Bab 9
Dulu, saat aku menjadi Capo Bratva, timah panas menembus bahuku dan aku mencabutnya sendiri menggunakan pisau belati tanpa anestesi. Setitik luka robek karena kaca ini tidak ada apa-apanya.
Namun, kewarasanku melupakan satu hal penting: Erena yang asli sangat takut pada jarum.
Di sudut ruangan yang temaram, Adrian tidak pergi. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada dinding dekat jendela, melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang mata sekelam malam tanpa bintang itu tidak lepas memperhatikanku. Ia memantau setiap embusan napasku, setiap kedipan mataku, mencari setitik kelemahan yang biasa ditunjukkan oleh istrinya yang cacat mental.
"Aneh," gumam Adrian pelan, namun cukup keras untuk bergema di ruangan yang sunyi itu.
Dokter Maxwell yang tengah sibuk menjahit lukaku menoleh dengan gugup. "M-maksud Anda, Tuan Vance?"
Adrian melangkah maju secara perlahan. Cahaya remang dari lampu tidur menerpa separuh wajah tampannya, menciptakan siluet iblis yang memikat. Ia berdiri di sisi ranjang yang berlawanan dengan dokter.
"Erena Martin yang selama ini kukenal," suara bariton Adrian mengalun penuh perhitungan, matanya mengunci pandanganku, "akan berteriak histeris, mencakar pelayan, dan menangis meronta-ronta hanya karena melihat sebatang jarum suntik. Penyakit mentalnya akan kumat, dan ia harus dibius total hanya untuk diobati."
Adrian mencondongkan tubuhnya ke arahku, tatapannya menembus pertahananku. "Tapi malam ini... istriku yang cacat ini bahkan tidak berkedip saat kulitnya ditembus jarum jahit. Tidak ada rintihan. Tidak ada air mata ketakutan. Dia menatap jarum itu seolah benda itu adalah hal yang paling membosankan di dunia."
Dokter Maxwell menelan ludah kasar, baru menyadari kejanggalan itu. Tangannya yang memegang pinset sedikit bergetar. "M-mungkin... Nyonya Erena masih dalam status syok akibat benturan di kepalanya, Tuan Vance. Respons rasa sakitnya menurun secara drastis."
"Syok?" Adrian terkekeh gelap. Senyum miring yang terukir di bibirnya membuat bulu kudukku berdiri. "Syok tidak membuat seseorang kehilangan ketakutan fobianya secara instan, Dokter. Syok juga tidak mengubah tatapan mata seekor kelinci yang ketakutan menjadi tatapan mata seekor serigala pemburu."
Aku menoleh, membalas tatapan tajamnya dengan ketenangan yang mematikan. Sisa adrenalin di dalam darahku membuat dadaku membusung pelan.
"Kau terlalu banyak menganalisis, Adrian," ucapku santai, bibirku melengkung membentuk senyuman mengejek. "Kau tidak tahu apa pun tentang rasa sakit. Saat kau terbiasa disiksa oleh rasa sakit yang meremukkan seluruh tubuhmu dari dalam, goresan kecil di telapak tangan ini hanya terasa seperti gigitan nyamuk. Dan kau meributkannya seolah ini adalah misteri dunia."
Kalimatku sukses membuat ruangan itu membeku. Dokter Maxwell nyaris menjatuhkan peralatannya. Pelayan yang berdiri di belakang menunduk dalam, terlalu takut untuk bernapas. Tidak ada seorang pun—tidak seorang pun—di mansion ini yang berani berbicara dengan nada meremehkan seperti itu kepada Adrian Vance.
Mata Adrian berkilat berbahaya. Bukannya marah, raut wajahnya justru menunjukkan sebuah ketertarikan yang gelap, sebuah obsesi baru yang perlahan bangkit dari kebosanannya.
"Sudah selesai, Dokter?" tanya Adrian dingin, tanpa melepaskan kontak matanya denganku.
"S-sudah, Tuan Vance. Enam jahitan. Nyonya Erena hanya perlu meminum antibiotik dan obat pereda nyeri secara rutin," jawab dokter itu buru-buru, membereskan alat-alatnya secepat kilat.
"Bagus. Tinggalkan obatnya. Kalian semua, keluar dari kamarku. Sekarang."
"Baik, Tuan."
Hanya dalam hitungan detik, dokter dan para pelayan itu menghilang bagai hantu, meninggalkan kami berdua dalam kesunyian yang kembali mencekam.
Adrian berjalan mengitari ranjang, mendekat ke arahku. Aku bisa merasakan kasur ini sedikit melesak saat ujung lututnya menekan pinggiran ranjang. Jarak kami kini tidak lebih dari sejengkal. Ia menatap telapak tanganku yang kini sudah diperban rapi putih bersih, lalu matanya naik, menatap wajahku yang memar.
"Kau benar, aku tidak tahu apa-apa tentang rasa sakitmu," bisik Adrian, suaranya kini terdengar anehnya sangat lembut, namun penuh racun. "Tapi aku tahu satu hal, Istriku. Jika ini adalah permainan baru yang kau ciptakan agar aku tidak lagi mengabaikanmu..."
Ia menunduk, wajahnya berhenti tepat di samping telingaku. Hawa panas dari napasnya membuatku tanpa sadar menahan napas.
"...maka kau berhasil. Mulai malam ini, aku tidak akan pernah melepaskan pandanganku darimu. Aku akan menguliti setiap rahasia barumu, Erena. Hingga aku menemukan siapa sebenarnya monster yang kini bersembunyi di balik mata indah ini."
Tubuhku menegang. Di balik tubuh yang rapuh ini, jiwa mafia-ku merasa tertantang. Pria ini cerdas, terlalu cerdas untuk bisa dikelabui dalam waktu lama. Namun, sebelum aku sempat membalas ancamannya, rasa kantuk dan kelelahan yang ekstrem menyerang otakku bagai ombak besar. Obat pereda nyeri berdosis tinggi itu mulai bekerja, menarik kesadaranku secara paksa.
Pandanganku mengabur. Pertahananku runtuh.
Hal terakhir yang kurasakan sebelum semuanya menjadi gelap adalah sebuah sentuhan hangat—tangan tanpa sarung kulit, kulit bersentuhan dengan kulit—yang menarik selimut sutra hingga menutupi dadaku dengan kelembutan yang sangat canggung, disusul bisikan pelan yang terdengar seperti sebuah janji mematikan.
"Tidurlah, pendosa kecil. Mimpi burukmu yang sesungguhnya baru saja dimulai bersamaku."