Bab 14
Di saat yang bersamaan, sisa jiwa Erena ikut menangis. Bayangan ayah Erena yang menamparnya, Nyonya Vance yang memandangnya jijik, dan keputusasaan saat Erena memanjat balkon lantai tiga, ikut melebur ke dalam permainanku. Rasa sakit dari dua kehidupan yang berbeda ini bergabung, menciptakan sebuah badai emosi yang tak tertahankan.
Aku menekan tuts piano semakin keras, semakin cepat, seolah ingin meluapkan seluruh amarah dan kepedihan ini lewat nada. Air mata jatuh menderas membasahi pipiku, menetes ke atas tuts-tuts gading, mencampur melodi dengan isak tangis tertahan yang menyayat hati.
Aku lelah. Jiwa mafiaku mungkin sekuat baja, tapi tubuh Erena dan pengkhianatan ini menggerogotiku dari dalam. Kami berdua sama-sama dibuang. Kami berdua tidak diinginkan.
Di tengah permainan pianoku yang kacau balau oleh emosi, aku tidak menyadari bahwa pintu perpustakaan telah terbuka lebar.
Adrian Vance berdiri di ambang pintu, membeku bak patung es.
Pria itu datang karena mendengar suara bising dari wilayah pribadinya. Ia berniat menyeret siapa pun yang berani melanggar perintahnya. Namun, saat matanya menangkap siluetku di bawah cahaya temaram, amarahnya lenyap, digantikan oleh guncangan hebat di dadanya.
Adrian melihatku. Ia melihat bahuku yang bergetar hebat di balik gaun sutra merah marun. Ia mendengar isak tangisku yang sunyi di antara dentingan piano yang pilu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO berdarah dingin itu merasakan ada sesuatu yang meremas jantungnya hingga terasa nyeri. Ini bukan Erena yang histeris dan gila. Ini adalah seorang wanita yang jiwanya hancur berkeping-keping, namun sedang berusaha keras untuk menyatukannya kembali melalui sebuah melodi.
Tanpa sadar, langkah Adrian terayun mendekat. Sepatu pantofelnya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal.
Aku baru menghentikan permainanku secara tiba-tiba ketika sebuah aroma maskulin yang familier—campuran pinus dan wiski—merangsek masuk ke dalam indra penciumanku.
Napasku terputus. Aku menoleh dengan cepat, mengusap air mataku dengan kasar, bersiap mengenakan kembali topeng angkuhku. Namun, gerakan Adrian jauh lebih cepat.
Pria itu kini berdiri tepat di belakangku. Jarak kami begitu rapat hingga punggungku nyaris bersentuhan dengan dada bidangnya. Aku membeku. Fobianya... tidakkah ia merasa mual berdiri sedekat ini denganku?
Adrian tidak berbicara. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurungku dari belakang dengan meletakkan kedua tangannya—yang anehnya kali ini tanpa sarung tangan—di kedua sisi tubuhku, mencengkeram ujung pinggiran piano. Napasnya yang hangat dan berat menerpa tengkukku, membuat seluruh bulu romaku berdiri.
"Kau melanggar perintahku," suara Adrian mengalun parau, nyaris seperti geraman tertahan di telingaku.
"Aku... aku hanya mencari udara," balasku, suaraku bergetar karena sisa tangisan, menolak untuk menunduk lemah.
"Udara tidak ada di ruangan berdebu ini, Erena," bisiknya.
Perlahan, sangat perlahan, lengan kirinya bergerak. Bukan untuk memukul atau menarikku, melainkan merayap melewati tubuhku. Kulit lengannya yang hangat nyaris bergesekan dengan lenganku. Ujung jari telunjuk Adrian yang polos tanpa sarung tangan menyentuh tuts piano putih yang ada di hadapanku, tepat di tempat jemariku sebelumnya berada.
Ting.
Sebuah nada tinggi menggema di antara kami.
Sentuhan tidak langsung ini—berbagi ruang, berbagi panas tubuh, dan menyentuh tuts piano yang sama—merupakan sebuah pelanggaran mutlak bagi seorang pengidap haphephobia. Adrian sedang mempertaruhkan kewarasannya sendiri. Napas pria itu memburu, rahangnya mengeras menahan gejolak di tubuhnya, namun ia menolak untuk mundur. Obsesinya terhadap teka-teki diriku jauh lebih besar daripada ketakutannya pada sentuhan.
"Lagu apa yang baru saja kau mainkan?" tanyanya rendah, wajahnya semakin menunduk hingga ujung hidungnya nyaris menyentuh lekuk leherku.
"Itu... hanya lagu acak," dustaku, memejamkan mata menahan desiran panas di perutku akibat kedekatan ini.
"Pembohong," desis Adrian lembut. "Itu adalah suara dari seseorang yang sedang sekarat. Suara dari seseorang yang dikhianati oleh dunianya."
Kalimatnya menembus pertahananku. Aku menolehkan kepalaku sedikit ke samping, sehingga wajah kami kini hanya berjarak beberapa milimeter. Aku bisa melihat manik matanya yang segelap malam, menatapku dengan intensitas yang seolah ingin menelanjangiku hingga ke dasar jiwaku.
"Kau tidak tahu apa pun tentang pengkhianatan, Adrian," bisikku, mataku kembali berkaca-kaca oleh emosi yang belum stabil. "Kau membuang istrimu sendiri karena kau menganggapnya menjijikkan. Kau adalah bagian dari pengkhianatan itu."
Rahang Adrian menegang. Matanya turun, menatap bekas air mata di pipiku, lalu turun lagi ke bibirku yang bergetar. Tangannya yang bertumpu pada pinggiran piano mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras melawan instingnya untuk menyentuh kulitku secara langsung.
"Kau benar," geram Adrian dengan suara yang luar biasa serak. "Aku membuang istriku karena ia adalah cangkang kosong yang menyedihkan."
Pria itu memiringkan wajahnya, napasnya kini menyapu bibirku. Jantungku berdebar brutal, seolah bersiap meledak dari rongga dadanya.
"Tapi wanita yang ada di hadapanku saat ini..." Adrian melanjutkan, suaranya berubah menjadi bisikan mematikan yang penuh dengan gairah kelam. "...bukanlah cangkang kosong. Kau adalah monster kecil yang penuh rahasia, penuh luka, dan luar biasa angkuh. Dan entah kenapa, Erena... melihatmu hancur dan menangis seperti tadi, membuatku ingin merantai kakimu di ruangan ini agar tidak ada satu orang pun yang bisa melihatnya selain aku."
Aku terkesiap pelan. Kalimat itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah deklarasi posesif dari seorang pria yang telah jatuh ke dalam jurang obsesinya sendiri.
Di bawah derai hujan dan dentuman petir, dalam jarak sedekat ini tanpa ada sehelai pun sarung tangan yang membatasi, kami berdua tahu satu hal pasti: batas kewarasan kami berdua telah melewati titik tak bisa kembali.