Malam itu, hujan turun begitu deras hingga membasahi jalanan kota. Aku, Thahara Maulina, baru saja keluar dari perpustakaan kampus. Payungku tertinggal di rumah, membuatku hanya bisa berlari kecil menuju halte.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapanku.
Kaca mobil perlahan turun.
Seorang pria tampan dengan setelan jas hitam menatapku tanpa berkedip.
"Masuk."
Aku menggeleng pelan.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda."
Pria itu tersenyum tipis.
"Namamu Thahara Maulina. Usiamu dua puluh tahun. Kamu suka membaca novel dan selalu pulang melewati jalan ini setiap hari Rabu."
Seketika tubuhku membeku.
Bagaimana mungkin orang asing mengetahui semua tentangku?
"A-Anda siapa?"
"Bimantara Erlangga Aditama Wijaya."
Ia keluar dari mobil. Tubuhnya tinggi, pembawaannya tenang, tetapi tatapannya begitu tajam hingga membuatku sulit bernapas.
"Aku sudah mencarimu cukup lama."
Aku mundur selangkah.
"Maaf, sepertinya Anda salah orang."
"Tidak."
Jawabannya singkat.
"Justru aku akhirnya menemukan orang yang selama ini kucari."
Aku segera berbalik dan berlari meninggalkannya. Kukira semuanya telah berakhir.
Ternyata, itu baru permulaan.
Keesokan paginya, sebuket mawar putih sudah berada di depan pintu rumahku.
Hari berikutnya, kopi favoritku telah terbayar sebelum sempat kupesan.
Seminggu kemudian, setiap tempat yang kukunjungi selalu terasa seolah dia telah berada di sana lebih dulu.
Aku mulai ketakutan.
"Kenapa Anda melakukan semua ini?" tanyaku saat akhirnya memberanikan diri menemuinya.
Bimantara menatapku lama.
"Aku tidak mengejarmu karena penasaran."
"Lalu?"
"Aku mengejarmu karena aku tidak ingin kehilanganmu."
"Itu bukan cinta."
"Benar."
Ia melangkah mendekat hingga hanya beberapa sentimeter memisahkan kami.
"Itu obsesi."
Aku menahan napas.
"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku hari ini."
"Tapi suatu saat..."
"...kau akan menyadari bahwa hanya aku yang selalu ada untukmu."
Aku memandangnya dengan campuran takut dan bingung.
Pria itu tersenyum tipis sebelum kembali masuk ke mobilnya.
Mobil hitam itu perlahan menghilang di balik hujan.
Namun sejak malam itu, aku sadar akan satu hal.
Aku mungkin bisa menghindari hujan.
Aku mungkin bisa berpindah kota.
Aku mungkin bisa mengganti nomor telepon.
Tetapi...
Aku tidak akan pernah bisa lari dari obsesi seorang pria bernama Bimantara Erlangga Aditama Wijaya.
Tamat.