Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku hanya ingin tidur seperti malam-malam sebelumnya. Namun keheningan perlahan berubah menjadi sesuatu yang tak pernah bisa kulupakan.
Libur sekolah membuat jadwal tidurku berantakan.
Hampir setiap malam aku baru memejamkan mata sekitar pukul dua belas. Awalnya tidak ada yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa.
Di rumah hanya ada aku, mama, papa, dan nenek. Kami memiliki kamar masing-masing. Namun malam itu berbeda. Nenek sedang menginap di rumah cucunya yang lain, sehingga rumah terasa jauh lebih sepi dari biasanya.
Entah kenapa, sejak malam mulai larut, suasananya terasa begitu asing.
Sekitar pukul sebelas malam...
Seekor ayam berkokok.
Aku tidak terlalu memikirkannya. Orang-orang memang sering mengatakan ayam yang berkokok tengah malam menandakan sesuatu, tetapi di tempat tinggalku itu sudah cukup sering terjadi. Aku menganggapnya hal biasa.
Tepat pukul dua belas, aku memutuskan untuk tidur.
Anehnya, malam itu mataku sama sekali tidak mau terpejam.
Kupikir mungkin karena udara sedang dingin, jadi aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
Beberapa menit berlalu.
Di balik keheningan malam, samar-samar terdengar suara anak ayam.
"Ciiip... ciiip..."
Suara itu terdengar seperti anak ayam yang sedang kehilangan induknya.
Aku menghitungnya tanpa sadar.
Satu...
Dua...
Tiga...
Hingga delapan kali.
Lalu...
Sunyi.
Keheningan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Tiba-tiba...
Aku merasakan seseorang menyentuh pinggangku.
Pelan.
Seperti sebuah colekan.
Karena posisi tubuhku sedang menyamping, aku langsung menyingkap selimut dengan refleks.
Tidak ada siapa pun.
Pintu kamarku masih terkunci rapat.
Mama dan papa tidak mungkin masuk tanpa membukanya.
Aku hanya mengembuskan napas panjang.
"Mungkin cuma perasaanku."
Aku kembali berbaring dan mencoba memejamkan mata.
Entah berapa lama kemudian, aku terbangun lagi.
Kulirik layar ponsel.
Pukul 01.00.
Karena kesal belum juga bisa tidur, aku menggaruk kepalaku pelan.
Saat itulah...
Di dekat telingaku terdengar suara seorang perempuan.
Pelan.
Jelas.
"Ssttt..."
Nadanya bukan marah.
Bukan pula berbisik biasa.
Lebih seperti seseorang yang sedang meminta diperhatikan... atau menyuruhku diam.
Tubuhku membeku beberapa saat.
Namun, anehnya, aku memilih mengabaikannya.
Aku tidak membangunkan mama atau papa.
Aku juga tidak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun.
Hari-hari berikutnya, setiap kali malam tiba, aku semakin sering sulit tidur.
Kadang terdengar suara benda jatuh dari luar rumah.
Kadang ayam kembali berkokok di tengah malam.
Dan setiap kali keheningan datang...
Aku selalu teringat pada suara itu.
"Ssttt..."
Sampai sekarang, aku tidak tahu apakah malam itu hanya permainan pikiranku yang kelelahan...
...atau memang ada sesuatu yang ingin membuatku menoleh.
terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami sendiri.
tamatttt