Malam membungkus kota dengan kepalsuan yang megah. Di bawah lampu jalan yang temaram, bayangan tubuh kurus tegap itu memanjang di atas aspal basah. Sepasang mata cekung milik lelaki itu menatap lurus ke arah puncak gedung pencakar langit yang menembus awan malam. Di lantai paling atas gedung kaca tersebut, cahaya lampu benderang mengusir gelap secara paksa.
Pikiran lelaki itu terbang menembus dinding beton dan kaca tebal di atas sana. Di dalam ruang rapat ber-AC yang dingin, para petinggi berpakaian rapi sedang sibuk. Mereka berdebat, mengetuk palu, dan merumuskan pasal-pasal dalam undang-undang kesejahteraan rakyat. Kepala mereka dipenuhi angka-angka statistik, target pertumbuhan ekonomi, dan presentasi yang tampak sempurna di layar proyektor. Mereka merasa telah menjadi pahlawan bagi nasib jutaan jiwa di luar sana.
Namun, di bawah sini, kenyataan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Angin malam berhembus membawa bau busuk sampah yang menyengat dari kolong jembatan, tepat di bawah kaki lelaki itu berdiri. Bau itu begitu pekat, menusuk hidung, dan terus mengingatkannya pada realitas yang getir. Baginya, aroma busuk ini adalah bukti otentik betapa jauhnya jarak antara lembaran kertas undang-undang dan isi perut rakyat yang kelaparan. 'Sejahtera' yang mereka janjikan dari atas mimbar terasa seperti lelucon pahit yang sengaja dibisikkan ke telinganya setiap hari.
Dari kegelapan kolong jembatan, sepasang mata lain ikut mengamati. Seorang petugas keamanan dari balik pos penjagaan gedung megah itu terus memantau gerak-gerik sang lelaki. Melalui kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sudut jalan, setiap helaan napas berat dan kepalan tangan lelaki di bawah lampu jalan itu terekam dengan jelas. Bagi sistem keamanan, lelaki berpakaian loak itu adalah potensi ancaman yang harus diawasi ketat. Dua dunia yang hanya berjarak beberapa ratus meter itu saling memandang dengan penuh kecurigaan, dipisahkan oleh sekat tak kasatmata bernama kasta ekonomi.