Hal Hebat itu...
Ketika dicintai oleh seseorang yang juga mencintai kita.
Layaknya sebuah lagu milik band asal indonesia.
Itu yang kurasakan saat ini.
Namanya, Ananta.
Teman dalam suka duka. Canda tawa kita lewati bersama selama lebih dari satu dekade.
“Gue suka.”
Celetuknya tiba-tiba setelah melamun. Entah kesambet setan apa.
“Hmm? Suka sate?” tanyaku. Mulutku yang sibuk mengunyah daging hasil bakaran empuk ini meluangkan waktu menjawab obrolannya.
Dia diam.
Wajahnya kaku.
Entah apa yang ada dibenaknya.
“Bukannya Lo alergi daging?” lanjutku.
Binar matanya menatap lekat ke arahku.
Dia meneguk kasar air liurnya.
"Suka—"
Ananta menjawab, namun suaranya tenggelam oleh bisingnya knalpot motor anak sekolah zaman sekarang.
"Berisik banget sih!" teriakku.
Padahal aku tahu motor itu sudah melaju jauh. Tapi tetap saja mulut ini tak bisa terkontrol kalau emosi.
Ananta menggaruk tengkuknya.
Wajahnya kikuk.
Senyumnya aneh. Terkesan—
TERPAKSA.
"Kenapa?" tanyaku ketus.
Tak biasanya teman yang kadang-kadang jadi musuh ini gelagatnya aneh.
Dia menarik napas dalam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"GUE SUKA SAMA LO!"
Deg!
Sate yang baru saja masuk ke dalam mulutku tertelan tanpa sempat ku kunyah dulu.
"Uhuk!"
Dia menyodorkan gelas yang berisi air putih padaku.
Aku langsung menerimanya. Meminumnya hingga nyaris tak tersisa.
"Maksud lo, apa?"
Hening.
Ia diam beberapa detik.
Hingga...
“Will you marry me?”