Bab 8
Menggendong Duri dan Hitamnya Obsesi
Waktu seakan berhenti berdetak di dalam kamar yang temaram itu.
Sentuhan ibu jari Adrian yang terbalut sarung tangan kulit di tulang pipiku terasa sangat kontras. Kasar dan dinginnya kulit hewan mati itu bergesekan dengan kulit wajahku yang hangat dan basah oleh air mata. Namun, di balik lapisan sarung tangan itu, aku bisa merasakan ada getaran halus dari tangan seorang pria yang seumur hidupnya menganggap sentuhan fisik sebagai sebuah kutukan.
Mataku yang buram oleh air mata menatap lurus ke dalam manik obsidiannya. Jarak kami begitu dekat, membiarkan embusan napasnya yang berat dan beraroma wiski menyapu bibirku. Di kedalaman matanya, aku tidak lagi melihat kejijikan absolut seperti sebelumnya. Yang kulihat adalah sebuah kebingungan yang pekat, sebuah guncangan pada fondasi kewarasan seorang Adrian Vance yang selalu penuh kendali.
"Jangan menatapku seperti itu," bisikku parau, suaraku nyaris pecah. Aku memalingkan wajah, menolak membiarkan ego seorang pemimpin mafia hancur hanya karena tatapan simpati dari pria ini. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Pergi."
Aku mencoba menarik tanganku yang masih berada dalam genggamannya, namun Adrian menahannya dengan erat. Matanya turun, menatap genangan darah yang perlahan merembes dari telapak tanganku, bercampur dengan serpihan kaca kristal di atas lantai marmer.
Rahang pria itu mengeras, urat-urat di lehernya menonjol tegang. Dalam hitungan detik yang tak pernah kuduga, Adrian menyelipkan sebelah tangannya di bawah lipatan lututku, dan sebelah lagi di punggungku.
"Apa yang—lepaskan aku, brengsek!" aku memekik tertahan saat tubuhku tiba-tiba terangkat dari lantai.
Adrian Vance, pria dengan haphephobia ekstrem, pria yang rumornya akan muntah hanya karena ujung kemejanya tersentuh bahu seorang wanita, kini mengangkat tubuhku dalam gaya bridal style.
"Diam, atau aku akan menjatuhkanmu kembali ke atas pecahan kaca ini," geramnya, suaranya berat dan mengancam, namun napasnya memburu.
Aku terdiam kaku. Wajahku tanpa sengaja terbenam di perpotongan lehernya. Aroma maskulin dari cologne mahal dan pinus musim dingin langsung memenuhi rongga dadaku, memabukkan sekaligus berbahaya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang, nyaris brutal, di balik kemeja hitamnya. Otot-otot lengannya kaku sekeras baja. Ia sedang berperang melawan dirinya sendiri. Tubuhnya menolak kedekatan ini, instingnya berteriak jijik, namun entah dorongan gelap apa yang memaksanya untuk terus mendekapku.
Itu adalah momen yang ironis dan menyedihkan. Dua manusia yang sama-sama rusak. Aku yang terjebak dalam tubuh lemah yang hancur, dan dia yang terjebak dalam sangkar fobianya sendiri.
Dengan langkah panjang yang terburu-buru, Adrian membawaku menjauh dari pecahan kaca dan membaringkanku kembali ke atas ranjang berukuran king size. Gerakannya sedikit kasar saat melepaskanku, seolah ia baru saja memegang bara api yang membakar telapak tangannya.
Pria itu mundur dua langkah, terengah pelan. Ia melepas sarung tangannya yang kini ternoda darahku dengan gerakan kasar, lalu melempar benda itu ke sudut ruangan. Matanya menatap telapak tangannya sendiri yang kini telanjang, seolah memastikan tidak ada noda yang menembus kulitnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah ketegangan di antara kami. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Dokter pribadi keluarga Vance, seorang pria paruh baya berkacamata, masuk dengan wajah pucat pasi diikuti dua orang pelayan yang membawa kotak medis darurat.
"T-Tuan Vance, saya mendengar suara pecahan barang..." Kalimat dokter itu terhenti saat melihat pecahan vas kristal dan genangan darah di lantai, lalu menatap telapak tanganku yang berlumuran darah di atas ranjang. "Astaga, Nyonya Erena!"
"Tutup mulutmu dan cepat obati tangannya, Dokter Maxwell," titah Adrian dengan nada suara yang kembali dingin dan mendominasi. "Dan pastikan dia tidak mati malam ini. Kematiannya hanya akan merepotkan perusahaanku."
Ucapan kejam itu meluncur begitu saja, mematahkan percikan simpati aneh yang sempat kurasakan beberapa detik lalu. Aku membuang muka, tersenyum sinis. Tentu saja. Seorang CEO berdarah dingin hanya memikirkan anjloknya saham perusahaan jika istrinya mati bunuh diri, bukan karena ia peduli pada nyawa Erena.
Dokter Maxwell segera mendekat dengan tangan gemetar. Pelayan dengan sigap membersihkan darah di sekitarku. Saat Dokter Maxwell menyuntikkan anestesi lokal ke area telapak tanganku yang robek, rasa perih menyengat langsung menjalar. Namun, aku tidak bereaksi. Aku tidak meringis, apalagi berteriak. Mataku hanya menatap kosong ke arah langit-langit, sementara otakku sibuk menyusun strategi tentang bagaimana aku akan bertahan hidup di kandang singa ini.