Bab 7
Dalam usahaku menahan keseimbangan, tanganku tanpa sengaja menyenggol sebuah vas kristal di atas meja rias. Benda rapuh itu jatuh, pecah berkeping-keping menghantam lantai marmer. Tubuhku ikut terjerembab, dan sebelah tanganku mendarat tepat di atas serpihan tajam kristal tersebut.
"Aaargh!" Erangan tertahan lolos dari bibirku saat beling itu merobek telapak tanganku. Darah merah segar kembali menetes, menodai marmer putih. Aku meringkuk di lantai, memegangi dadaku yang sesak, terjebak dalam rasa sakit fisik dan keputusasaan yang melebur menjadi satu.
Tepat pada detik itu, pintu kamar didorong terbuka dengan sangat kasar.
Adrian berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit memburu. Rupanya, ia belum pergi terlalu jauh, atau mungkin, ia telah memantau dari kamera pengawas tersembunyi yang ia pasang di sudut kamarnya.
Matanya yang gelap langsung tertuju padaku—pada wanita yang beberapa menit lalu menatapnya dengan penuh arogansi, namun kini terpuruk menyedihkan di atas lantai, bersimbah air mata dan darah di antara pecahan kaca.
"Apa yang kau lakukan, orang gila?!" bentak Adrian, suaranya sarat akan amarah, namun ada selirih kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.
Pria itu melangkah lebar menghampiriku. Ia tampak ragu sejenak, penyakit haphephobia-nya menjerit, melarangnya menyentuh wanita ini. Namun, saat melihat darah yang menggenang dari telapak tanganku, akal sehatnya terkalahkan oleh insting yang tak ia pahami.
Adrian berlutut dengan satu kaki di hadapanku. Tanpa memedulikan pecahan kaca yang menggores celana bahan mahalnya, ia meraih pergelangan tanganku dengan kedua tangannya yang masih terbalut sarung tangan kulit. Gerakannya kasar, namun entah mengapa terasa hati-hati saat ia menjauhkan tanganku dari pecahan kaca.
"Lepaskan..." desisku lemah. Air mata masih mengalir di pipiku, mengkhianati harga diriku yang tersisa. "Aku bilang... jangan sentuh aku."
"Diamlah, sialan," geram Adrian dengan rahang terkatup rapat. Matanya menatap tajam ke arah luka robek di telapak tanganku. "Kau mencoba bunuh diri lagi dengan pecahan kaca ini? Serendah itukah kau menghargai nyawamu sendiri, Erena?!"
Aku mendongak, menatap langsung ke dalam manik obsidiannya dengan mata yang basah namun memancarkan kilat kebencian yang mendalam.
"Aku tidak mencoba bunuh diri," suaraku serak, bergetar, memancarkan kepedihan yang membuat pria di hadapanku terpaku sesaat. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu seberapa hancurnya aku sekarang. Puas kau melihatku seperti ini, Adrian? Inikah yang kau inginkan? Melihatku hancur dan mengemis di bawah kakimu?!"
Adrian terdiam. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, namun tak melepaskannya. Jarak kami begitu dekat. Aroma wiski dan pinus miliknya menyelimutiku. Di balik tatapan dinginnya, aku bisa melihat ada benteng es yang mulai retak. Pria itu melihat air mataku—bukan air mata histeris karena kegilaan seperti yang biasa Erena tunjukkan, melainkan air mata keputusasaan yang sunyi, pedih, dan menusuk hati siapa pun yang melihatnya.
Sesuatu berdesir di dada Adrian. Ia, yang tak pernah peduli pada wanita mana pun, yang menganggap sentuhan adalah sebuah kutukan najis, kini mendapati dirinya enggan melepaskan pergelangan tangan kecil yang dingin dan bergetar ini.
"Kau bukan Erena," bisik Adrian tiba-tiba, suaranya begitu rendah hingga nyaris terdengar seperti embusan angin. Matanya menyipit, meneliti setiap inci wajahku yang terluka, mencari jawaban di balik mataku yang basah. "Erena yang kukenal tidak pernah memiliki sepasang mata sekeras... dan sepedih ini."
Aku terkesiap pelan. Jantungku berdebar tak karuan. Pria ini terlalu tajam.
Dengan gerakan perlahan yang seakan membekukan waktu, Adrian menggeser tangannya. Jempolnya yang terbalut sarung tangan kulit hitam mengusap pelan pipiku, menyapu air mata yang baru saja jatuh. Sentuhan itu tidak wajar, dibatasi oleh lapisan kulit hewan mati, namun entah mengapa terasa begitu intim dan membakar.
Itu adalah sebuah sentuhan terlarang antara dua jiwa yang rusak. Sebuah awal dari obsesi kelam yang akan menyeret kami berdua ke dalam pusaran gairah dan kehancuran yang tak berujung.