Bab 15
Gemetar di Ujung Jari dan Obsesi yang Menyala
Kilat menyambar liar di luar jendela, melemparkan pendar cahaya putih yang menyoroti rahang tegas Adrian dalam kegelapan perpustakaan.
Pernyataannya baru saja jatuh, menghantam ruang hampa di antara kami dengan bobot sebuah rantai besi. Merantaiku di ruangan ini. Kata-kata itu begitu posesif, begitu kelam, dan sepenuhnya di luar nalar seorang pria yang selama ini menganggap keberadaanku layaknya wabah penyakit.
Aku menahan napas. Jarak di antara wajah kami kini tidak lebih dari ketebalan selembar kertas. Napasnya yang hangat dan beraroma alkohol berpadu dengan udara dingin dari kaca jendela yang berembun. Dadaku naik-turun dengan cepat, bukan hanya karena sisa isak tangisku, melainkan karena insting mafiaku bereaksi terhadap bahaya memabukkan yang memancar dari pria ini.
"Kau berhalusinasi, Tuan Vance," bisikku parau, suaraku sedikit bergetar namun menolak untuk tunduk. Aku memiringkan wajahku, menantang manik obsidiannya yang kini diselimuti kabut gairah. "Merantaiku? Kau bahkan tidak sanggup menyentuh kulitku tanpa merasa seolah kau baru saja menelan bisa ular."
Seringai sinis, yang merupakan sisa-sisa keangkuhanku sebagai Hana Rose, terukir di bibirku yang pucat. "Jangan berpura-pura menjadi predator jika cakar mu terlalu suci untuk dikotori oleh darah mangsamu, Adrian."
Hinaan itu telak. Aku bermaksud mendorong ego pria itu agar ia menjauh, agar ia menyadari batasan fobianya dan meninggalkanku sendiri dengan kesedihanku. Namun, aku lupa bahwa Adrian Vance bukanlah pria normal yang mundur saat diintimidasi. Hinaan adalah bahan bakar bagi sisi gelapnya.
Rahang Adrian mengeras hingga otot-otot di pelipisnya berkedut. Matanya menggelap, menelan habis sisa-sisa cahaya di ruangan itu.
"Kau selalu meremehkan batas kewarasanku, Erena," geramnya tertahan. Suaranya bergema rendah, bergetar di dasar tenggorokannya.
Perlahan, pria itu mengangkat tangan kanannya. Tangan yang telanjang, tanpa lapisan sarung tangan kulit yang selama ini menjadi tameng hidupnya. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh tampak sedikit gemetar—sebuah bukti nyata dari perang dunia yang sedang berkecamuk di dalam otaknya. Penyakit haphephobia-nya menjerit, membunyikan alarm peringatan yang memekakkan telinga di alam bawah sadarnya, memohon agar ia mundur.
Namun, obsesinya membungkam alarm itu.
Adrian mencondongkan tubuhnya semakin dekat, menyudutkanku hingga punggungku sepenuhnya menekan ujung kayu piano yang keras. Jari telunjuk dan ibu jarinya yang telanjang perlahan terulur ke arah wajahku.
Aku membeku. Mataku membelalak lebar. 'Dia tidak mungkin berani...'
Srett.
Ujung ibu jari Adrian menyentuh tulang pipiku yang masih basah oleh air mata.
Seketika itu juga, napas kami berdua terputus di udara.
Sentuhan itu sangat ringan, nyaris seperti embusan angin, namun efeknya setara dengan ledakan bom nuklir. Kulit bersentuhan dengan kulit. Panas tubuhnya merayap masuk ke dalam pori-poriku, mengirimkan sengatan listrik bertegangan tinggi yang menyengat langsung ke tulang belakangku.
Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana dada Adrian tersentak hebat. Pria itu menahan napas hingga wajahnya memucat. Keringat dingin seketika muncul di pelipisnya. Otot-otot di lengan dan lehernya menegang sekeras batu karang. Ia sedang menahan rasa mual, jijik, dan kepanikan luar biasa yang selama ini mengikat jiwanya. Ia sedang menghancurkan dirinya sendiri... hanya untuk membuktikan bahwa ia bisa menyentuhku.
