"Kak Galih, ini ilustrasi baru saya – tentang kehidupan anak-anak di daerah terpencil yang tetap bahagia meskipun tidak punya banyak hal," ujar Nadia sambil menunjukkan buku gambarnya ke pria yang sering datang ke toko buku kecil tempat dia bekerja paruh waktu. Gambar-gambarnya yang penuh warna selalu membuat semua orang merasa senang. Pria yang disapa Kak Galih itu sebenarnya adalah Galih Pratama – CEO perusahaan penerbitan buku anak-anak terbesar di Indonesia yang selama ini hanya fokus pada konten yang mengikuti tren luar negeri.
Ceritanya dimulai ketika Galih merasa buku-buku yang diterbitkan perusahaan nya sudah kehilangan sentuhan lokal yang kaya makna. Banyak ilustrator muda berbakat yang tidak pernah mendapatkan kesempatan karena gaya karyanya dianggap tidak modern. Suatu hari, saat mengunjungi perpustakaan daerah, dia menemukan Nadia yang sedang mengajar anak-anak desa menggambar cerita rakyat dengan bahan yang sederhana seperti batu bata atau arang kayu bakar.
Nadia adalah ilustrator muda yang cantik namun harus bekerja sebagai guru les menggambar agar bisa membeli alat lukis dan membantu keluarganya. Ilustrasi-ilustrasinya tentang kehidupan desa selalu membuat anak-anak tertarik dan ingin tahu lebih banyak tentang budaya lokal. Namun Nadia tidak tahu bahwa pria yang sering beri masukan tentang komposisi dan warna itu adalah CEO perusahaan yang dulu bilang karyanya "terlalu kuno untuk pasar modern".
"Saya pernah mengirim portofolio ke perusahaan besar tapi mereka bilang karya saya tidak sesuai selera anak-anak sekarang," ujar Nadia dengan suara yang sedikit kecewa. Galih merasa sangat bersalah tapi tetap membantu Nadia mengumpulkan cerita rakyat dari nenek-nenek di desa dan mengubahnya menjadi buku gambar yang menarik. Mereka bekerja sama membuat serangkaian buku yang menggabungkan cerita tradisional dengan gaya ilustrasi yang segar dan menarik.
Suatu hari, banjir besar melanda desa tempat mereka tinggal. Banyak ilustrasi dan cerita yang hampir hilang bersama rumah-rumah penduduk serta perpustakaan kecil yang mereka kelola. Galih akhirnya mengaku identitasnya dan langsung mengirim tim desainer terbaik dari perusahaan nya – membawa alat lukis baru serta membantu mendokumentasikan semua cerita dan ilustrasi sebelum terlupakan.
"Saya salah besar menganggap karya mu tidak layak," ujar Galih dengan penuh rasa cinta. "Kita akan menerbitkan serangkaian buku mu dan membuatnya jadi referensi utama untuk pendidikan anak-anak tentang budaya lokal!"
Nadia tersenyum bahagia dan menerima cintanya. Serangkaian buku mereka berjudul "Dongeng dari Bumi Nusantara" langsung menjadi favorit anak-anak dan orang tua di seluruh Indonesia. Perusahaan juga membuka program pelatihan ilustrasi gratis bagi anak muda dari daerah terpencil dan bekerja sama dengan sekolah untuk memasukan cerita rakyat ke dalam kurikulum pendidikan.