Udara berubah dingin. Dingin yang aneh. Dinding yang bukan dinding biasa. Apa itu? Ah.. ini bukan sebuah ruangan.. ini... sebuah tempat dengan aroma menusuk... langit-langitnya tinggi, bukan.. bukan langit-langit.. tempat ini senyap. Lebih dari hening. Mencekam. Membuat bulu kuduk seketika meremang.
Aku melihat sesuatu.. apa itu? Sesuatu yang menempel di dinding yang bukan dinding. Mengapa aku tak bisa berpikir? Tumpulkah otak pintarku? Dimana ini?
Sesuatu itu menempel erat...ada yang bersinar. Matanya. Sesuatu itu bersinar...apa? Ya.. itu kelelawar.
Aku mencoba bernafas. Tak bisa. Kemana nafasku? Tapi aku belum mati. Aku belum jadi mayat.
Aku masih bisa bergerak. Tidak! Aku tidak bisa bergerak!! Aku mati?? Tidak!!! Aku tidak mati.
Belum…
Tapi apa ini? Kotak?? Kaca?? Aku kaku. Mana refleksku? Tubuhku masih ada. Masih utuh. Mataku masih melihat. Sosok yang menempel itu perlahan bergerak. Menyeringai. Seolah mengejek. Itu bersayap.. aku masih diam. Hanya mataku yang bergerak gelisah. Bukan takut. Hanya senyap ini tak nyaman.
Terbang. Sesuatu itu terbang. Kelelawar. Ah ya benda itu binatang. Vampir. Bukan. Kelelawar biasa.
Matanya nyalang. Suaranya mengikik. Menerjangku. Menyerang. Tapi ia memekik kesakitan.
Menabrak sesuatu. Apa? Kaca itu. Dia menabrak kaca. Terpental jatuh.
Aku tak bisa bernafas. Susah payah mencari udara. Aku sesak..Tapi kenapa masih bisa melihat?
Benarkah aku mati? Inikah neraka? Alam barzah?
Aku memejamkan mata... Bisa. Aku belum mati. Hanya tubuhku yang mati. Jasad? Bukan. Masih hangat. Aku kembali mencoba berpikir. Tak bisa. Kemana otakku? Hilang. Tidak.. aku masih mengenali sekelilingku. Aku belum MATI.
Aku mencoba menggerakkan tangan dan kakiku. Kaku. Tegak. Masih hangat. Aku merasakan sesuatu atau seseorang bergerak. Telingaku tak mendengar apapun. Hanya bisa merasakan. Hatiku tak merasa apapun.
Mata dan telingaku yang masih berfungsi. Kabar baik. Aku belum MATI. Aku tertawa. Mulutku bergerak. Aku belum MATI. Tak ada suara. Bisu. Aku bisu? Sial. Padahal aku belum MATI.
Kembali aku merasakan seseorang bergerak. Mendekatiku. Ah aku tak bisa melihat ke samping.
Hanya bisa menatap ke atas. Wajahku mati rasa.
Apa ini? Aku merasakan seseorang atau sesuatu di dekatku. Mana? Mengapa tak terlihat?
Mengapa aku penasaran. Bukan takut.
Aroma apa ini? Bukan aroma aneh. Aroma yang merayap masuk indra penghiduku. Aku terbuai.
Mengapa aku tersenyum? Aku menikmati aroma ini. Tak asing. Candu. Aku pernah merasakannya.
Dingin. Menusuk. Kulitku merinding. Kulitku merasakan hawa dingin yang aneh. Aku hanya meremang. Bukan takut. Hanya kesal. Mengapa? Tapi mengapa aku seperti menantikannya. Aku merindukannya? Kenapa? Otakku sudah hilang tapi mengapa aku seperti mengingatnya.
Sesuatu atau seseorang itu kian dekat. Aromanya semakin merasuk ke dalam penghiduku. Kiandalam. Jiwaku rasanya penuh dengan aromanya yang memabukkan. Candu. Aku menginginkannya. Entah apa.
Aku semakin terlena. Nafasku yang tak bisa kurasakan. Tubuhku yang kaku. Tapi aku mendambanya. Aneh. Telingaku menangkap lirihan. Aku merinding. Tubuh kaku ku tiba-tiba meremang. Mataku nyalang mencari. Buas mataku mencari. Tak ada. Aku kembali kesal.
Tutup kotak kaca tempat aku berada terangkat. Tak ada siapapun. Tak ada tangan yang mengangkatnya. Ajaib. Tutup kotak kaca itu terangkat. Aku melihat jelas sekarang. Ini gua. Ya akuyakin meski tanpa otakku aku tahu ini gua.
Telingaku kembali tegak. Lirihan itu kembali. Ada suara lain. Duhai otak kosongku kembalilah. Aku tak bisa berpikir. Tapi suaranya sayup. Dari kejauhan. Nyanyian. Ah bukan. Itu suara musik. Aku tahu itu. Gamelan. Gending. Ah otakku kembali. Aku meringis.
Sayup dan hanyut oleh angin. Entah mengapa aku mendambanya. Suara itu merangsek masuk kedalam kalbuku. Memenuhinya tanpa permisi. Hei... apa ini? Mataku basah. Aku menangis.
Mengapa? Lagi-lagi otakku kembali hilang. Aku merutuk.
Aroma dan suara ini. Aku menginginkannya. Sangat. Sesuatu dalam diriku membuncah. Gairah.
Hasrat. Aku merasakan panas dalam diriku. Seolah terbakar.
Netraku yang basah menangkap siluet bayangan. Aku menyipitkan mata. Pahatan apa itu.
Mahakarya. Indah. Sempurna. Tanpa cela. Nafasku kembali. Memburu. Aku begitu menginginkannya. Sosok yang belum terlalu jelas itu. Tubuhku sudah mencandunya. Perasaan apa ini? Gilaaa.
Sosok itu kian mendekat. Lambat. Perlahan. Kian dekat. Penghiduku mengenalnya. Aromanya yang memabukkan.
Kian nampak. Kian jelas. Sosok itu tersenyum. Aku terpana. Aku terpaku. Sosok sempurna. Lelaki. Pria. Ah bukan. Lelakiku. Aku begitu mendambanya.
Dalam balutan kain bersulam emas. Dengan ikat pinggang kain batik yang terselipkan keris pusaka disana. Tanpa baju. Hanya bawahan seperti pangsi pendek berwarna hitam dengan selempang kain hitam berenda sulam emas.. Di pergelangan tangannya seperti perhiasan gelang emas yang indah. Khas kerajaan zaman dahulu.
Sosok itu semakin mendekat. Manusia. Dia manusia. Manusia nyaris sempurna. Bukan. Lebih dari sempurna. Teramat tampan. Wajahnya pahatan sempurna. Tak bercela. Senyumnya memabukkan. Aku hilang waras.
Tangannya terulur, meraih tanganku yang dingin. Seketika aku HIDUP. Sihir. Magic. Apapun itu. Seketika gua tersebut menjadi istana yang megah.
" Selamat datang kembali pengantinku, permaisuriku, ratuku, Kanda sudah terlalu lama menunggu selama ribuan tahun... "