Rumah itu tampak tenang dari luar, namun di dalamnya menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Sari duduk di sudut kamar, memandangi putra kecilnya yang baru berusia delapan bulan—Bayu—yang terbaring lemah di atas kasur. Napasnya tersengal, kulitnya pucat, dan demam tinggi tak kunjung turun meski sudah diberi obat warung berulang kali.
Di ruang tengah, suara ketukan kartu dan tawa riang terdengar nyaring. Itu Dimas, suaminya. Hampir setiap hari waktunya habis untuk berjudi, menghabiskan sisa uang belanja yang seharusnya untuk kebutuhan rumah dan pengobatan anak mereka. Jika tidak sedang berjudi, ponselnya tak pernah lepas dari genggaman—menelusuri media sosial, menyukai foto-foto janda muda yang ia ikuti, bahkan sering berkirim pesan dengan alasan “hanya teman”.
Sari sudah tak lagi menangis. Air matanya telah kering sejak berbulan-bulan lalu. Rasa cinta yang dulu ia miliki perlahan terkikis oleh sikap acuh tak acuh, ketidakpedulian, dan luka demi luka yang Dimas berikan. Ia membenci suaminya itu—membenci sikapnya yang tak pernah berubah, membenci hatinya yang terasa mati rasa.
“Mas, tolong… Bayu makin lemah. Kita bawa dia ke dokter sekarang juga,” pinta Sari dengan suara parau saat Dimas masuk ke kamar larut malam, setelah pulang dari tempat perjudian.
Dimas hanya melirik sekilas, lalu membuang muka. “Besok saja. Uangku habis hari ini. Lagipula cuma demam biasa, nanti juga sembuh sendiri.”
“Tapi ini sudah tiga hari, Mas! Bayu tidak mau menyusu, badannya makin dingin,” isak Sari, berusaha menahan amarah dan keputusasaan.
“Sudah jangan banyak ribut! Aku lelah, mau tidur,” bentak Dimas kasar. Ia lalu berbalik membelakangi istrinya, tak peduli dengan penderitaan anak dan istrinya.
Sari memeluk tubuh mungil Bayu erat-erat. Malam itu, ia terjaga sepanjang malam, berusaha menurunkan demam anaknya dengan air hangat semata. Namun takdir berkata lain. Menjelang pagi, genggaman kecil tangan Bayu perlahan mengendur. Napasnya berhenti. Mata kecilnya yang dulu selalu bersinar kini terpejam rapat, selamanya.
Dunia Sari seolah runtuh. Ia menjerit memanggil nama anaknya, memeluk tubuh dingin itu sambil menangis sekuat hati. Tangisannya membangunkan Dimas yang baru terlelap. Saat menyadari apa yang terjadi, wajah Dimas pucat pasi. Ia mendekat, ingin menyentuh tubuh anaknya, namun Sari menatapnya dengan tatapan penuh kebencian yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
“Jangan sentuh dia!” desis Sari dengan suara gemetar namun tajam. “Ini semua salahmu! Karena kesibukanmu berjudi, karena matamu yang tak pernah lelah memandang wanita lain, karena hatimu yang tak pernah peduli pada kami… Bayu pergi! Pergi selamanya!”
Dimas terdiam kaku. Rasa bersalah yang selama ini ia abaikan tiba-tiba menghantam dadanya sekuat batu. Ia ingin meminta maaf, ingin memeluk istrinya, namun kata-kata itu terasa berat untuk keluar. Di tengah suasana duka yang menyelimuti, tanpa sadar, di tengah amarah dan rasa sesak yang memuncak, Dimas melontarkan kalimat yang kelak akan mengubah segalanya.
“Kalau begitu, pergilah kau juga dari hidupku! Aku tak sudi lagi melihat wajahmu!”
Suasana hening seketika. Sari menatap suaminya dengan mata terbelalak. Ia tahu betul makna kalimat itu. Dalam hati yang hancur, Sari mengangguk pelan. “Baiklah. Jika itu yang Mas inginkan. Ingatlah kata-kata Mas sendiri.”
Setelah pemakaman Bayu, Sari membereskan sedikit barang miliknya. Ia pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke belakang, membawa serta luka yang tak akan pernah hilang. Dimas yang saat itu masih terhanyut rasa sedih dan bingung, tak menyadari bahwa kalimat yang ia ucapkan dalam keadaan emosi itu telah menjatuhkan talak satu kepada Sari—sesuatu yang sah dan tak bisa ditarik kembali, meski ia tak menyadarinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, saat rasa amarahnya mereda dan kesepian mulai menghantui, Dimas baru menyadari kesalahannya. Ia mencari Sari, memohon untuk dimaafkan, meminta kesempatan kedua. Namun Sari sudah mantap dengan keputusannya.
“Mas, kita sudah bukan suami istri lagi,” ucap Sari tenang namun tegas saat bertemu Dimas. “Kata-kata yang Mas ucapkan saat itu adalah talak. Dan yang lebih menyakitkan, sebelum semua itu terjadi… Mas sudah kehilangan hati saya jauh sebelum Mas menjatuhkan talak. Saya sudah membenci sikap Mas, membenci hidup yang harus saya jalani di samping orang yang tak pernah menghargai saya dan anak kita.”
Dimas terdiam. Penyesalan datang terlambat. Uang yang dulu ia habiskan untuk judi dan kesenangan semu, kini tak berarti apa-apa. Wanita-wanita yang ia pandangi dan ajak bicara tak pernah ada di sisinya saat ia jatuh. Yang ia tinggalkan hanyalah rumah yang kosong, kenangan pahit, dan kesadaran bahwa ia telah kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya—anaknya yang telah tiada, dan istrinya yang kini pergi membawa luka yang tak terobati.
Sementara itu, Sari melangkah maju. Rasa benci yang dulu menyelimuti hatinya perlahan berubah menjadi kekuatan untuk bangkit. Ia sadar, meski luka kehilangan anak tak akan pernah hilang, ia berhak mendapatkan hidup yang lebih baik—tanpa rasa sakit, tanpa ketidakpedulian, dan tanpa pria yang tak pernah tahu cara menghargai apa yang ia miliki sampai semuanya hilang selamanya.