Aku berlari sekuat tenaga. Tidak bertanya. Tidak berteriak. Tidak berhenti. Satu-satunya yang berputar di kepalaku hanya satu hal.
Jangan sampai tertangkap.
Di belakangku, sosok itu terus mengejar—perempuan berbalut kain putih lusuh yang berkibar tiap kali ia terbang. Rambutnya panjang dan basah, menutupi seluruh wajahnya seperti tirai hitam yang sengaja disembunyikan dari mataku. Dan justru karena aku tidak bisa melihat wajah itulah, rasa takutku berlipat ganda.
Napasku memburu. dan jantungku berdetak sangat cepat. Aku tidak tahu sedang berada di mana. Yang bisa kulihat hanya atap beton tak berujung, tak bercelah. Di sisi kiriku, tembok beton memanjang tanpa putus. Di sisi kanan, deretan mobil berbaris rapi menempel dinding, diam, seolah ikut menyaksikan tanpa bisa menolong.
Aku tidak tahu kenapa aku begitu takut tertangkap. Aku bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ada di tempat ini, berlari tanpa arah yang jelas. Tapi rasa takut tidak memberi ruang untuk bertanya-tanya. Ia hanya memberi satu perintah.
Lari.
Satu menit berlalu. Langit-langit di atasku masih sama, berulang, tak berujung.
Lima menit berlalu. Tembok di kiriku masih memanjang, seolah lorong ini sengaja dibuat tanpa akhir.
Sepuluh menit berlalu. Mobil-mobil di kanan masih berbaris rapi, diam, membisu, seakan tempat ini terjebak dalam waktu yang sama, berulang-ulang, tanpa peduli seberapa jauh aku berlari.
Dan suara di belakangku—wanita berambut panjang terbang sangat dekat, sekencang apapun aku berlari, selalu berada dalam jarak yang sama.
Lalu aku melihatnya.
Di depan, sesuatu yang gelap menganga di tengah lorong. Bukan pintu, bukan lubang biasa. Sebuah kekosongan hitam pekat yang seperti menelan cahaya di sekitarnya. Aku tidak tahu apa itu. Aku tidak tahu ke mana ia akan membawaku. Yang kutahu hanya satu—itu satu-satunya tempat yang kupunya untuk selamat.
Aku memacu langkah, memaksa kaki yang mulai mati rasa untuk berlari lebih kencang lagi. Suara kain basah di belakangku semakin dekat. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan hawa dingin menjalar di tengkukku.
Wuuush—
Aku melompat.
Untuk sepersekian detik aku melayang di udara, dan entah kenapa, di saat seperti itu aku justru menoleh ke belakang.
Tangan perempuan itu terulur, hampir menyentuh ujung bajuku.
Di seperkian detik itu aku merasakan ketakutan yang berlipat ganda, takut perjuanganku sia-sia setelah dia menangkapku.
Lalu semuanya menghilang saat tubuhku, ditelan kegelapan itu.
"Hah... hah... hah..."
Aku membuka mata dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, meresap ke sprei, dingin dan lengket di kulit. Jantungku masih berdetak seolah aku baru saja benar-benar berlari sejauh itu. Rasa takut belum juga pergi—ia masih bersarang di dadaku, menolak untuk dilepaskan.
Aku menangis tanpa suara. Hanya menatap kosong ke arah tembok kamar, tidak berani bergerak, tidak berani berkedip terlalu lama.
Di sudut ruangan, tergantung seragam SD-yang ku pakai sekolah setiap hari.
Semakin hari, rasa takut itu semakin menjadi. Aku takut memejamkan mata. Takut kembali ke lorong itu. Takut suatu malam nanti, aku tidak akan sempat menemukan lubang hitam itu lagi.
Dan tertangkap oleh wanita itu.
Aku menarik selimut sampai menutupi mulutku, suaraku bergetar pelan dalam gelap.
"Mama... Papa... aku takut."
TAMAT