Bab 20
"Pertama, singkirkan kepala pelayan bernama Martha itu dari rumah ini sebelum aku benar-benar mematahkan lehernya," titahku tanpa ragu.
Sudut bibir Adrian berkedut, membentuk senyum miring yang luar biasa tampan sekaligus kejam. "Selesai. Wanita tua itu sudah kulempar keluar dari mansion ini sejam yang lalu. Apalagi?"
Aku menatapnya lekat-lekat. "Aku butuh sebuah ponsel. Laptop dengan koneksi internet yang aman, dan akses ke ruangan kerjamu saat kau tidak ada."
Tatapan Adrian seketika menajam. Sebagai seorang CEO yang memiliki puluhan musuh bisnis dan rahasia kotor keluarga, memberikan akses ruang kerja kepada orang lain adalah sebuah ketabuan besar. Apalagi pada istrinya yang selama ini dianggap cacat mental.
"Untuk apa seekor burung kenari membutuhkan akses informasi sekelas itu?" tanyanya menyelidik, nadanya kembali mendominasi.
Aku tersenyum, sebuah senyuman tipis, misterius, dan luar biasa berbahaya yang membuat mata pria itu tak berkedip.
"Kau bilang kau ingin melihat siapa aku yang sebenarnya, bukan?" balasku dengan nada menantang. "Berikan aku apa yang kuminta. Dan aku akan menunjukkan padamu bagaimana caraku menghancurkan keluarga Martin tanpa perlu mengotori tangan sucimu."
Hening sejenak. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar suara rintik hujan yang kembali turun membasahi kaca jendela. Adrian menatapku dalam diam, menimbang-nimbang setiap risikonya. Ia tahu wanita di depannya ini berbahaya. Ia tahu aku menyembunyikan sesuatu yang sangat kelam. Namun obsesinya untuk masuk ke dalam duniaku telah membutakan akal sehatnya.
Dengan gerakan lambat, Adrian merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang bewarna hitam legam, lalu meletakkannya di atas meja rias tepat di depanku.
"Tidak ada penyadap di sana," ucap Adrian dingin. "Laptop akan diantarkan ke kamarmu siang ini. Mengenai ruang kerjaku... kata sandinya adalah tanggal pernikahan kita."
Aku tertegun. Kata sandi ruang kerjanya... adalah tanggal di mana ia dipaksa menikahi wanita yang paling ia benci? Lelucon macam apa ini?
Melihat keterkejutanku, Adrian membungkuk sedikit, menempelkan bibirnya yang panas di daun telingaku.
"Kau bukan satu-satunya orang di rumah ini yang pandai menyimpan rahasia, Istriku," bisiknya, suaranya menggetarkan kewarasanku. "Gunakan mainan barumu dengan bijak. Karena jika kau menggunakannya untuk mengkhianatiku... aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari ranjang ini."
Pria itu menegakkan tubuhnya, menatapku untuk terakhir kali dengan pandangan yang mengunci jiwaku, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar kamar.
Pintu tertutup dengan suara pelan. Aku terdiam menatap layar ponsel hitam di atas meja. Tanganku perlahan terulur untuk menyentuhnya.
Permainan tahap kedua telah dimulai. Keluarga Martin, dan para pengkhianat di Bratva... bersiaplah. Karena Hana Rose Exric baru saja mendapatkan senjatanya kembali, dan kali ini, aku dibekingi oleh iblis paling berbahaya di kota ini.
Realitas Layar Kaca dan Penjara Tembakau
Malam merangkak semakin larut, menelan mansion Vance ke dalam keheningan yang absolut.
Di dalam kamarku yang hanya diterangi cahaya keperakan dari bulan yang menggantung di balik jendela, aku duduk bersila di atas ranjang. Sebuah laptop hitam keluaran terbaru—pemberian Adrian siang tadi—menyala di pangkuanku, memancarkan pendar kebiruan yang menerpa wajah pucatku.
Jari-jemariku yang biasanya dengan lincah merakit senapan laras panjang, kini bergetar hebat saat melayang di atas keyboard. Napasku tertahan di tenggorokan. Selama ini aku sibuk meredam trauma fisik Erena dan menghadapi arogansi Adrian, hingga aku nyaris lupa pada luka menganga dari duniaku sendiri.
