggangku, menjebakku di antara meja dan tubuh tegapnya yang menjulang.
Aroma wiski dan napasnya yang panas langsung menerpa wajahku. Jarak kami begitu rapat hingga gaun sutra tipisku nyaris bergesekan dengan kain kemejanya. Penyakit fobianya mungkin melarangnya menyentuh kulitku, namun ia sepertinya menguasai seni menyiksa mentalku lewat intimasi ruang.
"Jawab aku," bisik Adrian, menundukkan wajahnya hingga ujung hidungnya nyaris menyentuh pipiku. Hawa panas dari tubuhnya merembes masuk ke kulitku, membuat kakiku lemas. "Air mata siapa yang jatuh malam ini? Air mata Erena yang lemah, atau air mata monster kecil yang sedang bersembunyi di dalam sana?"
Pertanyaan itu tepat sasaran, menghancurkan sisa-sisa pertahanan di dadaku. Emosi yang berusaha kukubur dalam-dalam kembali meledak.
"Kau tidak tahu apa-apa!" sergahku dengan suara parau yang bergetar. Aku mendongak, menatapnya dengan penuh kebencian dan rasa frustrasi. "Kau tidak tahu rasanya kehilangan seluruh kerajaanmu dalam satu malam! Kau tidak tahu rasanya mati dikhianati, lalu terbangun di tubuh yang hancur, ditertawakan oleh dunia, sementara orang-orang yang merenggut nyawamu tertawa menari di atas kuburanmu!"
Kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan racauan orang gila, melainkan kebenaran mutlak dari seorang Capo yang kehilangan segalanya.
Tubuh Adrian membeku. Mata hitamnya membelalak samar, menangkap setiap keping keputusasaan dari pengakuanku yang liar. Ia tidak menganggap ucapanku sebagai halusinasi penyakit mental. Justru, otaknya yang brilian sedang menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berputar di kepalanya. Gerak-gerikku yang mematikan, tatapanku yang sedingin es, keahlianku mengintimidasi Martha, dan kini... pengakuan tentang kematian dan kerajaan.
Adrian menatapku dengan napas yang tertahan. Kebisuan menyelimuti kami, kental oleh ketegangan yang memabukkan.
Lalu, tanpa kuduga, tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit terangkat. Bukan untuk mencekik atau menjauh, melainkan menyusup ke sela-sela rambut panjangku, memegang bagian belakang kepalaku dengan cengkeraman posesif yang tak terbantahkan.
"Siapa kau sebenarnya...?" bisik Adrian dengan suara serak yang dipenuhi obsesi gelap. Matanya menyapu wajahku, seolah ingin membelah tulang tengkorakku demi melihat jiwa yang bersemayam di dalamnya.
"Seseorang yang bisa membunuhmu jika kau terlalu ikut campur," ancamku, meski suaraku nyaris tak terdengar karena sentuhannya di tengkukku mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatku.
"Kalau begitu bunuh aku," balas Adrian tanpa ragu, suaranya berubah menjadi rintihan gairah yang tertahan.
Ia menarik tengkukku semakin dekat. Jarak kami terkikis habis. Bibirnya yang hangat, beraroma wiski, dan berbahaya itu berhenti tepat satu milimeter di atas bibirku. Embusan napas kami bertabrakan, menciptakan pusaran gairah yang meremas perutku. Ia berjuang melawan fobianya dengan sekuat tenaga—urat-urat di lehernya menonjol, keringat dingin membasahi pelipisnya—hanya untuk bisa berada sedekat ini denganku.
"Karena aku bersumpah," bisik Adrian di atas bibirku, setiap suku katanya adalah candu yang beracun, "aku lebih baik mati tercekik oleh tanganmu, daripada membiarkan bajingan mana pun yang telah mengkhianatimu itu tetap hidup menghirup udara di duniaku. Tunjukkan siapa musuhmu, monster kecil. Dan biarkan suamimu yang arogan ini meratakan kerajaan mereka hingga menjadi abu di bawah kakimu."