Bab 1 — Kopi yang Tak Direncanakan
Hujan turun pelan sore itu, seperti tidak ingin mengganggu siapa pun.
Arka berdiri di depan sebuah kedai kecil yang bahkan tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Payungnya basah, sepatu kantornya kotor oleh genangan air, dan pikirannya penuh dengan target kerja yang belum selesai.
Ia masuk hanya karena lelah.
Bel kecil di pintu berbunyi pelan.
“Selamat datang,” suara itu terdengar ringan.
Arka menoleh. Di balik meja kasir, seorang perempuan dengan apron cokelat sedang tersenyum. Wajahnya tidak asing.
“Nara?” gumam Arka pelan.
Perempuan itu berhenti sejenak, lalu menatap lebih teliti.
“Arka…? Serius ini kamu?”
Detik itu, waktu seperti mundur beberapa tahun.
Mereka pernah satu sekolah dasar. Teman yang dulu berbagi bekal, saling mengejek, lalu berpisah begitu saja saat dewasa datang membawa arah masing-masing.
“Dunia sempit juga ya,” kata Nara sambil tertawa kecil.
Arka hanya mengangguk. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak memikirkan pekerjaan.
Bab 2 — Sore yang Mulai Berulang
Sejak hari itu, Arka tidak sengaja mulai sering datang ke kedai itu.
Awalnya hanya “kebetulan”. Hujan, lembur, atau sekadar lewat.
Tapi lama-lama ia sadar, ia mulai mencari alasan.
Nara selalu ada di sana. Kadang membuat kopi, kadang membersihkan meja, kadang hanya duduk membaca buku jika kedai sedang sepi.
“Kenapa kamu kerja di tempat seperti ini?” tanya Arka suatu sore.
Nara menaruh cangkir di depannya.
“Tempat seperti ini maksudnya bagaimana?”
“Bukan kantor besar. Bukan pekerjaan yang… menjanjikan.”
Nara tersenyum kecil, tidak tersinggung.
“Karena di sini, aku masih bisa bernapas.”
Arka diam.
“Aku pernah kerja di tempat besar juga,” lanjut Nara. “Tapi aku lupa caranya bahagia.”
Kalimat itu sederhana, tapi menempel lama di kepala Arka.
Bab 3 — Hal yang Sederhana Ternyata Penting
Hari-hari berikutnya berubah tanpa disadari.
Arka mulai datang bukan karena hujan, tapi karena ingin.
Mereka mulai berbicara lebih lama.
Tentang masa kecil, tentang hidup yang tidak berjalan sesuai rencana, tentang hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dianggap penting.
Suatu sore, listrik padam di kedai.
Hanya cahaya lampu darurat yang menyala redup.
“Ini romantis ya,” kata Nara sambil tertawa.
“Romantis?” Arka mengangkat alis.
“Iya. Kayak di film.”
Arka tersenyum kecil, sesuatu yang jarang ia lakukan.
“Kalau begini terus, aku bisa ketagihan datang ke sini,” katanya tanpa berpikir panjang.
Nara terdiam sesaat, lalu menatapnya.
“Kalau begitu datang saja.”
Kalimat itu tidak terdengar besar.
Tapi entah kenapa, dada Arka terasa hangat.
Bab 4 — Pilihan yang Tidak Sederhana
Suatu pagi, Arka dipanggil ke kantor pusat.
Promosi besar.
Posisi yang selama ini ia kejar: lebih tinggi, lebih sibuk, lebih jauh dari hidup lamanya.
“Ini kesempatan emas, Arka,” kata atasannya. “Kamu hanya perlu pindah kota.”
Arka mengangguk, tapi pikirannya tidak di sana.
Di kepalanya justru muncul kedai kecil, aroma kopi, dan suara tawa Nara.
Sore itu ia datang lebih awal dari biasanya.
Nara sedang membersihkan meja.
“Aku mungkin akan pindah,” kata Arka langsung.
Tangan Nara berhenti sebentar.
“Kerja?” kata Nara.
“Iya.” kata arka.
Sunyi.
Tidak ada drama.
Tidak ada air mata langsung jatuh.
Hanya hening yang terasa lebih berat dari biasanya.
“Selamat ya,” kata Nara akhirnya, tersenyum kecil.
Tapi senyum itu tidak sama.
Arka menatapnya lama.
“Aku belum bilang aku mau pergi.”
Nara menunduk.
“Kadang bukan soal mau atau tidak mau. Tapi soal hidup yang harus jalan.”
Arka tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia merasa menang di pekerjaan… tapi kalah di sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bab 5 — Bahagia yang Tidak Ribut
Hari keberangkatan hampir tiba.
Arka berdiri di depan kedai itu sekali lagi. Hujan tidak turun kali ini.
Nara keluar membawa dua cangkir kopi.
“Terakhir?” tanya Nara pelan.
“Mungkin,” jawab Arka.
Mereka duduk.
Tidak ada percakapan besar. Tidak ada pengakuan dramatis.
Hanya dua orang yang memahami bahwa beberapa hal tidak perlu dipaksakan untuk menjadi jelas.
Arka menatap kopinya.
“Dulu aku pikir bahagia itu harus besar,” katanya.
Nara menoleh.
“Sekarang?”
Arka tersenyum kecil.
“Ternyata cukup sederhana.”
Nara tidak bertanya lagi.
Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan,
“Kalau kamu lupa caranya bahagia di sana nanti… kopi di sini masih sama.”
Arka mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kehilangan.
Hanya merasa… cukup.