Bab 19
Helai Rambut dan Hitamnya Keterikatan
Badai telah berlalu, menyisakan sisa-sisa titik hujan yang menempel pada kaca jendela raksasa mansion Vance. Sinar matahari pagi yang pucat menyusup masuk, menerangi separuh kamar tidur utamaku dengan pendar keemasan yang dingin.
Aku duduk di depan meja rias bergaya Victoria, menatap pantulan diriku di cermin besar berbingkai perak.
Kondisiku berangsur membaik, namun memar kebiruan di tulang pipiku masih terlihat jelas, kontras dengan kulitku yang sepucat pualam. Napasku masih terasa berat, dan setiap pergerakan kecil di area dada memicu denyut nyeri dari tulang rusukku yang belum sepenuhnya menyatu.
Namun, rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai yang berkecamuk di dalam kepalaku.
Janji berdarah semalam.
’Kita akan menonton dunia ini terbakar bersama-sama.’
Kalimat dari bibir Adrian Vance itu terus bergaung di telingaku, disusul oleh sensasi terbakar di keningku tempat bibir telanjangnya mendarat. Sentuhan nekat itu adalah sebuah bunuh diri bagi kewarasan seorang penderita haphephobia ekstrem sepertinya. Dan benar saja, setelah ciuman itu, aku ingat betul bagaimana Adrian segera memalingkan wajah, terengah-engah hebat dengan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Pria itu menahan rasa mual dan panik yang luar biasa, namun menolak untuk melepaskan dekapannya dariku hingga obat penenang menarikku ke alam bawah sadar.
Aku, Hana Rose Exric, seorang pemimpin Bratva yang tak pernah tunduk pada belas kasihan siapa pun, entah bagaimana menemukan rasa aman di dalam dekapan pria berpenyakit mental yang arogan itu.
’Menyedihkan,’ batinku merutuk, menyisir rambut panjangku yang kusut dengan jari-jemari yang bergetar.
"Aw..." Aku mendesis pelan saat tanganku tanpa sengaja menarik simpul rambut yang kusut terlalu keras. Gerakan itu menarik otot dadaku, memicu rasa ngilu yang tajam. Sisi telapak tanganku yang dijahit pun kembali berdenyut.
Aku menjatuhkan sisir kayu itu ke atas meja rias dengan rasa frustrasi yang memuncak. Aku membenci kelemahan ini. Di kehidupanku sebelumnya, aku terbiasa memegang senjata api jenis Glock 19 dan merakit peluru tanpa berkedip. Kini, sekadar menyisir rambut saja tubuh Erena ini nyaris menyerah. Air mata keputusasaan yang begitu kubenci kembali menggenang di pelupuk mata.
Cklek.
Suara pintu kamar yang terbuka membuatku segera mendongak. Melalui pantulan cermin, aku melihat sosok menjulang itu melangkah masuk.
Adrian Vance.
Pria itu tampak luar biasa memukau, seperti biasa. Setelan jas tiga potong berwarna biru navy melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Rambut gelapnya ditata rapi, dan sepasang sarung tangan kulit hitam kembali membungkus kedua tangannya. Topeng esnya telah kembali, namun ada gurat kelelahan yang samar di bawah matanya—bukti bahwa semalaman pria ini mungkin berperang melawan efek samping dari pelanggaran fobianya sendiri.
Langkah sepatu pantofelnya terdengar konstan di atas lantai pualam. Matanya yang segelap obsidian langsung mengunci tatapanku dari pantulan cermin.
Adrian tidak mengatakan apa pun. Ia melangkah ke arahku, berhenti tepat di belakang kursi beludru yang kududuki. Aroma maskulin dari cologne kayu pinus dan wiski yang kini begitu familier, langsung menyelimuti indra penciumanku, membuat bulu kudukku meremang.
Aku menelan ludah, menolak memutuskan kontak mata kami di cermin.
Tanpa permisi, tangan Adrian yang berbalut sarung tangan kulit terulur. Ia mengambil sisir kayu yang tadi kujatuhkan.
"Bahkan seekor serigala yang terluka tahu kapan harus berhenti meronta dan membiarkan lukanya dibalut, Erena," suara baritonnya mengalun rendah, serak, dan bergetar di dekat telingaku.
Aku menahan napas saat Adrian mulai menyisir rambut panjangku. Gerakannya begitu kaku pada awalnya, ragu-ragu seolah ia sedang menyentuh bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Namun perlahan, usapannya menjadi luar biasa lembut. Ia mengurai setiap helaian rambutku yang kusut dengan penuh kehati-hatian, memastikan kulit kepalaku tidak tertarik, dan memastikan gerakan itu tidak menyakiti tulang rusukku.
Sentuhan tidak langsung ini... terasa jauh lebih intim daripada pelukan erat. Di balik lapisan kulit hewani itu, aku bisa merasakan hawa panas dari telapak tangannya merayap ke kulit leherku setiap kali sisir itu turun.
