Perpisahan itu
Suasana Di sebuah kafe yang tenang, sore hari,ada Keduanya pasangan duduk berhadapan.
Suasana hening sejenak sebelum Dimas memulai pembicaraan
Dimas: (Menatap cangkir kopinya, lalu memberanikan diri menatap Ati) "Ati, makasih ya udah mau nyempetin waktu buat ketemu. Aku... tahu ini bakal jadi obrolan yang berat."
Ati: (Tersenyum tipis, suaranya sedikit bergetar) "Iya, Dim. Nggak apa-apa. Aku juga ngerasa ada yang harus kita omongin berdua secara langsung. Akhir-akhir ini kita cuma saling ngehindar aja."
Dimas: "Aku minta maaf. Aku sadar belakangan ini kita terlalu sering maksain keadaan. Kita berdua punya mimpi dan jalan hidup yang ternyata nggak bisa disatuin lagi. Kalau kita terusin, kita cuma bakal saling nyakitin."
Ati: (Menunduk, menahan air mata) "Kamu benar, Dim. Aku capek harus terus-menerus kompromi sama hal-hal yang prinsipil buat kita. Mungkin... berpisah adalah jalan terbaik untuk kita berdua."
Dimas: (Menghela napas panjang) "Aku nggak pernah nyesal kenal dan pacaran sama kamu, Ati. Banyak banget kenangan indah yang kita buat. Kamu orang hebat yang pernah ada di hidup aku."
Ati: "Aku juga, Dim. Makasih udah jadi bagian dari hidup aku, udah ngajarin banyak hal. Tapi mungkin takdir kita cuma sampai di sini. Kita harus belajar melepaskan."
Dimas: (Terdiam sejenak, lalu tersenyum getir) "Iya. Mulai besok, kita udah jalan sendiri-sendiri ya. Janji satu hal sama aku, kamu harus bahagia. Kejar semua impian kamu."
Ati: (Mengangguk sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya) "Kamu juga, Dim. Tolong jaga diri kamu baik-baik. Makasih untuk semuanya."
Dimas: "Sama-sama, Ati. Aku pamit ya