Bab 3
Sepasang alis tebal Adrian bertaut samar. Ada kilat keterkejutan yang melintas sangat cepat di matanya sebelum kembali berganti dengan tatapan sedingin es. Ini bukan reaksi Erena yang biasa ia kenal. Erena yang ia tahu adalah wanita rapuh yang jiwanya terguncang, bukan wanita yang bisa menatapnya dengan pandangan sepasang mata elang yang haus darah.
Adrian melangkah maju satu babak, melanggar batas jarak aman yang biasa ia jaga dari wanita mana pun. Ia membungkuk sedikit, menatapku lebih dekat, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajahku. Atmosfer di antara kami mendadak berubah menjadi begitu pekat, mencekam, dan sarat akan ketegangan yang berbahaya.
"Kau... sepertinya benturan di kepalamu merusak sisa waras yang kau miliki," ucap Adrian dingin, matanya menyipit berbahaya.
"Mungkin," jawabku, seraya memaksakan tubuhku untuk bergerak. Dengan sisa tenaga yang luar biasa, aku mengabaikan rasa sakit yang meremukkan tulang-tulangku. Aku menolak bertumpu pada tanah. Aku menolak terlihat lemah di hadapan pria ini. Dengan gerakan yang patah-patah namun penuh keangkuhan, aku menyeret tubuhku untuk bersandar pada pilar batu di dekat taman, menatapnya dengan posisi kepala yang sejajar.
Kami saling mengunci pandangan dalam hening yang mencekam. Di bawah guyuran sinar bulan yang pucat, hawa membunuh dari masa laluku sebagai seorang mafia secara tidak sadar menguar dari tubuh lemah Erena. Dan entah bagaimana, Adrian yang memiliki intuisi tajam sebagai penguasa bisnis, merasakannya. Pria itu menegang di tempatnya, otot-otot rahangnya mengeras.
"Adrian! Ya Tuhan, apa yang terjadi?!"
Suara pekikan melengking dari arah pintu belakang mansion memecah ketegangan di antara kami. Seorang wanita tua dengan pakaian aristokrat yang anggun berlari kecil mendekat, diikuti oleh beberapa pelayan dan penjaga keamanan yang tampak pucat pasi. Itu adalah sang nenek, Madam Vance, wanita yang telah mengatur pernikahan paksa ini.
"Erena! Anak malang, apa yang kau lakukan?!" Madam Vance menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar saat melihat genangan darah di sekitarku. Ia menatap Adrian dengan pandangan menuntut. "Adrian! Mengapa kau hanya berdiri di sana?! Dia istrimu! Cepat bawa dia ke dalam!"
Adrian tidak bergerak satu inci pun. Ia melirik neneknya, lalu kembali menatapku dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam. "Aku tidak bisa menyentuhnya, Nenek. Kau tahu itu dengan sangat baik," jawabnya ketus, tanpa beban.
"Kau—" Madam Vance tampak geram, namun ia tahu keterbatasan cucunya. Ia segera berbalik kepada para penjaga. "Kalian semua, cepat angkat Erena dan panggil dokter pribadi keluarga sekarang juga! Jangan sampai ada satu pun media yang mengendus kejadian malam ini!"
"Siap, Madam!"
Dua orang penjaga bertubuh besar melangkah maju mendekatiku. Namun, sebelum tangan mereka sempat menyentuh seujung gaun malamku yang compang-camping, aku mengangkat satu tanganku yang berlumuran darah ke udara. Sebuah isyarat perintah yang begitu mutlak dan dingin.
"Jangan berani-berani menyentuhku jika kalian masih menyayangi sepasang tangan kalian," desisku dengan nada suara yang begitu rendah namun mampu membuat kedua penjaga itu seketika membeku di tempat.
Kekejaman dan otoritas yang terpancar dari suaraku bukanlah sesuatu yang bisa ditiru oleh orang biasa. Itu adalah suara dari seorang pemimpin yang terbiasa mengeksekusi mati bawahannya hanya dengan satu kedipan mata.
Madam Vance terengah, matanya membelalak tidak percaya mendengar ucapan menantunya yang biasanya selalu tunduk dan ketakutan. Sementara itu, di sudut mataku, aku bisa melihat Adrian Vance yang masih berdiri tegak di sana. Sudut bibir pria itu berkedut samar, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin sekaligus berbahaya. Ada kilatan ketertarikan yang gelap di matanya yang hitam.
’Siapa wanita ini sebenarnya?’ batin Adrian, instingnya berteriak bahwa wanita yang tergeletak bersimbah darah di depannya saat ini... sama sekali bukan Erena Martin yang malang.
Aku mencengkeram pilar batu di sampingku, mengabaikan teriakan protes dari tubuhku yang hancur, lalu perlahan-lahan... aku memaksakan diriku untuk berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Darah menetes dari ujung gaunku, menodai lantai marmer yang bersih, namun aku tetap berdiri tegak, menatap mereka semua dengan senyuman liar yang mengerikan. Sandiwara sebagai wanita cacat yang terbuang telah berakhir. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.