Orang bilang, sebuah hubungan itu harus punya peta. Harus punya titik koordinat yang jelas: ke mana arahnya, kapan akan berhenti di dermaga bernama pernikahan, dan bagaimana rambu-rambu yang harus ditaati. Tapi aku dan dia? Kami adalah dua orang yang tersesat di hutan yang sama, dan anehnya, kami menikmati kesesatan itu.
Hubungan kami sudah berjalan lebih dari satu tahun.
Di mata orang lain, kami adalah definisi dari pasangan yang sempurna. Tidak pernah ada drama publik, tidak pernah ada pertengkaran yang meledak-ledak. Orang tua kami pun sudah menyatu.
Papaku, pria yang biasanya irit bicara dan punya standar tinggi untuk siapa pun yang mendekatiku, justru bisa tertawa lepas saat mengobrol dengannya. Itu adalah sebuah anomali.
Namun, di balik fasad yang tenang itu, ada rahasia yang hanya kami yang tahu: kami tidak punya tujuan.
Aku adalah orang yang sulit percaya. Komitmen bagiku adalah kata yang menakutkan, serupa dengan ancaman. Dia pun sama. Sejak awal, dia sudah menegaskan, "Gue nggak janji bisa bawa lo sampai ke tujuan itu. Gue nggak janji soal pernikahan."
Kami tidak pernah bertukar kata-kata manis. Tidak ada "Aku sayang kamu" atau "Aku cinta kamu".
Panggilan kami pun sekadar "gue" dan "lo". Bahkan, cara kami berkomunikasi adalah antitesis dari tren pasangan zaman sekarang yang merasa harus terhubung 24 jam. Baginya, mengirim satu kata di chat atau satu telepon singkat sudah merupakan sebuah kemewahan. Kami lebih suka diam bersama daripada membuang energi dengan deretan teks di layar ponsel.
"Gue udah balik," pesannya singkat suatu sore. Atau kadang, dia hanya menelepon untuk memberi tahu bahwa dia sudah menunggu di depan teras rumahku.
Dan itulah saat-saat terbaik kami. Dia akan datang membawa bungkusan makanan yang entah bagaimana selalu tahu apa yang sedang kuinginkan.
Kami akan duduk lesehan di teras, memakan makanan itu berdua, ditemani angin malam dan obrolan tentang hal-hal tidak penting yang membuat kami tertawa hingga perut sakit.
Terkadang, kalau dia sedang kesal, dunianya akan berubah menjadi sunyi. Dia tidak akan bercerita, dia hanya akan memintaku datang ke rumahnya. Di sana, di samping tempat tidurnya, aku akan duduk diam. Dia fokus pada ponselnya, aku pun begitu.
Keheningan itu mencekik, tapi menenangkan. Lalu, setelah beberapa saat, sebuah pola akan tercipta.
"Mau mie nggak?" tanya-nya tiba-tiba.
Aku selalu menjawab "mau". Padahal, aku tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia pergi ke dapur, kembali beberapa menit kemudian, lalu berkata dengan wajah datar, "Mienya habis. Tadi gue makan."
Aku akan tertawa. Itu adalah kode. Itu adalah cara dia memecah kekesalan, cara dia mengatakan bahwa badainya sudah reda. Dia memang aneh, tapi dia rumah bagiku.
Namun, di balik keheningan itu, dia adalah sosok yang paling menyebalkan yang pernah kukenal. Dia akan menendang-nendang sepatuku di jalanan seperti sedang bermain bola, mengacak-acak rambutku tepat setelah aku menghabiskan waktu satu jam untuk mencatoknya, atau mencubit perutku yang berlemak sambil tertawa jahat. Dia pernah mengurungku di dalam selimut dan membiarkanku berteriak kesal.
Dan jujur saja, awal hubungan kami pun sama kacaunya. Kami hanyalah dua orang yang hobi saling ejek. "Nggak ada yang mau sama lo, karena lo nyebelin," katanya waktu itu.
"Emang lo ganteng?" balas aku tak mau kalah.
Lalu tiba-tiba, di tengah ejekan itu, dia menyelutuk, "Ya sudah, kalau nggak ada yang mau, kita jadian saja lah."
Aku tercengang. Belum sempat aku memproses, dia menambahkan, "Nggak ada jawaban lain selain iya."
Begitu saja. Tanpa bunga, tanpa janji, tanpa romansa sinetron. Namun, justru di sanalah letak segalanya. Tindakannya jauh lebih keras daripada kata-kata yang tidak pernah kami ucapkan. Dia tidak pernah bilang cinta, tapi dia membuktikan bahwa dia ada. Dia adalah segalanya bagiku, seseorang yang aku ingin terus temani, meski aku tidak tahu ke mana langkah kami akan berujung.
Hingga suatu hari, takdir memutuskan untuk mengambil kendali yang lebih besar.
Hari itu, seperti biasa, dia pulang kerja. Dia menelepon, menanyakan apa yang ingin kumakan.
Dia membawakan ramen kesukaanku. Itu adalah pesan terakhir yang kuterima darinya.
Dia pergi, bukan karena dia ingin, tapi karena Tuhan memutuskan bahwa dia harus pulang untuk selamanya.
Dua tahun telah berlalu sejak hari itu.
Dua tahun. Bukan dua hari, bukan dua minggu. Tapi setiap detik terasa seperti siksaan yang berkepanjangan. Orang-orang menyuruhku untuk ikhlas. Mereka bilang, "Kamu harus kuat, kamu harus mengikhlaskannya."
Aku pernah mencoba. Aku pernah belajar untuk memaafkan keadaan. Tapi sekarang, aku sadar satu hal: semua itu bohong. Ikhlas itu hanya kata-kata yang diucapkan orang agar mereka tidak merasa sedih melihat kesedihanku.
Duduk di teras ini, aku masih membayangkan dia datang, menanyakan aku mau makan apa, lalu kita tertawa tentang hal-hal konyol yang tidak ada artinya. Rasanya, aku lebih sanggup hidup dalam ketidakpastian, lebih sanggup menahan rasa sakit karena tidak dikabari, asalkan dia masih ada di sini.
"...ini sudah dua tahun, bukan dua hari tanpa lo, Seng!" bisikku ke udara kosong.
Aku masih di sini, menunggu seseorang yang tidak akan pernah pulang, dan menyadari bahwa ikhlas ternyata tidak pernah ada. Yang ada hanyalah rindu yang dipaksa diam, dan sebuah hubungan yang memang tidak punya tujuan, namun kini terhenti selamanya di titik yang paling menyakitkan.