Bab 18
Namun, melihat dadaku yang naik-turun dengan cepat dan wajahku yang basah oleh keringat dingin serta air mata, akal sehat Adrian runtuh.
Dengan napas yang tertahan, ia menarik ujung lengan kemeja hitamnya hingga menutupi telapak tangannya, menjadikannya sebagai pembatas darurat. Lalu, dengan kelembutan yang sangat kontras dengan perawakannya yang mengintimidasi, Adrian menggunakan kain kemejanya itu untuk menyeka keringat dingin di pelipisku.
"Aku tahu. Bernapaslah pelan-pelan," bisiknya, suaranya mengalun rendah dan serak, berusaha menenangkanku.
Ia memutar tubuhnya sedikit, meraih botol obat pereda nyeri berdosis tinggi dan segelas air yang selalu tersedia di atas nakas. "Buka mulutmu," titahnya tak terbantahkan.
Aku membuka mata yang terasa sangat berat, menatap lurus ke dalam matanya yang kelam. Dengan patuh, aku membuka bibirku. Adrian memasukkan dua butir pil itu ke dalam mulutku, lalu dengan hati-hati menempelkan ujung gelas ke bibirku, membantuku menelan air minum agar obat itu bisa turun.
Setelah menelan obat tersebut, aku kembali menjatuhkan kepalaku ke bantal. Napasku masih memburu, namun rasa sakitnya perlahan mulai menumpul seiring berjalannya waktu.
Hening mengambil alih ruangan itu. Hanya suara derai hujan di kaca jendela dan deru napas kami berdua yang saling bersahutan.
Adrian tidak beranjak. Pria itu masih berlutut di sisi ranjangku. Matanya yang gelap menelusuri wajahku yang penuh memar, turun ke leherku yang jenjang, lalu ke dadaku yang dibalut gaun sutra tipis yang sedikit koyak di bagian ujungnya. Tatapannya bukan tatapan penuh nafsu murahan, melainkan tatapan seorang pria yang sedang membedah sebuah misteri besar di dalam kepalanya.
"K-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku dengan suara serak, memecah keheningan. Aku memalingkan wajah, menolak terlihat lemah. "Puas melihat wanita yang kau anggap menjijikkan ini menderita?"
Adrian mendengus pelan, sebuah tawa gelap tanpa humor. Ia bersandar pada tiang ranjang, menyilangkan kedua lengannya yang kekar di depan dada.
"Aku menatapmu karena aku sedang mencoba memahami lelucon gila apa yang sedang dimainkan takdir padaku," jawab Adrian pelan. Matanya menyipit, tajam dan menembus pertahananku. "Erena yang asli... wanita malang yang menangis di sudut ruangan setiap kali mendengar guntur... tidak akan pernah membalas tatapanku. Ia tidak memiliki nyala api pemberontakan di matanya. Ia tidak tahu cara bermain piano dengan emosi yang bisa menghancurkan kewarasan siapa pun yang mendengarnya."
Tubuhku menegang. Insting mafiaku menjerit. 'Dia sudah berada terlalu dekat dengan kebenaran.'
Aku memaksakan sebuah seringai sinis di bibirku yang pucat. "Lalu? Apa kesimpulan dari otak CEO-mu yang brilian itu, Tuan Vance? Bahwa aku kesurupan roh jahat?" ejekku ringan, meski jantungku berdetak kencang.
Alih-alih marah karena ejekanku, Adrian justru mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma pinus dan alkohol kembali menyelimutiku. Tangannya yang terbalut lengan kemeja terulur, menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipiku yang basah.
"Tidak," bisiknya tepat di depan wajahku. "Kesimpulanku adalah... selama ini kau mengubur dirimu yang sebenarnya di balik topeng kegilaan itu. Kau bersembunyi. Dan ketika kau melompat dari balkon malam itu... bagian dirimu yang lemah telah mati. Meninggalkan monster kecil yang luar biasa memikat ini di hadapanku."
Aku terkesiap. Analisisnya salah, namun di saat yang sama... sangat tepat. Erena yang lemah memang telah mati. Dan monster itu adalah aku. Hana Rose Exric.
"Kau terlalu percaya diri, Adrian," desisku, berusaha mengembalikan otoritas suaraku meski tubuhku masih tak berdaya. Aku memberanikan diri menatap tepat ke dalam matanya. "Jika aku memang monster yang baru bangkit... tidakkah kau takut aku akan mencabik-cabikmu?"
Tatapan Adrian menggelap. Gairah kelam yang tadi sempat kutemukan di perpustakaan kini kembali menyala di dalam matanya, jauh lebih besar dan tak terkendali.
"Aku lebih suka dicabik olehmu daripada harus kembali ke kehidupanku yang membosankan," geram Adrian dengan suara bariton yang bergetar penuh obsesi.
