Bab 6
Pantulan Luka dan Nyala Api di Bawah Es
Keheningan di dalam kamar itu terasa begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar.
Adrian Vance mematung. Hinaan yang baru saja kulontarkan seolah menjadi tamparan tak kasat mata yang menghantam arogansinya. Selama ini, Erena adalah objek penderitaan yang bisu—sebuah pajangan bernyawa yang akan gemetar ketakutan hanya dengan mendengar dehamannya. Namun kini, wanita cacat itu menatapnya dengan arogansi seorang ratu yang siap memenggal kepala siapa saja yang berani menentangnya.
Perlahan, ekspresi terkejut di wajah tampan nan rupawan itu menguap, digantikan oleh tawa tertahan. Sebuah tawa bariton, gelap, dan mengintimidasi yang menggetarkan udara di sekeliling kami.
"Luar biasa," bisik Adrian, suaranya mengalun rendah bagai gesekan selo di tengah malam. Pria itu menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangannya yang berbalut sarung tangan kulit ke dalam saku celana. "Entah benturan itu benar-benar mengubah struktur otakmu, atau kau sedang memainkan sandiwara murahan untuk memancing ketertarikanku, Erena. Tapi asal kau tahu..."
Adrian mencondongkan tubuhnya kembali, kali ini menatapku dengan sorot mata sedingin dasar samudra. "...seekor domba yang memakai topeng serigala, pada akhirnya tetaplah hidangan utama di meja makan. Jangan memancing sisi gelapku, Istriku. Kau tidak akan sanggup menanggungnya."
"Maka biarkan aku membusuk sendiri," balasku tanpa berkedip. "Anggap aku mati, seperti yang selama ini kau inginkan."
Adrian menatapku dalam diam selama beberapa detik, rahangnya mengetat seolah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu berbalik. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai marmer dengan irama tajam sebelum pintu oak raksasa itu terbuka dan tertutup dengan suara bantingan yang menggelegar.
Brak!
Begitu suara langkah kaki Adrian menghilang di balik lorong, pertahananku runtuh.
Aura intimidasi mematikan milik sang Capo Bratva yang sedari tadi kupertahankan menguap, menyisakan realitas fisik dari tubuh Erena yang hancur. Napasku terputus-putus. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisku. Rasa sakit dari tiga tulang rusuk yang retak serasa mencabik-cabik paru-paruku setiap kali aku menarik napas.
’Sialan...’ umpatku tertahan, menggigit bibir bawahku hingga mengecap rasa amis darah demi menahan erangan kesakitan.
Dengan susah payah, aku menyingkirkan selimut sutra tebal yang menutupi separuh tubuhku. Aku harus melihat separah apa kerusakan tubuh ini. Aku butuh cermin.
Berpegangan pada tiang ranjang, aku memaksakan kedua kakiku turun. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari pergelangan kaki hingga ke sumsum tulang belakang. Tubuhku gemetar hebat. Namun, ego masa laluku sebagai seorang pemimpin mafia menolak untuk menyerah pada kelemahan fisik. Aku menyeret langkahku yang tertatih, mengabaikan tiang infus yang terpaksa kutarik kasar, menuju cermin besar setinggi langit-langit yang berada di sudut ruangan.
Begitu pantulan diriku terlihat di cermin, langkahku terhenti. Napasku tercekat.
Di sana, di balik kaca pantul yang jernih, berdiri seorang wanita asing yang tampak sangat menyedihkan.
Wajah Erena memang luar biasa cantik—kecantikan klasik bak lukisan Renaisans dengan hidung mancung, bibir mungil, dan bulu mata lentik. Namun, wajah itu kini dipenuhi memar kebiruan. Perban melilit kepalanya yang bocor. Kulitnya yang sepucat pualam tampak nyaris transparan, menonjolkan tulang selangkanya yang rapuh di balik gaun tidur berbahan satin tipis yang dipakaikan pelayan padanya.
Tiba-tiba, tanpa bisa kukendalikan, pandanganku mengabur. Ada rasa sesak yang aneh menekan dadaku. Bukan karena tulang rusukku yang patah, melainkan sebuah kepedihan emosional yang sangat asing.
Air mata yang hangat menetes begitu saja, membasahi pipiku.
’Tidak...’ batinku memberontak. ’Aku tidak menangis. Seorang Hana Rose Exric tidak menangis!’
Namun, air mata itu terus mengalir. Ini adalah sisa-sisa emosi jiwa Erena yang masih menempel pada tubuh ini. Kepedihan, rasa sepi, dan keputusasaan seorang gadis yang dibuang oleh keluarganya sendiri, dianggap gila, dan dibiarkan mati perlahan dalam sangkar emas milik pria yang membencinya.
Di saat yang bersamaan, ingatan tentang kematianku sendiri kembali menghantamku. Wajah ibuku yang lembut, yang menyelundupkan racun tanpa ia sadari. Ayahku yang menangis memeluk tubuhku yang kejang. Semua itu palsu. Semua kebahagiaan yang kumiliki di kehidupanku sebelumnya dirampas dalam satu malam.
Dua jiwa yang hancur, dua nyawa yang dikhianati, kini terjebak dalam satu tubuh yang sama-sama terluka.
"Maafkan aku, Erena..." bisikku parau pada pantulan di cermin, suaraku pecah oleh isak tangis yang berusaha kutahan. Tanganku yang gemetar terangkat, menyentuh permukaan cermin yang dingin. "Kau sendirian. Aku juga sendirian. Mereka semua membuang kita..."
Kakiku akhirnya kehilangan seluruh sisa kekuatannya. Aku merosot jatuh.
Prang!