"Aku bukan serigala terluka yang butuh dirawat. Aku hanya membenci tubuh yang tak berguna ini," desisku pelan, mataku meredup melihat pantulan diriku yang rapuh.
"Tubuh ini tidak tidak berguna," potong Adrian cepat, nadanya berubah posesif. Ia menghentikan gerakannya sejenak. Tangannya yang bebas kini bertumpu pada sandaran kursiku, mengurungku dari belakang. Mata kelamnya menatap tajam ke dalam mataku melalui cermin. "Tubuh ini bertahan dari jatuh setinggi tiga lantai. Tubuh ini bertahan dari siksaan keluarga Martin. Dan tubuh ini... menampung jiwa liar yang membuatku nyaris gila memikirkannya semalaman penuh."
Jantungku berdebar brutal. Kata-katanya adalah candu yang berbahaya.
"Apakah fobiamu menyiksamu semalam, Adrian?" tanyaku pelan, suaraku berubah menjadi bisikan yang rentan. Aku menundukkan pandanganku, menatap jari-jemarinya yang mencengkeram erat sandaran kursi. "Setelah kau... menyentuh keningku?"
Udara di sekitar kami seolah membeku. Aku bisa melihat jakun Adrian bergerak naik-turun menelan ludah. Rahangnya mengeras.
"Ya," jawabnya jujur, suaranya terdengar seperti geraman tertahan. "Rasanya seperti ada ribuan serangga yang merayap di bawah kulitku. Aku muntah, aku tidak bisa bernapas, dan aku nyaris membakar seluruh pakaian yang kukenakan."
Rasa bersalah, sebuah emosi yang sangat jarang kurasakan semasa menjadi mafia, kini meremas dadaku dengan kuat. "Kalau begitu jangan pernah melakukannya lagi. Kau menyiksa dirimu sendiri."
"Tidak," bantah Adrian tegas.
Perlahan, pria itu mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku di sisi wajahku. Hembusan napasnya yang hangat menerpa pipiku. Ia menatap pantulan kami berdua di cermin—seorang pria monster dengan fobia mematikan, dan seorang wanita rapuh dengan jiwa mafia yang kelam. Pasangan yang ditakdirkan untuk saling menghancurkan.
"Rasa sakit akibat fobia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit saat aku melihatmu menangis di perpustakaan semalam, Erena," bisik Adrian dengan suara yang begitu putus asa, menyapu habis sisa-sisa keangkuhan di dadaku. "Aku akan terus mendorong batasanku. Aku akan menghancurkan dinding sialan di kepalaku ini keping demi keping, sampai aku bisa menyentuhmu dengan kedua tangan kosongku tanpa merasa mual."
Air mataku lolos begitu saja, menetes di pipiku yang pucat. Kesedihan dan kehangatan melebur menjadi satu. Aku memutar tubuhku sedikit dengan susah payah, mendongak untuk menatap langsung ke wajah aslinya, bukan sekadar pantulan dari cermin.
"Kenapa kau melakukan ini, Adrian? Kenapa kau mempertaruhkan semuanya untuk istri yang cacat?" tanyaku dengan suara bergetar.
Adrian mengangkat sebelah tangannya, menggunakan ibu jarinya yang berbalut sarung tangan kulit untuk mengusap air mataku dengan kelembutan yang menyayat hati.
"Karena kau adalah satu-satunya hal nyata di dunia palsuku yang penuh kemunafikan," jawabnya rendah, matanya menggelap oleh gairah dan obsesi. "Dan karena mulai detik ini... kau adalah milikku. Hanya milikku."
Ketegangan di antara kami berderak hebat. Jarak yang tersisa seolah membakar oksigen di dalam ruangan. Namun, sebelum bibir kami nyaris bersentuhan dan mengulangi kesalahan manis semalam, aku memalingkan wajahku, menempelkan pipiku di dada bidangnya yang berbalut jas.
Aku bisa merasakan debaran jantung Adrian yang menggila. Pria itu menghela napas panjang, mencoba meredam hasrat gelapnya, lalu membiarkan lengannya mengurung tubuhku dengan protektif.
’Aku tidak boleh terbuai. Belum saatnya,’ batinku mengingatkan diriku sendiri. Insting sang Capo kembali mengambil alih. Jika Adrian Vance menjanjikan dunia untukku, maka aku akan menggunakan kekuasaannya sebagai batu loncatan pertamaku.
"Kau bilang kau akan memberiku korek api untuk membakar mereka," bisikku pelan, suaraku kembali tenang dan dingin. Aku mendongak menatapnya. "Buktikan janjimu, Suamiku."
Alis tebal Adrian bertaut. Ia menatapku dengan kilat ketertarikan yang kembali menyala. Sandiwara melankolis ini berakhir, digantikan oleh perundingan bisnis antara dua monster berdarah dingin. "Apa yang kau inginkan, Erena?"