Di sebuah kota kota, berdirilah sebuah tempat sederhana yang menerima perawatan bagi anjing, kucing, dan berbagai hewan lainnya. Setiap hari, para perawat hewan datang dengan senyum, membersihkan kandang, mengobati luka, memberi makan, dan menenangkan hewan-hewan yang ketakutan atau terlantar.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu terlihat biasa. Namun, bagi hewan-hewan yang mereka rawat, kasih sayang itu adalah harapan untuk tetap hidup.
Suatu sore, seorang siapa pun datang membawa seekor anjing yang terluka. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, "Terima kasih. Saya tidak sanggup merawatnya sendiri."
Para perawat itu hanya tersenyum dan mulai bekerja. Mereka tidak mengharapkan pujian. Mereka percaya bahwa setiap makhluk hidup pantas diperlakukan dengan belas kasih.
Melihat pengabdian mereka, banyak orang tergerak untuk ikut membantu. Ada yang menyumbangkan makanan, ada yang menjadi relawan, dan ada pula yang mengadopsi hewan-hewan yang telah sehat kembali.
Di akhir hari, seorang pengunjung mengucapkan, "Terima kasih kepada kalian yang merawat anjing, kucing, dan hewan lainnya. Kebaikan kalian telah meringankan penderitaan banyak makhluk hidup. Semoga setiap amal baik yang kalian lakukan menjadi kebaikan yang dibalas oleh Tuhan."
Sejak saat itu, tempat sederhana itu bukan hanya dikenal sebagai jasa perawatan hewan, tetapi juga sebagai rumah yang dipenuhi kasih sayang bagi makhluk-makhluk yang tak mampu meminta pertolongan dengan kata-kata.