Langit sore yang awalnya cerah kini berubah menjadi gelap pekat. Sebentar lagi, mungkin hujan akan turun membasahi jalanan kota. Karina duduk termenung sembari menatap secangkir matcha miliknya. Sedangkan didepannya, sudah ada orang yang sangat ia cintai selama 3 tahun ini. Arga namanya. Laki-laki itu duduk diam membisu.
Suara hening kafe seakan menjadikan suasana tersebut semakin canggung. Karina tak berniat untuk membuka suaranya bahkan Arga sama. Hingga pada akhirnya, hujan turun dengan derasnya. Karina memalingkan wajahnya. Gadis itu lebih memilih menatap ke arah jendela. Menatap setiap rintik hujan yang turun membasahi bumi.
"Karina."
Karina tak menoleh saat Arga mulai membuka suaranya. Gadis itu hanya diam sembari menatap ke arah luar jendela.
"Maaf..." Arga menatap Karina dalam. Ada rasa bersalah saat dirinya mengucapkannya. Ada perasaan yang sakit saat dirinya meminta maaf kepada sang kekasih.
"Mungkin, ini pertemuan terakhir kita Karina." lirih Arga yang berhasil membuat Karina menoleh ke arahnya. Karina hanya menampilkan ekspresi datarnya. Dia sangat muak dengan tingkah Arga.
"Kenapa?" tanyanya singkat.
"Mungkin ini akhir kisah kita Karina."
Karina menunduk. Dadanya sakit. Seperti ada ratusan belati yang menancap di hatinya. Dia seperti di serang ribuan kali.
Arga menarik nafasnya. Laki-laki itu berniat ingin mengatakan sesuatu kepada Karina. Namun, seseorang terlebih dahulu menghampiri mereka.
"Arga."
Panggilan tersebut sukses membuat Karina mendongak menatap sang pemilik suara. Dia Aurora. Si primadona kampus. Hati Karina mencelos seketika melihat Aurora duduk disamping Arga. Tubuhnya gemetar menahan tangisan yang sebentar lagi akan pecah.
"Kamu disini sama Karina?" tanya Aurora yang sudah duduk disamping Arga. Senyum Arga merekah tatkala melihat Aurora.
Memang Aurora lebih segalanya dari Karina. Karina hanya anak pengusaha kecil di kota ini dan juga Karina bisa masuk kesini karena bantuan Arga. Jika bukan karena Arga mungkin Karina tidak akan bisa berada di Universitas terkenal dan favorit di kota ini.
"Aku ganggu kalian ya."
Karina mengangguk. "Iya, udah ganggu banget." ketus Karina akhirnya.
Aurora tanpa berkata apa-apa, dia langsung pergi meninggalkan Karina dan Arga yang masih membahas hubungan mereka ke depannya.
"Karina.."
"To the point langsung." cerca Karina akhirnya.
Arga menormalkan detak jantung yang mulai berdentuman. Dia takut jika membuat Karina menangis saat ini juga. "Maaf, sepertinya kita harus berpisah dan mulai sekarang kita harus berakhir Karina. Jika kita saling bertahan, salah satu diantara kita akan merasakan sakit hati. Entah itu aku atau kamu. Kamu sempurna Karina. Tapi aku, kekurangan itu ada di aku semuanya Karina."
Karina diam. Gadis itu bingung harus menjawab seperti apa.
"Karina, aku mohon maafin aku. Aku tak bisa bersamamu. Aku akan pergi jauh meninggalkanmu."
Karina menghembuskan nafasnya perlahan. Dia ingin menangis saat ini juga. "Tidak! Bisakah kita perbaiki semuanya Arga? Dimana janjimu yang dulu. Kamu tak akan membuatku menangis dan menyakiti hatiku. Tetapi hari ini, kamu melupakan semua janjimu Arga !" Detik itu juga, air mata yang selama ini Karina bendung, lewat seketika. Tangis Karina pecah. Kesunyian kafe membuat tangisannya dapat di dengar oleh beberapa orang yang lewat.
Arga mengusap air mata Karina. "Maaf aku tak ingin berpisah seperti ini. Tetapi Karina, jika kamu tidak terlalu menuntutku dan posesif kepadaku, aku pasti akan bertahan kepadamu Karina."
Karina menampar pipi Arga. "Sialan! Aku begini karena sikapmu yang sudah kelewatan Arga. Kamu beberapa kali menduakanku. Kamu memilih Aurora sebagai pelampiasanmu. Bahkan kamu berani datang ke klub malam bersama Aurora dan minum bersama. Kamu pikir aku tidak sakit hati, hari itu aku tahan semuanya. Aku mencoba biasa saja, tetapi aku tak bisa Arga !" Karina menangis semakin kencang. Nafasnya sudah tidak terkontrol karena emosi dan kesedihan bercampur jadi satu.
"Baiklah jika kamu ingin berpisah dariku silahkan. Kejar Aurora itu sialan! Aku akan melepaskanmu. Tapi, jangan harap kamu akan bertemu lagi denganku. Aku akan menghilang dari kota ini dan aku akan menghilang dari hatimu dan juga pikiranmu."
Karina pergi meninggalkan Arga dengan perasaan yang sakit dan juga kesedihan. Dia buru-buru keluar dari kafe itu. Karina keluar menerobos derasnya hujan yang sangat lebat. Dia berlari ke arah taman yang berada di dekat kafe. Gadis itu membiarkan tubuhnya basah kuyup.
"ARGAAAA KAMU TEGAAAA !" teriak Karina di bangku taman. Dia menangis kencang di bawah air hujan yang sangat deras.
"Jika cinta itu menyakitkan, kenapa semua orang mau bertahan dengan rasa sakit itu." Karina memeluk dirinya sendiri di bawah derasnya hujan.
-----