Selama lebih dari setengah abad, langit di atas Negara Mayor tidak pernah benar-benar biru. Setidaknya, begitulah yang dirasakan oleh Arkan. Sejak kakek-neneknya dipaksa tunduk di bawah laras senapan tentara Negara Khayor, tanah subur Mayor berubah menjadi ladang paksa. Emas, rempah, dan keringat rakyat Mayor diperas habis untuk memakmurkan sang penjajah di seberang lautan.
Khayor adalah kekaisaran yang dingin dan angkuh. Mereka membangun benteng-benteng beton tinggi di pusat kota Mayor, mengibarkan bendera merah-hitam mereka, dan melarang lagu kebangsaan Mayor dinyanyikan. Siapa pun yang berani membisikkan kata "Merdeka" akan lenyap sebelum fajar menyingsing.
Namun, malam itu, di sebuah ruang bawah tanah yang pengap di pinggiran ibu kota, sebuah sumbu mulai dinyalakan.
Arkan berdiri di depan sebuah peta usang. Di sekelilingnya, belasan pemuda dan pemudi Mayor berkumpul dengan tatapan mata yang menyala. Di atas meja, tergeletak beberapa pucuk senapan tua hasil rampasan dan ratusan selebaran propaganda.
"Esok adalah hari penobatan Gubernur Jenderal Khayor yang baru," bisik Arkan, suaranya bergetar namun tegas. "Seluruh pasukan mereka akan berpusat di Alun-Alun Agung. Penjagaan di gudang logistik dan stasiun komunikasi akan melonggar. Ini kesempatan kita."
"Tapi Arkan, persenjataan kita kalah jauh," potong Naira, seorang gadis jurnalis bawah tanah. "Mereka punya senapan mesin dan kendaraan lapis baja. Kita hanya punya keberanian."
Arkan menatap Naira, lalu beralih menatap satu per satu wajah di ruangan itu. "Khayor mungkin punya baja dan mesiu, Naira. Tapi mereka tidak punya tanah ini. Mereka bertempur demi upah, kita bertempur demi rumah. Besok, kita rebut kembali hak kita!"
Hari Penentuan
Keesokan harinya, kabut tebal menyelimuti kota. Ketika lonceng besar di menara kota berdentang menandakan dimulainya upacara Khayor, sebuah ledakan dahsyat mengguncang gudang persenjataan barat. Itu adalah isyarat.
"Serbuuu!"
Pekikan itu memecah kesunyian. Ribuan rakyat Mayor, mulai dari pemuda, petani, hingga buruh pabrik, tumpah ke jalanan. Mereka membawa apa saja—keberanian, tekad, dan bambu-bambu yang diruncingkan.
Arkan memimpin faksi garis depan, merangsek menuju stasiun komunikasi pusat. Tentara Khayor yang terkejut langsung melepaskan tembakan rentetan. Desing peluru memekakkan telinga. Beberapa kawan Arkan tumbang, namun hal itu justru membakar amarah rakyat Mayor. Mereka tidak lagi takut mati; mereka lebih takut hidup selamanya sebagai budak.
Naira berhasil menyelinap ke ruang siaran utama saat kekacauan memuncak. Dengan tangan gemetar namun pasti, ia menyalakan pemancar radio yang selama puluhan tahun dikuasai Khayor.
"Kepada seluruh rakyat Mayor dari ujung utara hingga selatan... Hari ini, rantai belenggu kita patahkan. Jangan mundur selangkah pun! Tanah ini milik kita!"
Suara Naira menggema di seluruh pelosok negeri melalui pengeras suara kota dan radio-radio saku. Mendengar seruan itu, semangat rakyat Mayor meledak. Perlawanan pecah di setiap sudut kota. Tentara Khayor yang awalnya jemawa kini kocar-kacir, terdesak oleh gelombang manusia yang tak terbendung.
Cahaya Baru
Matahari mulai condong ke barat ketika bendera merah-hitam milik Khayor akhirnya diturunkan dari tiang tertinggi di Alun-Alun Agung. Sorak-sorai bermandikan air mata pecah di seluruh penjuru Mayor.
Arkan, dengan baju yang bersimbah debu dan keringat, perlahan mendekati tiang tersebut. Di tangannya, selembar kain berwarna biru-putih—bendera asli Negara Mayor yang selama puluhan tahun disembunyikan di dalam tanah—siap dikibarkan.
Saat kain itu perlahan naik dan berkibar tertiup angin sore, seluruh rakyat Mayor serentak menyanyikan lagu kebangsaan mereka yang lama terkubur.
Mayor belum sepenuhnya pulih, luka akibat penjajahan Khayor masih menganga dalam. Namun sore itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit di atas Mayor terlihat begitu biru. Mereka telah merebut kembali takdir mereka. Mereka telah merdeka dari penjajahan Negara Khayor
TAMAT