Bab 17
Aku terengah-engah dalam dekapannya, mencengkeram lengan kemejanya dengan sisa tenaga yang kumiliki. Rasa sakit di dadaku membuatku nyaris tak bisa bernapas, namun aroma pinus yang menenangkan dari tubuhnya perlahan menekan kepanikan di otakku.
"L-lepaskan..." rintihku lemah, meski tanganku justru mencengkeram lengannya semakin erat, mengkhianati ucapanku sendiri. Air mata keputusasaan kembali menggenang di pelupuk mataku. Aku benci menjadi lemah. Aku benci tubuh Erena yang tidak berguna ini. Aku, Hana Rose Exric, tidak pernah butuh diselamatkan!
"Berhenti memberontak, atau kau akan mematahkan tulang rusukmu lebih parah lagi," geram Adrian di telingaku.
Tanpa ragu, pria itu menunduk dan mengangkat tubuhku dengan gaya bridal style, memastikan jas mahalnya membungkusku rapat agar tidak ada kontak kulit secara langsung. Aku memejamkan mata, membiarkan kepalaku terkulai lemas bersandar pada lekuk lehernya. Detak jantungnya yang berpacu liar terdengar jelas di telingaku, menjadi sebuah pengantar tidur yang anehnya mengusir sepi di relung jiwaku.
Sambil melangkah lebar membawa tubuhku keluar dari perpustakaan dan menembus lorong mansion yang gelap, Adrian menundukkan wajahnya, menempelkan dagunya di puncak kepalaku yang terbalut jas.
"Dengar aku, monster kecil," bisik Adrian rendah, suaranya bercampur dengan deru badai di luar sana, memancarkan keputusasaan dan obsesi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Kau boleh memaki dunia, kau boleh menghancurkan piano itu, kau boleh menatapku seolah aku adalah musuh terbesarmu. Tapi jangan pernah berani meneteskan air matamu sendirian lagi dalam kegelapan. Karena mulai malam ini... setiap rasa sakitmu, setiap tetes darahmu, dan setiap rahasia busukmu, adalah milikku."
Di bawah temaram lampu gantung mansion, dan diiringi gemuruh guntur yang menyayat langit malam, dua jiwa yang hancur itu akhirnya saling mengunci. Sebuah janji tak tertulis telah terukir dalam darah dan kepedihan; merangkai takdir seorang gadis mafia dan pria penderita fobia dalam satu ikatan gelap yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh kematian sekalipun.
Rapuhnya Sang Cangkang dan Janji Sang Iblis
Lorong-lorong mansion Vance yang panjang dan suram terasa seperti sebuah labirin tanpa ujung.
Badai di luar sana mengamuk semakin beringas. Guntur menggelegar, merobek keheningan malam, namun suara yang paling keras mendominasi pendengaranku saat ini adalah detak jantung Adrian yang berpacu liar di bawah telingaku.
Aku terengah-engah dalam dekapannya. Rasa sakit dari tulang rusukku yang patah berdenyut tanpa ampun, menyebar bagai racun yang membakar setiap saraf di dadaku. Namun, anehnya, balutan jas abu-abu milik Adrian yang membungkus erat tubuh ringkih Erena ini memberikan sebuah kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
’Ironis sekali,’ batinku tertawa hambar di tengah rasa sakit. ’Seorang Capo Bratva yang ditakuti, yang biasanya memerintahkan eksekusi tanpa berkedip, kini digendong bagai boneka porselen rusak oleh pria arogan berpenyakit mental.’
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahku hingga mengecap rasa amis darah demi menahan erangan yang terus mendesak keluar dari tenggorokanku. Tubuhku gemetar hebat.
Adrian melangkah dengan terburu-buru, namun gerakannya begitu hati-hati agar tidak mengguncang tubuhku. Rahangnya mengeras. Sesekali ia menundukkan pandangannya, menatap wajahku yang sepucat mayat dengan raut yang sulit diartikan. Ada kepanikan, amarah, dan sebuah keputusasaan gelap yang berbaur menjadi satu dalam manik obsidiannya.
"Bertahanlah, sialan. Jangan berani-berani menutup matamu, Erena," geram Adrian pelan saat kakinya akhirnya menendang terbuka pintu kamar tidur utamaku.
Pria itu melangkah masuk, langsung menuju ranjang king size di tengah ruangan. Dengan sangat perlahan—seolah ia sedang meletakkan sebuah artefak kaca yang tak ternilai harganya—Adrian membaringkanku di atas kasur yang empuk. Jas mahalnya yang membalut tubuhku ikut terlepas dan tergeletak sembarangan di atas seprai.
Begitu punggungku menyentuh kasur, aku langsung meringkuk ke samping, memegangi dadaku. Udara terasa seperti tersangkut di tenggorokan.
"A-Adrian... s-sakit..." rintihku tanpa sadar. Sisa jiwa Erena yang lemah kembali mengambil alih sejenak, membiarkan sebulir air mata lolos begitu saja dari sudut mataku.
Mendengar rintihan parau itu, gerakan Adrian seketika membeku. Ia, yang biasanya akan berteriak memanggil pelayan atau segera berbalik pergi, kini justru menjatuhkan sebelah lututnya di tepi ranjang. Pria itu mengabaikan lutut celana mahalnya yang kotor, memusatkan seluruh atensinya padaku.
Tangannya bergerak ragu di udara. Ia ingin menyentuhku, namun ia baru saja membuang sarung tangannya di perpustakaan tadi. Penyakit haphephobia-nya meronta, memperingatkan otaknya tentang bahaya sentuhan.