"Kak Jojo, cerita saya tentang anak-anak yang harus jalan kaki jauh buat sekolah karena ngga ada transportasi umum yang baik!" ujar Dewi sambil menyerahkan cerita tentang murid-muridnya yang punya impian besar tapi kurang akses pendidikan. Wajah cantiknya selalu bersinar saat cerita tentang bagaimana dia harus kerja keras buat biayain keluarga dan sekolah adiknya.
Pria yang dikenal sebagai "Jojo" sebenarnya adalah Johan Wijaya – CEO perusahaan teknologi informasi terbesar di Indonesia. Dia menyamar karena merasa perusahaan nya terlalu fokus pada profit tanpa memperhatikan kondisi karyawan muda yang banyak bekerja paruh waktu dengan gaji minim.
Suatu hari, saat mereka lagi bikin lomba menulis cerita tentang "Harapan Muda Indonesia", cerita mereka jadi juara umum yang banyak disukai pembaca. Saat pengumuman hasil lomba, datang tim dari kantor yang kenal wajah Johan dengan jelas.
"Saya minta maaf karena perusahaan kurang memperhatikan kamu semua," ujar Johan dengan penuh tekad. "Kita akan buat program 'BELAJAR BERSAMA' – kasih beasiswa, pelatihan kerja, dan rumah tinggal buat karyawan yang punya keluarga miskin!"
Dewi langsung menangis bahagia dan bilang, "Kak Jojo... atau Pak Johan, kerja sama kamu bikin saya tahu kalau kerja keras dan kerja sama bisa bawa perubahan buat banyak orang!"
Mereka kerja sama bikin program yang sukses dan banyak membantu anak muda yang punya bakat tapi kurang kesempatan.