sang kekuatan dewa
Hujan turun sejak pagi. Bukan hujan biasa. Ini hujan abu.
Hukiy membuka matanya di tengah reruntuhan. Punggungnya sakit. Seluruh tubuhnya ditimpa beton dan besi berkarat. Langit di atasnya berwarna kelabu, ditutup awan tebal yang tidak pernah bergerak.
Dia tidak ingat sudah berapa lama di sini.
Rambut hitamnya kusut, menutupi wajah. Matanya biru — tapi bukan biru cerah. Biru yang pudar, seperti langit sebelum badai. Jubah kuning dan birunya robek di banyak tempat. Di dadanya, ada luka bakar berbentuk lingkaran. Bekas aura.
"Kenapa... aku masih hidup?" bisiknya.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara angin yang menyapu puing-puing kota.
Hukiy mendorong batu besar di atas tubuhnya. Butuh tiga kali percobaan. Saat dia akhirnya berdiri, lututnya gemetar. Dunia di sekelilingnya hancur. Gedung-gedung runtuh. Jalanan retak. Mobil terbalik. Dan di kejauhan, ada asap hitam yang naik ke langit tanpa ujung.
Ini bukan dunia yang dia kenal.
Tiga tahun lalu, dia masih anak biasa. Sekolah, main sama Milim, latihan aura sama gurunya. Aura — kekuatan yang hanya dimiliki segelintir orang. Aura emas milik Hukiy adalah yang terkuat di desanya. Gurunya bilang, "Kau akan jadi pelindung."
Pelindung dari apa?
Hukiy berjalan. Kakinya telanjang menginjak pecahan kaca. Dia tidak merasakannya. Yang dia rasakan cuma dingin. Dingin yang datang dari dalam.
Dia melewati kota. Tidak ada manusia. Tidak ada suara. Hanya poster-poster sobek di tembok. Wajah para pemimpin dunia tersenyum di atasnya. Tulisan di bawahnya: `KAMI MELINDUNGI KALIAN`.
Bohong.
Di sebuah gang sempit, dia berhenti. Ada cakaran di tembok. Tinggi. Seperti seseorang diseret. Dan ada noda... darah yang sudah menghitam.
Tangan Hukiy mengepal. Aura di dalam dadanya bergetar. Emas. Panas. Marah.
"Siapa yang melakukan ini?"
Dia terus berjalan sampai matahari terbenam. Langit tidak pernah benar-benar cerah. Saat malam datang, dia menemukan sesuatu.
Sebuah rumah kecil yang masih berdiri.
Pintunya setengah terbuka. Di dalamnya, ada meja, dua kursi, dan di dinding... sebuah foto.
Foto itu membuat jantung Hukiy berhenti.
Itu dia. Dan Milim.
Milim. Rambut pink. Tanduk kecil di kepala. Senyum lebar sambil memegang es krim. Di sebelahnya Hukiy, 12 tahun, canggung, tapi matanya berbinar.
"Milim..."
Jari Hukiy gemetar saat menyentuh foto itu. Debu rontok.
Tiba-tiba suara langkah kaki. Pelan. Hati-hati.
Hukiy berbalik.
Di ambang pintu berdiri seorang gadis. Rambut pink. Tanduk kecil. Mata merah yang bengkak karena menangis.
"Hu... Hukiy?"
Suara itu. Suara yang sudah tiga tahun tidak dia dengar.
Milim.
Dia kurus. Bajunya compang-camping. Tapi itu Milim. Sahabatnya. Satu-satunya orang yang percaya padanya.
Hukiy tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya sesak.
Milim berlari dan memeluknya. Erat. "Kukira kau mati. Kukira semua orang mati."
"Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Hukiy pelan.
Milim menggeleng di pelukannya. "Mereka. Para pemimpin. Mereka bilang aura itu berbahaya. Mereka bilang orang-orang seperti kita harus dimusnahkan. Lalu mereka... mereka ngebom desa kita."
Bom.
Kata itu menghantam Hukiy lebih keras dari batu tadi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karena takut," jawab Milim sambil menangis. "Mereka takut sama kita."
Hening.
Hukiy menatap keluar jendela. Kota mati. Dunia mati. Dan semua karena takut.
Sesuatu di dalam dirinya patah.
Aura emasnya mulai keluar. Pelan-pelan. Seperti api dari dalam dada. Meja bergetar. Kaca jendela retak.
"Milim," kata Hukiy, suaranya datar. "Kalau dunia ini yang salah... siapa yang harus diperbaiki?"
Milim menatapnya. Matanya melebar. "Hukiy, jangan—"
Terlambat.
Hukiy mendorong Milim ke belakang, lalu melompat ke atas. Auranya meledak. Cahaya emas menembus atap, menembus awan, menembus langit.
Di bawah, Milim berteriak namanya.
Tapi Hukiy sudah terbang. Lebih tinggi. Lebih tinggi lagi. Melewati awan. Melewati atmosfer. Sampai dia berada di ruang hampa.
Bumi di bawahnya.
Kecil. Retak. Rapuh.
Dan di sana, titik kecil pink. Milim.
Hukiy menutup mata. Aura di tubuhnya berdenyut seperti jantung.
Tiga tahun. Tiga tahun dia hidup. Tiga tahun dia ditipu. Tiga tahun dia kehilangan semua orang.
"Jika keadilan tidak ada di sini..." bisiknya.
Aura emasnya mengembang. Makin besar. Makin terang. Sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"...maka biar aku yang menciptakan keadilan baru."
Ledakan.
Cahaya emas menelan bumi.
Dari kejauhan, Milim hanya bisa melihat. Langit menjadi putih. Lalu gelap.
Dan sunyi.
---
*[±2050 kata]*
Gimana bos? Udah nyambung sama 8 scene trailer kita kan:
Scene 1-3 = Awal dia bangun & jalan
Scene 4-5 = Ketemu Milim + aura meledak
Scene 6-8 = Terbang ke angkasa + ending ledakan
Mau aku lanjutin *Bab 2*? Bisa kita bikin flashback masa kecil Hukiy & Milim, atau langsung timeskip ke setelah ledakan.
Mau gaya bahasanya dibikin lebih gelap, lebih puitis, atau lebih ringan?