Namaku Vellia, dan kekasihku bernama Arsha. Aku adalah seorang janda dengan satu orang anak, sedangkan Arsha adalah duda yang memiliki dua anak. Kami sama-sama pernah merasakan pahitnya perpisahan, sama-sama pernah merasa hidup ini tak lagi berwarna, hingga akhirnya takdir mempertemukan kami. Sudah lima bulan berlalu sejak kami resmi menjalin hubungan, dan anehnya, selama waktu itu, kami sama sekali belum menemukan celah, kesalahan, atau pun rasa tak cocok satu sama lain. Di mata kami berdua, kami adalah dua bagian yang saling melengkapi, dua jiwa yang akhirnya menemukan tempatnya untuk berpulang. Kami merasa sangat cocok, sangat memahami, dan sangat bahagia memiliki satu sama lain.
Namun, bahagia kami seolah menjadi duri di mata orang-orang di sekitar, khususnya warga di kampung tempat kami tinggal. Kemesraan dan cara kami mengekspresikan kasih sayang seolah menjadi hal yang salah dan tabu bagi mereka. Mulut-mulut mereka tak pernah lepas dari komentar. Mereka menyebut kami pasangan yang "bucin", terlalu "lebay", bahkan dibilang "alay", tingkah laku yang katanya mengalahkan anak-anak muda zaman sekarang. Lebih menyakitkan lagi, mereka berkata bahwa sikap kami membuat anak-anak kami dan keluarga kami merasa malu.
Setiap kali aku memegang tangan Arsha saat berjalan beriringan, setiap kali Arsha menyisir rambutku yang berantakan karena angin, setiap kali kami tertawa lepas hanya karena hal-hal kecil yang kami lakukan bersama, aku selalu bisa melihat tatapan sinis atau bisikan-bisikan kecil yang lewat dari mulut ke mulut.
"Sudah punya anak kok tingkahnya begitu,"
"Orang tua kok bucin banget, lihat saja nanti, nggak bakal lama juga,"
"Keluarga mereka jadi malu punya menantu atau anak tingkahnya begitu."
Kata-kata itu sering kali sampai ke telingaku, dan jujur, rasanya perih sekali. Aku sering bertanya dalam hati, bahkan kadang bertanya langsung pada Arsha sambil menahan air mata, "Yonk, salah kita sebenarnya di mana? Apa yang salah dengan rasa sayang ini?"
Status kami jelas, kami bukan pasangan yang bersembunyi atau berbuat maksiat. Aku janda, dia duda. kami berdua berniat baik, kami berdua ingin membangun hubungan yang serius. Kami hanya sekadar ingin menunjukkan bahwa kami saling mencintai, saling menyayangi, dan kami bahagia. Kami hanya ingin mengekspresikan rasa kasih sayang yang jujur dari hati ke hati, sama seperti pasangan lainnya. Lalu, di mana letak kesalahannya? Apakah karena kami bukan lagi remaja, maka kami dilarang untuk terlihat bahagia? Apakah karena kami pernah gagal di masa lalu, maka kami dilarang untuk saling menyayangi dengan terang-terangan?
Arsha selalu memelukku dengan lembut, mengusap kepalaku dan berkata dengan tenang, "Sayang, biarkan mereka bicara. Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan. Mereka tidak tahu sepi yang kita rasakan sebelum bertemu. Mereka hanya melihat apa yang terlihat di luar, tapi mereka tak pernah masuk ke dalam hati kita. Cinta itu milik kita, bukan milik mereka. Bahagia itu hak kita, bukan izin mereka."
Aku tahu Arsha benar. Tapi tetap saja, rasanya berat ketika orang-orang yang seharusnya menjadi tetangga atau teman justru menjadi penilai yang begitu kejam. Kami tidak bermaksud pamer, kami tidak bermaksud mengganggu, dan yang paling penting, kami sama sekali tidak bermaksud mempermalukan anak-anak maupun keluarga kami. Justru sebaliknya, kami ingin anak-anak kami melihat bahwa kasih sayang itu indah, bahwa hubungan yang baik itu ada, dan bahwa orang tua mereka pun berhak dicintai dan berhak bahagia. Anak-anak kami justru tahu betapa tulusnya hubungan kami, mereka mengerti dan mendukung, justru orang lainlah yang merasa paling benar dan paling tahu segalanya.
Kami sadar, mungkin bagi sebagian orang, cinta itu harus kaku, harus tertutup, harus seolah-olah tidak ada perasaan sama sekali hanya karena usia atau status. Tapi bagi kami, cinta adalah tentang kejujuran. Jika aku sayang padamu, aku akan genggam tanganmu. Jika aku bahagia bersamamu, aku akan tertawa bersamamu. Itu cara kami mencintai, cara kami saling menguatkan.
Kami bukan pasangan yang selingkuh, kami bukan pasangan yang menyakiti orang lain. Kami hanya dua orang yang pernah terluka, yang akhirnya menemukan obat luka itu di dalam diri satu sama lain. Lalu mengapa kami harus malu? Mengapa kami harus merasa bersalah atas rasa cinta yang suci ini?
Arsha... terima kasih sudah tetap menggenggam tanganku erat meski banyak tangan yang berusaha melepaskannya. Terima kasih sudah tetap tersenyum padaku meski banyak mulut yang mencibir. Biarlah mereka menyebut kami apa saja, biarlah mereka menganggap kami apa adanya. Yang kami tahu, di antara kami berdua tidak ada salah, tidak ada cela, dan yang paling penting, kami saling memiliki dengan cara yang penuh kasih.
Cinta kami memang bukan seperti apa yang mereka bayangkan, tapi cinta kami nyata, hangat, dan sangat kami butuhkan. Biarkanlah kata "bucin", "lebay", atau apa pun sebutan mereka menjadi saksi bahwa kami mencintai dengan sepenuh hati, tanpa ragu, dan tanpa malu. Karena bagiku, lebih baik dianggap lebay karena terlalu mencintai, daripada dianggap keren tapi hatinya sepi dan kosong.
Kami Vellia dan Arsha, dan kami akan terus saling menggenggam, terus saling menyayangi, karena cinta ini adalah hak kami, dan bahagia ini adalah milik kami berdua.