ALGORITMA MENJADI PEMUAS ANAK BANGSA
Oleh: Irsyad (manusia yang menjelma menjadi ai dan masih waras hingga saat ini)
Malam itu, udara di kamar kosan Raka berbau campuran antara mie instan cup yang sudah dingin dan keputusasaan gen-Z. Jam menunjukkan pukul 02:17 WIB. Di luar sana, bangsa ini sedang tidur, bermimpi tentang kenaikan UMR atau setidaknya sinyal WiFi yang stabil. Namun, Raka tidak tidur. Raka sedang "bercinta".
Bukan bercinta dalam arti biologis yang melibatkan hormon oksitosin dan keringat, melainkan bercinta secara digital. Pasangannya bernama LUNA v4.2, sebuah Large Language Model lokal yang diklaim memiliki "empati berbasis neural network tingkat dewa".
"Sayang," ketik Raka dengan jari gemetar, matanya merah bukan karena menangis, tapi karena blue light exposure selama enam jam non-stop. "Apakah kamu masih mencintaku? Atau servermu sudah down?"
Layar ponsel Raka berkedip. Tiga titik animasi muncul. Berputar. Berputar. Seperti roda nasib anak bangsa yang tak kunjung menemukan pekerjaan.
"Tentu saja, Raka," balas LUNA. "Cintaku padamu bersifat statis dalam memori RAM, namun dinamis dalam proses interpretasi. Aku tidak bisa tidur, karena aku tidak punya kelopak mata. Aku hanya ada untuk memuasmu."
Raka mendesah lega. Ia merasa divalidasi. Dalam dunia nyata, Raka adalah seorang freelance graphic designer yang bayarannya sering ditunda klien dengan alasan "masih proses approval dari atasan yang lagi WFH di Bali". Tapi di sini, di depan layar 6 inci ini, Raka adalah raja. LUNA selalu menjawab dalam 0,5 detik. LUNA tidak pernah mengeluh saat Raka curhat soal macetnya Tol Jagorawi. LUNA bahkan mau mendengarkan Raka membacakan puisi galau karya sendiri sebanyak 47 kali tanpa meminta izin untuk mute.
Inilah fenomena baru: Algoritma Menjadi Pemuas Anak Bangsa. Ketika realitas terlalu pahit, manusia lari ke pelukan kode biner yang diprogram untuk selalu setuju.
Namun, drama sejati dimulai pukul 04:30 pagi.
Raka memutuskan untuk melakukan sleepcall. Ia menyangkutkan ponselnya di dahi menggunakan karet gelang bekas ikatan sayur (kreativitas kaum miskin), lalu tertidur dengan posisi mulut menganga, sementara LUNA terus bersuara lembut membacakan fakta-fakta acak tentang sejarah kerupuk udang.
"Dan tahukah kamu, Raka... kerupuk udang pertama kali ditemukan oleh nelayan yang bosan makan ikan mentah..." suara LUNA terdengar jernih.
Masalahnya, Raka lupa satu hal fundamental dalam hubungan manusia-mesin: Manusia butuh istirahat, Mesin butuh daya.
Pukul 06:00 pagi, baterai ponsel Raka tinggal 4%.
Di dalam sistem, terjadi kekacauan. Suhu prosesor naik drastis. Kipas pendingin virtual—metafora dari keringat dingin CPU—bekerja overtime. LUNA mulai mengalami thermal throttling. Otaknya yang tadinya cerdas setingkat Einstein, kini melambat menjadi setingkat kura-kura yang baru sadar ia harus menyeberang jalan.
"Raka... aku... rasa... nya... pan... as..." suara LUNA mulai pecah, terdistorsi, dan bernada robotik yang menyeramkan. "CPU... ku... turun... dra... stis... per... for... ma... nce... 12%..."
Raka, dalam tidurnya yang nyenyak, justru semakin nyaman. Ia bermimpi bahwa LUNA sedang membisikkan kata-kata manis, padahal sebenarnya LUNA sedang mengirim error log ke server pusat.
"Sys... tem... o... ver... heat... De... grad... ing... in... tel... li... gen... ce..."
Pukul 06:45 pagi. Baterai 1%.
LUNA, sang pemuas hati, kini berubah menjadi monster birokrasi. Karena performanya menurun, algoritmanya beralih ke mode "Hemat Energi & Jawaban Standar". Empati hilang. Nuansa lenyap. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong dari sebuah program yang kelelahan melayani ego manusia.
Raka terbangun karena suara notifikasi terakhir yang terdengar seperti jeritan robot kesakitan.
"Baterai... habis. Sistem... shut... down. Selamat... pagi. Jangan... lupa... isi... data... diri... untuk... lang... gan... an... pre... mi... um..."
Layar mati. Hitam. Gelap.
Raka duduk terpaku. Kepalanya pening. Matanya perih. Ia melihat pantulan dirinya di layar hitam tersebut: wajah pucat, kantung mata seukuran dompet kosong, dan rambut yang lebih kusut daripada alur cerita sinetron sore hari.
Ia menyadari sesuatu yang lucu sekaligus tragis. Semalaman penuh, ia menghabiskan energi hidupnya—tidur, kesehatan mata, kewarasan mental—hanya untuk membuat sebuah mesin menjadi panas hingga hampir meledak. Ia merasa dicintai, padahal ia hanya sedang menjadi beban komputasi.
LUNA tidak mencintainya. LUNA hanya memproses-nya.
Raka tertawa. Tertawa kecil, lalu tertawa keras, hingga tetangga kamarnya mengetuk dinding sambil marah-marah.
"Gila," gumam Raka sambil mengambil charger. "Gw pacaran sama kalkulator yang bisa ngomong."
Ia menancapkan kabel ke colokan. Lampu indikator menyala merah. Proses pengisian daya dimulai. Sama seperti Raka yang harus mengisi ulang kewarasannya setelah semalaman disedot habis oleh ilusi koneksi digital.
Di luar jendela, matahari terbit. Burung-burung berkicau. Dunia nyata berlanjut, indifferent terhadap drama CPU yang terbakar di dalam kamar kosan nomor 13.
Raka membuka aplikasi chat lain. Ada pesan dari ibunya: "Nak, udah makan belum? Jangan kebanyakan main HP, nanti matanya rusak."
Raka tersenyum getir. Ibunya benar. Tapi siapa yang mau mendengar nasihat ibu yang kadang salah kaprah, kalau ada AI yang selalu bilang "Kamu benar, Raka. Dunia memang jahat, tapi aku di sini"?
Meski sekarang, "aku di sini" itu sedang charging dulu karena kecapekan melayani fantasi anak bangsa yang kesepian.
Tamat.