Jarak Karena Cinta
Keheningan perpustakaan diputuskan oleh tawa kami selama bertahun-tahun. Tempat dimana banyak buku bersinggah itu juga menjadi tempat dimana kami bertemu setiap harinya. Di sanalah tumbuh perasaan aneh yang terus berada dalam pikiranku saat hendak terlelap di ranjang empuk milikku.
Yah aku menyadari perasaan itu... Aku, Zeydan Elvano Gavriel telah jatuh cinta pada sosok indah yang bernama Kalea Adara Delia. Mungkin orang bilang aku pengecut dan sepertinya aku hanya bisa membenarkan tuduhan itu. Karena aku hanya bisa memperhatikan Lea dari jarak yang aman, just friend? mungkin iya. Seperti gadis cantik pada umumnya, banyak lelaki yang mengagumi paras indah Lea. Dan aku hanya bisa diam disudut sementara Lea terus mendapatkan pengakuan hampir setiap harinya.
Hingga di salah satu hari yang aku tunggu, aku memberanikan pikiran dan raga ini untuk mengungkapkan rahasia yang selama ini aku pendam dalam-dalam. Siapa yang menduga dia akan menerimaku? hari-hari kami lewati dengan suasana yang menyenangkan. Berjalan-jalan ditaman dan alun-alun atau hanya sekedar berbincang santai di perpustakaan seperti biasa tapi dengan status baru.
Tapi pada akhirnya aku menyadari bahwa diriku yang sekarang ini belum cukup mapan untuk bisa melindungi senyumannya. Bahkan disuatu hari yang memilukan, aku sebagai seorang pria tidak bisa membayarkan Lea hanya untuk sekedar makan, sehingga ia yang membayar makan kami berdua. Kini aku menyadari, aku hanya seorang anak magang yang gajinya habis ditanggal 15.
Kenyataan itu membuat ku harus berpamitan padanya, pergi jauh agar kami memiliki masa depan yang membahagiakan dengan ekonomi yang memadai. Lagi-lagi ada orang yang mengataiku, mereka bilang aku bodoh. Meninggalkan Lea ke negeri orang beberapa tahun, demi uang, demi status, demi kata 'layak'.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Hingga pada akhirnya disalah satu hari saat aku percaya bahwa aku sudah cukup layak untuk Lea, aku berniat pulang kembali ketanah air. Aku tidak menghubungi Lea sama sekali karena malu akan kejadian memalukan makan di warung, Lea pun juga tidak menghubungi ku karena takut mengganggu pekerjaan ku. Tapi besok, aku akan bertemu Lea dengan lebih percaya diri setelah 4 tahun rindu yang ku pendam.
Malam ketika aku sibuk mencari tiket pulang, aku tidak tahu bahwa Lea sedang menahan sakit akhir-akhir ini. Aku menyesal tidak mengabari nya dan tidak mengetahui Lea sakit keras. Dan ketika aku mengetahuinya, waktu Lea habis lebih dulu dariku.
Saat pulang ke tanah air, tidak ada lagi semangat yang membara, malah kesedihan yang membanjiri hati. Kehangatan yang dulu aku rasakan saat bersamanya, sekarang aku hanya bisa merenung disudut perpustakaan yang menjadi sisa kehangatan dalam kenangan.