Naga zaman sekarang tidak menyemburkan api karena marah. Mereka menyemburkan api karena asam lambung naik akibat stres memikirkan cicilan rumah.
Namaku Aris. Pekerjaanku adalah agen properti khusus makhluk mitologi di Jakarta. Tugas utamanya sederhana: memastikan para makhluk halus dan hewan sakti yang ingin insaf dan tinggal di kota, tidak membuat tetangga manusia mereka jengkel.
Pagi itu, gawaiku bergetar hebat. Ada komplain dari Apartemen Sudirman lantai 14. Tetangga sebelah mengeluh dinding kamar mereka mendadak panas seperti oven dan tercium bau belerang yang menyengat.
Saat aku mengetuk pintu unit 1402, kepulan asap hitam tipis menyambutku. Di dalam ruangan yang pengap, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan tato sisik hijau di lengannya. Beliau adalah Pak Danu, atau nama aslinya Ignis Volans—seekor naga tanah Jawa yang tersisa di bumi.
"Pak Aris, tolong saya!" keluh Pak Danu sambil terbatuk. Dari mulutnya keluar percikan api kecil yang nyaris membakar gorden.
"Pak Danu, tenang," kataku sambil menyalakan kipas angin. "Anda stres lagi, ya?"
"Bagaimana tidak stres? Saham saya anjlok kemarin! Ditambah lagi AC apartemen ini mati!" Pak Danu meremas rambutnya frustrasi.
Secara sains biologi modern, naga sebenarnya adalah reptil dengan kelenjar kimia khusus di tenggorokannya yang memicu api. Di alam liar, mereka membakar mangsa. Namun di kota besar, polusi udara membuat paru-paru mereka berat, sehingga mereka tidak bisa terbang lagi. Biar bisa bertahan hidup, mereka menyusutkan ukuran tubuh menjadi sewujud manusia dan bekerja kantoran sebagai akuntan atau pialang saham karena otak mereka sangat cepat menghitung angka.
Masalahnya, jika mereka stres, kelenjar api itu akan aktif otomatis secara biologis.
"Kalau Pak Danu tidak bisa mengontrol emisi api ini," kataku sambil menunjukkan layar tablet kerjaku, "Dinas Lingkungan Hidup akan menyita batu inti kesaktian Anda. Anda mau dideportasi ke Kebun Zoo dan jadi tontonan anak-anak sambil dikasih makan pisang?"
Mendengar kata 'Kebun Zoo', wajah Pak Danu langsung pucat pasi. Harga dirinya sebagai naga terluka. "Lalu saya harus bagaimana? Mantra penenang kuno saya sudah tidak mempan!"
"Kita pakai logika sains manusia," aku berjalan ke dapur, membuka kulkasnya, lalu mengambil sebongkah es batu besar. Aku memasukkannya ke dalam segelas air dingin.
"Naga bernapas api karena tubuh Anda kelebihan zat fosfor akibat terlalu banyak makan daging siap saji di mal," jelasku. "Mulai hari ini, Anda harus diet sayur. Dan setiap kali Anda merasa dada Anda panas karena stres, kunyah es batu ini."
Aku menyodorkan gelas itu. Pak Danu menerimanya dengan ragu, lalu memasukkan es batu tersebut ke dalam mulutnya.
Cisssssss!
Suara uap air mendesis nyaring keluar dari kedua lubang hidung dan telinganya. Es batu itu langsung menetralisir panas ekstrem di kerongkongannya. Dalam hitungan detik, suhu ruangan yang tadinya mirip ruang sauna berubah menjadi sejuk kembali. Sisik hijau di lengan Pak Danu perlahan memudar, berganti menjadi kulit manusia biasa.
"Luar biasa..." gumam Pak Danu dengan mata berbinar-binar penuh keaktifan. "Dingin sekali. Dadaku rasanya plong."
"Sama-sama, Pak. Itu sudah tugas saya," kataku sambil tersenyum dan menandatangani laporan damai di gawai.
Namun, tepat saat aku melangkah keluar dari apartemen Pak Danu, sebuah alarm darurat berwarna merah menyala di layar gawaiku. Ada panggilan masuk dari kawasan SCBD.
“Peringatan: Seekor Siren (putri duyung bersuara mistis) salah mengambil job. Dia bernyanyi di ruang audio bursa efek menggunakan mikrofon otomatis, membuat seluruh pialang saham tertidur pulas dalam kondisi terhipnotis. Kerugian ekonomi mencapai 10 miliar per menit.”
Aku memijat pelipisku yang mendadak pusing, lalu merogoh tas kerjaku untuk memastikan earphone kedap suara milikku aman.
"Hari Senin yang biasa," bisikku sambil berlari menuju lift, siap menyelamatkan perekonomian negara dari nyanyian pengantar tidur makhluk air.
Note: maaf khayalan ku terlalu jauh🐼