Dengan sisa keberanian seorang pemimpin mafia, aku mengetik sebuah nama di mesin pencari.
Hana Rose Exric.
Tekan Enter.
Dalam hitungan milidetik, ribuan artikel berita bermunculan, menghantam layar mataku tanpa ampun.
"TRAGIS: Putri Tunggal Milyarder Exric Meninggal Mendadak di Kediamannya."
"Penyebab Kematian Hana Rose Exric Masih Menjadi Misteri. Dugaan Serangan Jantung Menguat."
"Pemakaman Tertutup Keluarga Exric Diiringi Isak Tangis Histeris Sang Ibu."
Tanganku gemetar saat mengklik salah satu artikel yang menyertakan video pemakamanku. Layar menampilkan suasana pemakaman elit yang diguyur hujan. Di sana, di depan sebuah peti mati berbahan kayu mahoni mengkilap, kulihat ibuku. Wanita yang selalu tampil anggun dan sempurna itu kini berlutut di atas tanah berlumpur, menangis meronta-ronta dengan gaun hitam yang basah kuyup. Ayahku memeluknya erat, wajah pria paruh baya yang biasanya begitu tegas itu kini hancur lebur, seolah separuh jiwanya ikut terkubur ke dalam tanah.
’Ibu... Ayah...’
Air mataku jebol. Isak tangis yang sejak tadi kutahan pecah berantakan di udara malam yang sunyi.
Aku menyentuh layar laptop dengan telapak tanganku yang berbalut perban, seolah sentuhan itu bisa menembus dimensi dan menghapus air mata ibuku. Aku membenci mereka karena membiarkan musuh menjebakku, tapi melihat mereka hancur berkeping-keping memicu rasa pedih yang merobek dada kiriku lebih parah dari tulang rusuk yang patah.
Aku telah tiada. Hana Rose, sang putri kesayangan, benar-benar sudah mati di dunia terang.
Lalu, dengan menggunakan perangkat lunak pelacak terenkripsi yang kurakit dalam waktu singkat, aku menembus jaringan bawah tanah—dunia gelap tempatku berkuasa. Aku mencari informasi tentang Bratva, geng motorku, dan anak buahku.
Layar menampilkan laporan rahasia. Benar saja, kematianku telah memicu mandi darah. Pasukanku membantai geng-geng kecil yang dicurigai. Namun... mataku melebar saat membaca laporan intelijen terbaru.
Bratva kini dipimpin oleh Dmitri. Tangan kananku sendiri. Pria yang selama ini kupercaya mengamankan jalur suplai keluarga Exric. Laporan itu menyebutkan bahwa Dmitri-lah yang secara misterius menemukan "bukti palsu" bahwa geng musuhlah yang meracuniku.
’Dmitri...’ Rahangku mengeras. Kepedihan di mataku perlahan membeku, digantikan oleh kobaran kebencian yang luar biasa gelap. ’Bukan geng musuh. Kau yang meracuniku lewat ibuku. Kau mengkhianatiku demi kursi kepemimpinan, dan menggunakan anak buahku yang setia untuk membersihkan jejakmu.’
Aku menutup laptop itu dengan kasar. Brak!
Napasku memburu beringas. Emosi yang saling bertabrakan—kesedihan Erena yang lemah dan amarah Hana yang mematikan—membuat kepalaku serasa mau pecah. Aku meringkuk memeluk lututku, membenamkan wajahku di sana, membiarkan tubuh ringkih ini terguncang oleh isak tangis keputusasaan dan dendam yang melebur menjadi satu. Aku terjebak di tubuh cacat ini, sementara pengkhianatku duduk di atas takhtaku dan keluargaku menangisi kematianku setiap malam.
Aku butuh udara. Aku butuh melarikan diri dari pikiran yang menyiksa ini.
Menyeka air mataku dengan kasar, aku turun dari ranjang. Tanpa mengenakan alas kaki, dengan balutan gaun tidur sutra berwarna hitam pekat yang menjuntai menyapu lantai, aku melangkah keluar kamar.
Tujuanku hanya satu: Sayap Barat. Ruang kerja Adrian Vance.