Bab 1
Namaku Hana Rose Exric. Usiaku dua puluh lima tahun.
Bagi dunia terang yang benderang, aku adalah sosok sempurna. Seorang putri semata wayang kesayangan keluarga Exric yang dikenal memiliki senyum semanis gula dan tutur kata selembut sutra. Di mata ayah dan ibuku, aku adalah malaikat kecil mereka yang rapuh, yang harus selalu dijaga dan dilindungi dari kerasnya dunia.
Namun, dunia terang hanyalah sebuah panggung sandiwara yang kuciptakan dengan sangat apik.
Di balik tirai malam, aku adalah penguasa jalanan. Pemimpin sebuah geng motor paling ditakuti. Namun, bahkan gelar anak motor itu pun hanyalah lapisan kedok yang lain. Identitas asliku jauh lebih gelap, lebih pekat, dan lebih amis dari sekadar aspal jalanan. Aku adalah seorang Capo—pemimpin sindikat mafia berdarah dingin. Kejam, egois, dan tak pernah ragu mencabut nyawa siapa pun yang berani menghalangi jalanku. Tanganku yang dikira keluargaku hanya pandai merangkai bunga, sebenarnya telah terbiasa menggenggam pistol dan memandikan musuh dengan darah mereka sendiri.
Hingga hari itu tiba. Hari di mana kesombonganku runtuh oleh sebuah taktik yang sangat pengecut.
Sore itu terasa begitu hangat. Aku duduk di ruang keluarga, tertawa lembut menanggapi lelucon ayahku. Ibuku, dengan senyum keibuannya yang selalu menenangkan jiwaku yang gelap, menyodorkan secangkir teh chamomile hangat kepadaku.
"Minumlah, Sayang. Teh ini khusus ibu buatkan agar kau bisa tidur nyenyak malam ini," ucapnya lembut, membelai puncak kepalaku.
Aku tersenyum, menyambut cangkir itu tanpa sedikit pun curiga. Bagaimana mungkin ibuku sendiri melukaiku? Namun, seteguk cairan itu melewati kerongkonganku, dan duniaku langsung hancur.
Rasa panas yang luar biasa membakar dadaku, merobek-robek organ dalamku seolah ada ribuan silet yang ditelan paksa. Cangkir porselen itu terlepas dari tanganku, pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.
"Hana?!" jerit ibuku histeris, matanya membelalak ngeri saat melihat darah segar menyembur dari mulutku, menodai gaun putih bersih yang kukenakan.
"Hana! Ya Tuhan, panggil ambulans!" Ayahku berlari, mendekap tubuhku yang mulai kejang-kejang. Tangis mereka pecah, memekakkan telinga.
Dalam pandanganku yang mulai kabur, aku menyadari satu hal dengan kepahitan yang luar biasa. Musuhku tak berani menghadapiku secara langsung. Mereka terlalu pengecut. Mereka menggunakan tangan suci ibuku—menyelundupkan racun mematikan itu ke dalam teh buatannya tanpa ia sadari.
Napas terakhirku terhembus diiringi jeritan pilu keluargaku. Kematianku menjadi hari paling kelam bagi dua dunia yang berbeda. Keluargaku menangisi kepergian si manis kesayangan mereka yang mati secara tragis. Sementara di dunia bawah tanah, kematianku memicu lautan darah. Anak buahku yang setia, kehilangan malaikat kegelapan kecintaan mereka. Malam itu, tanpa ampun, mereka melakukan pembantaian massal, memburu siapa pun yang bertanggung jawab atas kematianku, membayarnya dengan ribuan nyawa.
Aku membuka mataku, hanya untuk menemukan kekosongan.
Aku berjalan di sebuah lorong sempit, gelap, dan terasa sangat panjang. Sunyi senyap. Tidak ada rasa sakit, tidak ada intrik, tidak ada darah.
Apakah ini kematian? batinku. Sebuah senyum tipis, senyum tulus yang jarang sekali kutunjukkan semasa hidup, mengembang di bibirku. Akhirnya... hidupku tenang juga. Aku akhirnya mati.
Namun, baru saja pikiran itu melintas, sebuah tarikan yang luar biasa kasar dan menyakitkan menyentak jiwaku. Rasanya seperti ditarik paksa dari dasar lautan ke permukaan dalam hitungan detik.
Duniaku berputar, dan rasa sakit yang lebih parah dari racun itu menghantamku.
"Aaaarrgh!"
Aku terkesiap, menarik napas panjang dengan rakus seolah baru saja tenggelam. Aroma obat-obatan, bau anyir darah, dan debu langsung menyerang indra penciumanku. Mataku terbuka, pandanganku berbayang melihat langit-langit ruangan yang asing. Seluruh tulangku seakan remuk redam.
Bersamaan dengan rasa sakit yang mendera, potongan-potongan ingatan yang bukan milikku membanjiri otakku bagai kaset rusak yang diputar paksa.
Erena Martin.
Itu nama pemilik tubuh ini. Seorang wanita berusia dua puluh empat tahun. Wajahnya digambarkan sangat cantik, bak boneka porselen. Namun, nasibnya seburuk sampah yang dibuang ke pinggir jalan. Keluarganya sendiri membuangnya karena ia dianggap sebagai aib. Erena cacat—bukan fisik, melainkan cacat mental. Ia memiliki gangguan kejiwaan yang parah. Setiap kali penyakitnya kumat, ia akan mengamuk, menyakiti orang-orang di sekitarnya, dan bahkan melukai dirinya sendiri tanpa sadar.
Di saat Erena hidup menggelandang, bingung, dan terlantar, seorang wanita tua dari keluarga terpandang membawanya pulang. Bukannya dirawat sebagai manusia, Erena justru dijadikan alat. Wanita tua itu menikahkan Erena secara paksa dengan cucunya—seorang CEO tampan, dingin, dan berkuasa.