Angin kencang menerjangku, seperti ombak yang menghantam karang. Dingin sekali—dingin yang menusuk sampai ke tulang, hingga terasa menyakitkan di seluruh kulit.
Jantungku berdebar kencang.
Lalu semakin kencang.
Dan semakin kencang lagi, seolah ingin melompat keluar dari dadaku sendiri.
Jauh di bawah sana, sebuah kota terlihat kecil—orang-orangnya tak lebih dari titik-titik semut yang berkerumun tanpa tahu apa yang sedang terjadi di atas mereka. Di sekelilingku hanya ada awan, kosong, tak berujung, tak ada satu pun pegangan yang bisa kuraih untuk menghentikan jatuhku.
Tanganku bergetar hebat, mencoba meraih udara kosong yang tidak pernah bisa digenggam. Rasa takut merambat semakin dalam, menjalar dari ujung jariku sampai ke dada, sampai jantungku sendiri seperti merasakan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Semakin lama aku jatuh, semakin kuat rasa takut itu mencengkeram—seolah tubuhku tahu, sebentar lagi semuanya akan berakhir, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Apa aku akan mati hari ini.
Suara angin menderu begitu keras di telingaku, jatuh tanpa siapa pun yang bisa menolongku.
Tanah semakin dekat.
Lalu semakin dekat.
Jlem💢
Mataku terbuka paksa. Dadaku berdenyut nyeri, seolah benar-benar baru saja menghantam tanah sekeras itu. Semua yang barusan kurasakan—dingin, angin, ketinggian, jatuh tanpa akhir—terasa begitu nyata, seakan bukan sekadar mimpi.
Napasku memburu, tidak beraturan. Aku terbaring diam sejenak, membiarkan detak jantungku mereda sambil mengingat-ingat apa yang baru saja kualami.
Lalu aku berbisik pelan dalam gelap,
"Kenapa aku terus bermimpi seperti ini?"
TAMAT