Pria itu menundukkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan tipis dengan ujung hidungku. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang panas di bibirku. Jarak kami begitu intim, begitu berbahaya, namun ia menahan dirinya sekuat tenaga agar bibir kami tidak bersentuhan. Penyakitnya menjadi dinding kaca yang menyiksa kami berdua.
"Tapi kau harus ingat satu hal, Istriku," lanjut Adrian, nadanya kini berubah menjadi bisikan mematikan yang mengikat jiwaku. "Di dunia ini, setiap monster selalu membutuhkan seorang pawang. Seseorang yang memberinya makan, dan seseorang yang akan merantainya jika ia mulai lepas kendali."
Air mata yang sejak tadi kutahan entah kenapa kembali mendesak keluar. Bukan karena takut, melainkan karena sebuah rasa pedih yang mendalam. Kepedihan milik Erena, yang merindukan perlindungan dari pria ini sejak hari pertama pernikahannya, berpadu dengan keangkuhan Hana yang menolak untuk tunduk.
"Aku bukan peliharaanmu," suaraku bergetar, pertahananku retak. Air mata akhirnya jatuh, membasahi bantal di bawah kepalaku. "Aku sendirian. Aku selalu sendirian. Kalian semua membuangku saat aku hancur..."
Kalimat racauan yang setengahnya adalah milik Erena itu membuat tubuh Adrian membeku. Benteng keangkuhannya sebagai pria berdarah dingin runtuh sepenuhnya melihat air mataku.
Tanpa mempedulikan ketakutannya sendiri, tanpa mempedulikan lapisan kemeja atau jas, Adrian menjatuhkan dirinya di sampingku. Pria itu menarik tubuhku dengan hati-hati—menghindari bagian tulang rusukku yang patah—dan merengkuh kepalaku ke dalam dekapan dada bidangnya.
"Ssst... diamlah," bisiknya parau, dagunya bertumpu kuat di puncak kepalaku. "Kau tidak sendirian. Tidak lagi. Aku di sini."
Aku menangis tersedu di dadanya. Tangisan seorang Capo mafia yang lelah dengan pengkhianatan, dan tangisan seorang wanita cacat yang akhirnya mendapatkan pelukan pertamanya. Tangisan ini memalukan bagi egoku, namun rasanya begitu melegakan hingga aku tidak ingin berhenti.
Aku mencengkeram kemeja punggungnya kuat-kuat, meremasnya seolah ia adalah satu-satunya jangkar penahan kewarasanku di dunia yang asing ini.
"Kau pembohong," isakku tertahan di perpotongan lehernya. "Kau membenciku, Adrian. Kau tidak bisa menyentuhku tanpa merasa jijik."
"Aku benci ketidakmampuanku untuk menyentuhmu," ralat Adrian dengan suara yang menggemeretak menahan amarah pada dirinya sendiri. Tangannya yang beralaskan lengan kemeja mengelus punggungku dengan gerakan konstan yang menenangkan. "Aku benci bahwa butuh waktu selama ini bagiku untuk melihat siapa kau sebenarnya."
Adrian sedikit menjauhkan tubuhnya, menunduk untuk menatap langsung ke dalam mataku yang basah dan memerah. Di bawah temaram lampu tidur, wajah pria itu tampak begitu putus asa, namun di saat yang sama memancarkan tekad seorang tiran yang tak akan membiarkan propertinya direbut oleh siapa pun.
"Dengar aku, Erena," sumpah Adrian, suaranya berat dan bergema di seluruh penjuru ruangan. "Sembuhkan tubuh ini. Kuatkan dirimu. Karena saat tulang rusukmu sudah menyatu, dan saat aku menemukan cara untuk menghancurkan penyakit sialan di kepalaku ini... aku akan membakar siapa pun yang pernah membuatmu meneteskan air mata. Entah itu keluargamu, atau orang-orangku sendiri."
Ia menunduk, dan dengan satu gerakan nekat yang mempertaruhkan kewarasannya, Adrian mengecup keningku. Bukan dengan kain pelapis. Melainkan dengan bibir telanjangnya.
Sengatan panas menjalar dari keningku, seolah ciuman itu adalah sebuah segel iblis yang tak bisa dihapus. Dada Adrian tersentak hebat setelah melakukan itu. Ia segera menarik wajahnya, napasnya memburu, namun tidak ada penyesalan di matanya. Yang ada hanyalah janji.
Sebuah janji berdarah antara raja kegelapan dan monster kecilnya.
"Aku akan memberimu korek apinya," balas Adrian berbisik, membelai pipiku dengan punggung tangannya yang dilapisi kain. "Dan kita akan menonton dunia ini terbakar bersama-sama."