Untukmu yang Menungguku Datang...
Sudah berapa lama aku terombang-ambing di pelukan laut?
Berapa lama lagi hingga para petugas menemukan kami?
Dan, berapa lama lagi tubuh ini sanggup bertahan sebelum seluruhnya menjadi milik samudra?
Tubuhku tak lagi mampu kugerakkan. Pandanganku perlahan ditelan kabut. Tak ada yang dapat kulakukan selain menunggu, berharap akan ada tangan yang merengkuhku kembali ke permukaan.
Sekawanan ikan badut mulai mengitari tubuhku, seolah menyambut seorang tamu yang sebentar lagi akan menjadi penghuni baru kedalaman.
Tubuhku terus ditarik ke bawah, perlahan, nyaris tanpa perlawanan. Laut seakan ingin menyembunyikanku di sudut paling sunyi, tempat cahaya tak pernah berani singgah.
Dan di ambang antara hidup dan mati, hanya satu nama yang memenuhi benakku.
Zeno.
***
Untukmu, Zeno.
15 Agustus 2012
Zeno,
Aku sudah memesan tiket kapal menuju Balikpapan. Minggu depan aku akan berangkat.
Maaf karena baru sekarang aku bisa datang. Aku benar-benar tidak tahu bahwa kecelakaan itu membuatmu harus terbaring di rumah sakit.
Sesampainya di Balikpapan nanti, tempat pertama yang akan kudatangi adalah rumah sakit tempatmu dirawat.
Jadi... tunggulah aku sedikit lebih lama.
Salam hangat.
***
Hei, Zeno.
Sedang apa sekarang?
Apakah kondisimu sudah membaik?
Aku berharap tubuhmu pulih, dan hari-harimu selalu dipenuhi orang-orang yang memperlakukanmu dengan tulus.
Masih ingatkah kau saat apel kesukaanmu terjatuh, lalu kau menangis seolah dunia ikut runtuh bersamanya?
Masih ingatkah pertemuan pertama kita?
Masih ingatkah bagaimana kau bersusah payah membujukku ketika amarahku tak kunjung reda?
Aku masih mengingat semuanya.
Tatapanmu.
Tawamu.
Suaramu.
Bahkan udara yang mengelilingi kita saat itu masih terasa begitu nyata di dalam ingatanku.
Zeno...
Seandainya ombak itu tak membalikkan kapal ini, mungkin saat ini kita sudah saling menatap dan tertawa seperti dulu.
Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku.
Setelah ini, hiduplah sebagaimana yang selalu kauimpikan.
Kini aku tak lagi dapat mendengar hujan yang mengetuk bumi, tak lagi mendengar burung-burung yang bernyanyi di pagi hari, bahkan suaramu pun perlahan menjauh dariku.
Namun jangan bersedih.
Aku akan tetap menjagamu. Laut akan menjadi mataku. Angin akan menjadi telingaku. Burung-burung akan menjadi suaraku.
Kelak, ketika tubuhmu telah kembali sehat, datanglah ke laut.
Aku akan meminta ombak berlari memeluk bibir pantai sebagai tanda bahwa aku bahagia melihatmu.
Aku akan meminta ikan-ikan berenang mendekati tepian sebagai salam dariku.
Dan bila semua itu kaujumpai...
Menangislah untukku.
Karena sesungguhnya aku ada di sana, memandangmu dari kedalaman yang tak mampu kaujamah, dengan senyum yang tak lagi bisa kaulihat.
Lalu akan kutitipkan rasa terima kasihku kepada burung-burung.
Biarlah mereka mengelilingimu, sebab hanya dengan cara itulah aku masih bisa mengatakan bahwa aku tak pernah benar-benar pergi.
Untukmu yang menungguku datang.