Langit sore itu mendung ketika ponsel Arga berdering. Di layar tertulis satu nama yang selalu membuatnya tersenyum.
Ibu.
Arga menatap beberapa detik, lalu menghela napas.
"Nanti saja. Lagi rapat," gumamnya sambil menekan tombol diam.
Beberapa menit kemudian, telepon itu masuk lagi.
Ia kembali mengabaikannya.
Tak lama, sebuah pesan muncul.
"Nak, kalau sempat telepon Ibu, ya."
Arga membacanya sekilas.
"Nanti malam aja."
Itulah balasan terakhir yang ia kirim.
Sejak merantau ke kota, Arga memang semakin sibuk.
Pekerjaan, lembur, mengejar karier, hingga terkadang lupa kalau di kampung ada seorang ibu yang setiap hari menunggu kabarnya.
Padahal, setiap pagi ibunya selalu berdoa.
"Ya Allah... sehatkan anakku. Lancarkan rezekinya. Lindungi dia di mana pun berada."
Tak pernah sekalipun sang ibu meminta uang. Yang ia inginkan hanya satu. Suara anak semata wayangnya.
Malam harinya, Arga baru selesai bekerja. Ia berniat menelepon ibunya. Namun sebelum sempat menekan tombol panggil, ponselnya lebih dulu bergetar.
Nomor tetangganya di kampung.
"Assalamu'alaikum, Pakde."
Suara di seberang terdengar berat. "Ga... kamu bisa pulang sekarang?"
"Memangnya kenapa?"
Pakde terdiam cukup lama. "Ibumu... barusan meninggal."
Seakan dunia berhenti berputar. Ponsel terlepas dari tangan Arga.
"Tidak... tidak mungkin...."
"Beberapa jam sebelum meninggal, beliau terus memegang ponselnya. Katanya menunggu telepon dari kamu."
Air mata Arga langsung pecah. "Ibu...."
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kesibukan tidak pernah bisa menggantikan waktu.
Perjalanan pulang terasa begitu panjang. Sesampainya di rumah, halaman sudah dipenuhi pelayat. Tangis terdengar dari segala penjuru.
Arga berlari masuk.
Dilihatnya sang ibu telah terbujur kaku, diselimuti kain putih. Wajahnya begitu damai.
Arga langsung memeluk jasad itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Bu... Arga pulang... Maaf...."
Tak ada jawaban. Tak ada lagi senyum yang menyambutnya. Tak ada lagi tangan hangat yang mengusap kepalanya.
Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Setelah pemakaman selesai, seorang tetangga menghampiri. "Nak, ini ponsel ibumu."
Arga menerimanya dengan tangan gemetar.bSaat membukanya, hanya ada satu halaman yang sering dibuka.
Foto dirinya.
Di galeri terdapat ratusan tangkapan layar video call mereka.bDi aplikasi pesan, hampir setiap malam sang ibu mengetik.
"Semoga Arga sehat."
"Semoga Arga tidak telat makan."
"Semoga Allah menjaga anak Ibu."
Pesan-pesan itu tak pernah dikirim. Mungkin karena takut mengganggu. Arga menangis semakin keras.
Malam itu ia memberanikan diri membuka riwayat panggilan. Ada belasan panggilan tak terjawab. Panggilan terakhir ibunya. Tangannya bergetar saat menekan tombol telepon.
Tentu saja.
Nomor itu kini tak akan pernah diangkat lagi. Dari balik isak tangisnya, Arga berbisik,
"Bu... andai waktu bisa kembali... aku akan mengangkat semua panggilanmu."
Namun hidup tak pernah memberi kesempatan kedua untuk sebuah perpisahan.
Sejak hari itu, Arga selalu mengingat satu hal. Kesibukan bisa ditunda. Pekerjaan bisa diganti. Uang bisa dicari lagi.
Tetapi... Seorang ibu yang telah pergi, tak akan pernah bisa kembali.
Terkadang, penyesalan terbesar dalam hidup bukan karena kita kehilangan seseorang. Melainkan karena kita terlalu sibuk, hingga mengabaikan panggilan terakhir dari orang yang paling tulus mencintai kita.