"A-Adrian..." panggilku pelan, tanpa sadar suaraku melembut. Ada rasa ngilu yang aneh menyayat hatiku saat melihat betapa tersiksanya pria ini hanya karena sebuah sentuhan sederhana.
Ibu jari pria itu bergerak, sangat pelan, menyapu sisa air mata di pipiku, lalu turun mengusap garis rahangku. Ujung jarinya dingin, namun kulitku seolah terbakar oleh jejak yang ia tinggalkan.
"Kau pikir..." suara Adrian keluar dengan sangat susah payah, parau dan terputus-putus, seolah ia sedang menahan rasa sakit fisik yang luar biasa, "...kau pikir aku tidak bisa menyentuh apa yang menjadi milikku?"
Matanya, yang kini memerah karena menahan gejolak fobianya, menatap lurus ke bibirku. Jarak kami terkikis habis. Ia menundukkan wajahnya, memiringkan kepalanya, dan untuk satu detik yang mematikan, embusan napas kami menyatu menjadi satu ritme yang kacau.
Aku terdiam, terpaku oleh pesona gelap yang menguarnya. Sisa trauma di tubuh Erena menguap tanpa jejak, digantikan oleh gairah asing yang membuat perutku melilit.
Namun, sebelum bibirnya benar-benar menyapu bibirku, pertahanan fisik Adrian hancur.
Pria itu menarik tangannya seolah baru saja tersengat bara api bersuhu ribuan derajat. Ia melangkah mundur dengan terhuyung, napasnya memburu rakus mencari oksigen. Tangannya yang telanjang mencengkeram dada kemejanya sendiri seakan jantungnya baru saja berhenti berdetak. Ia terbatuk pelan, memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan kembali rasa mual yang mengocok perutnya akibat melanggar pantangan fobianya sendiri.
Melihat pria arogan itu nyaris runtuh hanya karena menyentuh pipiku, sebuah kepedihan yang asing meremas dadaku.
"Sudah cukup," bisikku, mengalihkan pandangan darinya. Aku tidak sanggup melihatnya tersiksa seperti itu. Bagaimanapun gilanya dia, aku tahu persis rasanya berjuang melawan tubuhmu sendiri.
Aku memutar tubuhku, berniat melarikan diri dari ketegangan yang menyesakkan ini. Aku butuh ruang. Aku butuh menjauh dari Adrian Vance sebelum pria ini berhasil mengupas habis topeng mafiaku.
Namun, begitu aku memaksakan diri untuk berdiri tegak dan melangkah, sebuah rasa sakit yang luar biasa tajam—seperti belati berkarat yang ditusukkan dan diputar paksa—meledak di dada kiriku. Tiga tulang rusukku yang retak, yang sedari tadi kuabaikan demi mempertahankan sandiwara kekuatanku, akhirnya menuntut haknya.
"Aargh!"
Erangan tertahan lolos dari bibirku. Pandanganku seketika menggelap, berputar hebat seperti gasing. Kakiku yang bertumpu pada lantai kayu kehilangan seluruh kekuatannya. Tubuh ringkih Erena ini menyerah. Aku limbung ke depan, bersiap menyambut hantaman keras lantai perpustakaan.
Tapi hantaman itu tidak pernah datang.
Sebelum tubuhku menyentuh lantai, sepasang lengan yang kuat melingkar di pinggangku, menarikku dengan kasar ke belakang hingga punggungku membentur dada bidang yang keras.
Adrian menangkapku. Kali ini, pria itu menggunakan jas abunya yang tadi sempat ia lepaskan dan sampirkan di kursi terdekat, membalut tubuhku dengan jas tersebut agar ia bisa mendekapku tanpa kulit kami harus bersentuhan langsung.
"Sialan, Erena!" umpat Adrian, suaranya sarat akan kepanikan yang kasar. Napasnya masih terengah karena sisa serangan paniknya sendiri, namun pelukannya di pinggangku, yang terhalang oleh kain jas tebal, begitu erat dan protektif.