Bab 5
[Dunia Nyata]
Aroma obat-obatan antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indraku, menggantikan bau anyir darah. Perlahan, dengan kelopak mata yang terasa seberat timah, aku membuka mata. Cahaya lampu dari langit-langit membuatku harus mengerjap beberapa kali.
Ini bukan rumah sakit. Ini adalah sebuah kamar tidur utama yang sangat luas, mewah, dengan dominasi warna monokrom yang suram dan dingin. Lenganku dihiasi jarum infus, dan kepalaku dibalut perban yang tebal. Seluruh tubuhku kaku, namun rasa sakitnya telah diredam oleh obat penghilang rasa sakit berdosis tinggi.
"Luar biasa. Kau masih hidup."
Suara berat dan dingin itu membuatku menolehkan kepala ke arah sudut ruangan yang temaram.
Di sana, duduk di atas sebuah sofa chesterfield berlapis kulit hitam, adalah Adrian Vance. Ia telah mengganti jasnya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh. Namun, sarung tangan kulit hitam itu masih setia menempel di tangannya. Kakinya menyilang angkuh, sementara matanya yang sekelam malam tanpa bintang menatapku tajam bak seorang predator yang tengah mengawasi mangsa barunya.
"Sayang sekali, bukan?" jawabku santai. Suaraku masih parau, tapi aku menolak memalingkan wajah dari tatapan intimidasinya. "Sepertinya neraka menolak menerimaku karena aku terlalu merepotkan di sana."
Mata Adrian menyipit. Pria itu meletakkan gelas kristal berisi wiski di atas meja kaca, lalu berdiri perlahan. Setiap langkahnya mendekat ke arah ranjangku diiringi oleh aura dominasi yang pekat.
"Dokter pribadi keluargaku mengatakan kau mengalami gegar otak ringan, tiga tulang rusuk retak, dan pendarahan dalam," ucap Adrian datar, berhenti tepat di samping ranjangku. Ia menatapku ke bawah, meneliti wajahku seolah aku adalah teka-teki yang rumit. "Siapa pun yang jatuh dari ketinggian itu dengan sengaja, biasanya tidak bangun dengan tatapan menantang seperti ini. Apalagi seseorang dengan rekam jejak histeria parah sepertimu."
Aku tersenyum miring, sebuah senyuman tipis yang sangat sinis. "Manusia bisa berubah saat mereka dihadapkan pada kematian, Tuan Vance. Mungkin saat kepalaku membentur tanah, kewarasanku yang hilang kembali ke tempat yang semestinya."
Adrian mendengus pelan, terdengar sangat meremehkan. "Kewarasan? Kau melarang para penjaga menyentuhmu saat kau nyaris mati kehabisan darah. Dan yang paling mengejutkan..." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah kami kini begitu dekat, membiarkan napasnya yang beraroma mint dan wiski menyapu wajahku. "...kau menepis tanganku, Erena. Kau membenci sentuhanku saat wanita lain di luar sana rela bersujud hanya untuk mendekatiku."
Aku tidak memundurkan wajahku. Justru, aku membalas tatapannya dengan intensitas yang sama gelapnya.
"Kau menganggap dirimu setinggi itu?" bisikku tajam, memastikan setiap suku kata mengiris egonya. "Biar kuperjelas, Adrian. Aku tahu kau muak melihatku. Kau menganggapku penyakit, aib, dan beban. Jangan khawatir, perasaan itu sekarang berbalas. Jangan pernah sentuh aku lagi. Karena demi Tuhan, aku lebih memilih mati membusuk di taman itu daripada harus diselamatkan oleh belas kasihan palsumu."
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Adrian Vance, ada kilat keterkejutan murni yang tak bisa ia sembunyikan. Keheningan pekat kembali melingkupi kami. Pria yang tak pernah ditolak itu kini menatap istri cacatnya dengan pandangan baru. Bukan lagi sebagai pajangan memalukan, melainkan sebagai sebuah ancaman berbahaya yang diam-diam memicu sebuah percikan gelap di dalam dadanya yang dingin.