Bab 16
Aku terengah-engah dalam dekapannya, mencengkeram lengan kemejanya dengan sisa tenaga yang kumiliki. Rasa sakit di dadaku membuatku nyaris tak bisa bernapas, namun aroma pinus yang menenangkan dari tubuhnya perlahan menekan kepanikan di otakku.
"L-lepaskan..." rintihku lemah, meski tanganku justru mencengkeram lengannya semakin erat, mengkhianati ucapanku sendiri. Air mata keputusasaan kembali menggenang di pelupuk mataku. Aku benci menjadi lemah. Aku benci tubuh Erena yang tidak berguna ini. Aku, Hana Rose Exric, tidak pernah butuh diselamatkan!
"Berhenti memberontak, atau kau akan mematahkan tulang rusukmu lebih parah lagi," geram Adrian di telingaku.
Tanpa ragu, pria itu menunduk dan mengangkat tubuhku dengan gaya bridal style, memastikan jas mahalnya membungkusku rapat agar tidak ada kontak kulit secara langsung. Aku memejamkan mata, membiarkan kepalaku terkulai lemas bersandar pada lekuk lehernya. Detak jantungnya yang berpacu liar terdengar jelas di telingaku, menjadi sebuah pengantar tidur yang anehnya mengusir sepi di relung jiwaku.
Sambil melangkah lebar membawa tubuhku keluar dari perpustakaan dan menembus lorong mansion yang gelap, Adrian menundukkan wajahnya, menempelkan dagunya di puncak kepalaku yang terbalut jas.
"Dengar aku, monster kecil," bisik Adrian rendah, suaranya bercampur dengan deru badai di luar sana, memancarkan keputusasaan dan obsesi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Kau boleh memaki dunia, kau boleh menghancurkan piano itu, kau boleh menatapku seolah aku adalah musuh terbesarmu. Tapi jangan pernah berani meneteskan air matamu sendirian lagi dalam kegelapan. Karena mulai malam ini... setiap rasa sakitmu, setiap tetes darahmu, dan setiap rahasia busukmu, adalah milikku."
Di bawah temaram lampu gantung mansion, dan diiringi gemuruh guntur yang menyayat langit malam, dua jiwa yang hancur itu akhirnya saling mengunci. Sebuah janji tak tertulis telah terukir dalam darah dan kepedihan; merangkai takdir seorang gadis mafia dan pria penderita fobia dalam satu ikatan gelap yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh kematian sekalipun.