Bab 13
Sonata di Bawah Hujan dan Napas yang Tertahan
Udara di tangga utama itu terasa seolah tersedot habis.
Adrian masih mengurungku dengan kedua lengannya, matanya yang kelam membakar langsung ke dalam jiwaku. Ujung pulpen emasnya perlahan ditarik dari daguku, menyisakan jejak dingin yang anehnya membuat kulitku meremang. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, pria itu hanya menatapku, napasnya memburu pelan, membiarkan aroma pinus dan tembakaunya meracuni paru-paruku.
Lalu, tanpa peringatan, ia menarik tubuh tegapnya mundur. Tembok es itu kembali menutupi wajahnya, menyembunyikan gairah gelap yang sempat mengintip dari balik matanya.
"Jelajahi mansion ini sesukamu, Erena," ucap Adrian, membetulkan kerah kemejanya dengan gerakan aristokrat yang elegan. Suaranya kembali sedatar garis kematian. "Tapi jangan pernah menginjakkan kakimu di Sayap Barat. Itu wilayahku. Jika kau melanggarnya, fobiaku tidak akan menghentikanku untuk melemparmu keluar dari jendela."
Pria itu berbalik, menaiki sisa anak tangga tanpa menoleh lagi, meninggalkanku sendirian dalam keheningan lorong yang diiringi derai hujan.
Aku menghembuskan napas yang sedari tadi tanpa sadar kutahan. Tubuh Erena yang rapuh ini merosot pelan, bertumpu pada dinding tangga. Jantungku berdebar sangat kencang. Perseteruan mental dengan seorang Adrian Vance ternyata lebih menguras tenaga daripada adu tembak dengan kartel saingan di masa laluku.
Sayap Barat, batinku, mengulang kalimat terakhirnya. Seringai tipis terukir di bibirku yang pucat. Seorang mafia yang dilarang memasuki sebuah wilayah, justru akan menjadikan tempat itu sebagai target utamanya.
[Dua Jam Kemudian]
Hujan sore itu bertransformasi menjadi badai. Petir menyambar di kejauhan, memancarkan kilat putih yang menyusup lewat jendela-jendela besar mansion.
Mengabaikan peringatan Adrian, langkah kakiku yang telanjang membawaku menyusuri lorong Sayap Barat. Wilayah ini jauh lebih gelap, sunyi, dan berdebu. Tidak ada pelayan yang berlalu-lalang. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu ek ganda yang sedikit terbuka menarik perhatianku.
Aku mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berderit pelan, mengantarku masuk ke dalam sebuah perpustakaan raksasa yang merangkap sebagai ruang musik. Rak-rak buku setinggi langit-langit memenuhi tiga sisi ruangan, sementara di tengahnya, di bawah lampu gantung kristal yang temaram, bertengger sebuah Grand Piano Steinway & Sons berwarna hitam mengkilap.
Sesuatu di dalam dadaku bergemuruh.
Bukan Erena, melainkan aku. Hana Rose Exric.
Di masa laluku, sebelum tanganku berlumuran darah, aku dipaksa oleh ibuku untuk mengambil les piano selama belasan tahun demi menyempurnakan citra "putri yang sempurna". Piano adalah topengku, pelarianku, sekaligus penjara sementaraku. Sementara bagi Erena, berdasarkan buku hariannya, musik adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan monster di kepalanya, namun keluarganya menghancurkan pemutar musiknya karena dianggap terlalu berisik.
Dengan langkah pelan bak orang yang terhipnotis, aku mendekati piano tersebut. Aku duduk di bangku beludrunya yang berdebu. Perlahan, aku membuka penutup tutsnya. Deretan tuts gading hitam dan putih menyapaku layaknya teman lama yang telah lama mati.
Tanganku yang gemetar—tangan dengan bekas luka jahitan melintang di telapaknya—terangkat. Aku memejamkan mata, membiarkan insting dan memori otot mengambil alih.
Jemariku menekan tuts pertama. Ting.
Suara itu bergema pilu di ruangan yang luas. Aku menarik napas panjang, lalu mulai bermain. Bukan lagu klasik yang ceria, melainkan Moonlight Sonata karya Beethoven. Mahakarya yang gelap, muram, dan penuh dengan keputusasaan.
Seiring dengan mengalunnya melodi yang menyayat hati itu, benteng emosiku runtuh.
Ingatan tentang hari kematianku kembali menghantam tanpa ampun. Senyum lembut ibuku saat menyodorkan cangkir teh chamomile itu... rasa panas yang membakar tenggorokanku... darah yang membanjiri gaunku. 'Kenapa, Ibu? Kenapa kau membiarkan mereka menjebakmu? Kenapa kematianku harus lewat tanganmu?'